Wabah virus Ebola di wilayah timur Democratic Republic of the Congo kemungkinan besar sudah dimulai sejak dua bulan lalu. Kondisi darurat ini diproyeksikan masih akan terus berkembang ke depannya.
Informasi mengenai perkembangan virus mematikan tersebut disampaikan resmi oleh World Health Organization (WHO) pada Rabu, 20 Mei 2026. Jenis virus yang merebak kali ini diidentifikasi sebagai virus Ebola varian langka Bundibugyo.
Otoritas terkait secara resmi mengumumkan keberadaan wabah varian langka ini pada Jumat pekan lalu. Kemunculannya memicu kekhawatiran besar di kalangan para ahli medis internasional.
Pemicu kekhawatiran tersebut adalah karena proses penyebaran awal virus sama sekali tidak terdeteksi dalam waktu yang cukup lama. Kondisi penularan yang masif terjadi di tengah kawasan padat penduduk.
Faktor lingkungan tersebut membuat proses pelacakan serta isolasi kontak pasien menjadi sangat sulit dilakukan oleh petugas medis. WHO sendiri mendeteksi adanya kelemahan dalam sistem pengawasan kesehatan di lokasi.
Pihak berwenang menyebut terjadi kesenjangan deteksi kritis selama empat minggu di lapangan. Rentang waktu itu dihitung sejak munculnya gejala pada kasus pertama yang diketahui hingga keluarnya konfirmasi laboratorium resmi atas wabah tersebut.
“Penyelidikan masih berlangsung untuk memastikan kapan dan di mana tepatnya wabah ini dimulai,” kata Anais Legand, pejabat teknis WHO untuk ancaman virus, kepada wartawan di Jenewa. “Melihat skalanya, kami memperkirakan wabah ini mungkin sudah dimulai beberapa bulan lalu.”
Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, memaparkan data sebaran infeksi terkini yang berhasil dihimpun oleh tim medis. Sejauh ini otoritas kesehatan telah mencatatkan adanya sekitar 600 kasus suspek dan 139 kematian suspek.
Sebanyak 51 kasus infeksi di antaranya kini telah berhasil dikonfirmasi melalui serangkaian tes laboratorium di Kongo. Sementara itu, dua kasus infeksi lainnya juga dilaporkan ikut terkonfirmasi di negara tetangga, Uganda.
Tedros mengatakan Komite Darurat WHO telah menggelar pertemuan khusus pada Selasa kemarin. Forum ahli tersebut resmi menetapkan wabah ini sebagai darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional, tetapi belum masuk status darurat pandemi.
Langkah darurat tersebut sebenarnya sudah diambil oleh Tedros pada akhir pekan lalu tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan para ahli. Kebijakan cepat yang jarang dilakukan kepala WHO ini terpaksa diambil karena situasi di lapangan dinilai sudah sangat mendesak.
“WHO menilai risiko epidemi ini tinggi di tingkat nasional dan regional, namun rendah di tingkat global,” ujar Tedros menjelaskan peta risiko penularan. Varian Bundibugyo Ebola yang menyebabkan wabah ini diketahui memiliki tingkat kematian rata-rata sekitar 40 persen.
Baca Juga: Ebola Darurat Global, Indonesia Belum Terdampak tapi Pengawasan Diperketat
Kondisi penanganan menjadi lebih menantang karena varian ini berbeda dengan varian Zaire yang lebih umum ditemukan sebelumnya. Hingga kini belum ada satu pun terapi khusus maupun vaksin yang disetujui secara resmi untuk mengatasi strain Bundibugyo.
Kapasitas pengujian laboratorium untuk mendeteksi varian langka ini juga dilaporkan masih sangat terbatas. Para ahli WHO mengatakan saat ini ada dua kandidat vaksin yang sedang dipertimbangkan untuk segera digunakan di area wabah.





