JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Luar Negeri (Menlu) Sugiono menyatakan bahwa kejadian penangkapan terhadap sembilan WNI oleh Israel bukanlah kasus penculikan atau penyanderaan.
"Saat ini bukan kasus penculikan atau penyanderaan," ujar Sugiono di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (20/5/2026).
Baca juga: Buka Kelas Jurnalis HAM, Pigai: Tanpa Pers, Dunia Ini Gelap
Sugiono memaparkan, yang sebenarnya terjadi adalah para WNI itu menaiki kapal yang membawa bantuan kemanusiaan ke Gaza, Palestina.
Lalu, di tengah perjalanan, kapal tersebut di-intercept oleh tentara Israel.
"Ini kasus kapal yang membawa bantuan kemanusiaan ini di-intercept, karena memang mereka melarang, Israel melarang kapal apapun masuk ke wilayah tersebut untuk kepentingan apapun," imbuhnya.
Baca juga: Anggota DPR Kecam Israel Tangkap Jurnalis: Bentuk Pelanggaran HAM
Sementara itu, Sugiono meyakini para WNI sudah memahami risiko yang akan dihadapi ketika mereka berangkat.
Akan tetapi, Sugiono tetap mengapresiasi niat mereka yang ingin ikut membantu meringankan penderitaan di Gaza.
Sebelumnya, sembilan warga negara Indonesia (WNI) yang terdiri dari empat jurnalis dan lima aktivis ditangkap tentara Israel saat menjalankan misi pelayaran kemanusiaan bersama Global Sumud Flotilla 2.0.
Berdasarkan informasi dari Global Peace Convoy Indonesia, Rabu (20/5/2026) sembilan WNI tersebut telah mengirimkan pesan darurat (SOS) berupa vidio pernyataan mereka ditangkap.
Mereka ditangkap pada waktu yang berbeda. Andi, Rahendro, Andre, Thoudy dan Abeng ditangkap pada Senin (18/5/2026).
Baca juga: Lemhannas Kecam Israel Tangkap Jurnalis Indonesia dalam Misi Kemanusiaan Menuju Gaza
Herman dan Ronggo sebetulnya sempat menyatakan diri lolos dari intersepsi Israel pada saat lima WNI lainnya ditangkap. Dia mengatakan, manuver dari kapten kapal yang ditumpangi berhasil membuat tentara Israel tak mampu mengejar.
Namun beberapa jam kemudian ia ikut ditangkap pada Selasa (19/5/2026) waktu setempat.
Empat jam berselang, Asad dan Hendro turut mengunggah pesan darurat yang menyatakan diri mereka ditangkap oleh tentara Israel.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang