Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih berada dalam tekanan setelah Presiden Prabowo Subianto memaparkan arah kebijakan ekonomi dalam Kerangka Ekonomi Makro (KEM) dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (PPKF) RAPBN 2027 serta putusan Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin (bps) menjadi 5,25%.
Pada penutupan perdagangan Rabu (20/5/2026), IHSG turun 52,18 poin atau melemah 0,82% ke level 6.318,50. Pelemahan terjadi di tengah kombinasi sentimen kebijakan fiskal, keputusan moneter, dan tingginya ketidakpastian global.
Data perdagangan menunjukkan IHSG dibuka pada level 6.352,20 dan sempat menguat hingga posisi tertinggi 6.459,56. Namun tekanan jual mendorong indeks turun ke titik terendah 6.215,56 sebelum akhirnya ditutup di zona merah.
Nilai transaksi pasar mencapai Rp22,34 triliun dengan volume perdagangan 38,44 miliar saham dan frekuensi transaksi 2,449 juta kali.
Dari keseluruhan saham yang diperdagangkan, sebanyak 510 saham melemah, 217 saham menguat, dan 232 saham stagnan.
Tekanan tidak hanya terjadi di level indeks, tetapi juga merata di mayoritas sektor. Sektor bahan baku (basic industry) mencatat koreksi terdalam sebesar 4,67%, disusul sektor transportasi turun 4,22%, energi melemah 2,65%, sektor siklikal terkoreksi 2,06%, teknologi turun 1,38%, industri turun 1,27%, serta properti melemah 0,83%.
Sementara sektor keuangan menjadi salah satu penopang dengan kenaikan 1,21%. Infrastruktur juga masih menguat tipis 0,05%.
Baca Juga: IHSG dan Rupiah Diyakini Akan Membaik Jika Presiden Prabowo Lakukan Ini
Baca Juga: Pasar Belum Merespons Positif Arah RAPBN 2027 Prabowo, IHSG Masih Tertekan
Di tengah pelemahan pasar, sejumlah saham masih mencatat penguatan. PT LCK Global Kedaton Tbk (LCKM) memimpin daftar top gainers setelah naik 29,33% ke level 194. Disusul PT Super Energy Tbk (SURE) menguat 24,89%, PT Pacific Strategic Financial Tbk (APIC) naik 24,81%, PT Inter Delta Tbk (INTD) bertambah 24,35%, dan PT Ekamas Fortuna Tbk (MORA) naik 19,75%.
Di sisi lain, PT Reliance Sekuritas Indonesia Tbk (RELI) memimpin daftar top losers setelah terkoreksi 15% ke level 510. Diikuti PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) turun 14,74%, PT BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA) melemah 14,67%, PT Asia Pramulia Tbk (ASPR) turun 14,66%, dan PT Golden Eagle Energy Tbk (SMMT) turun 14,59%.
Tekanan pasar terjadi setelah Presiden Prabowo menyampaikan arah fiskal pemerintah dalam pembahasan awal RAPBN 2027 di DPR RI. Dalam pidatonya, Prabowo menegaskan APBN merupakan instrumen untuk memperkuat fondasi ekonomi nasional.
“APBN adalah wujud dari alat perjuangan kita sebagai bangsa. APBN adalah alat untuk melindungi rakyat. Alat untuk memperkokoh dasar-dasar dan sendi-sendi ekonomi bangsa.”
Di saat bersamaan, Bank Indonesia mengumumkan kenaikan BI-Rate sebesar 50 bps menjadi 5,25% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berlangsung pada 19–20 Mei 2026.
Baca Juga: Tok! BI Rate Tetap 4,75% pada April 2026
Baca Juga: Rupiah Ditutup Menguat ke Rp17.653, Pasar Respons Positif Pidato Prabowo dan Kenaikan Suku Bunga
BI juga menaikkan suku bunga Deposit Facility sebesar 50 bps menjadi 4,25% dan Lending Facility naik 50 bps menjadi 6%.
“Kenaikan ini sebagai langkah untuk memperstabilisasi nilai rupiah dari dampak tingginya gejolak global akibat perang di Timur Tengah,” kata Gubernur BI Perry Warjiyo dalam RDG BI Mei 2026 di Jakarta, Rabu (20/5/2026).





