JAKARTA, KOMPAS – Kolaborasi peneliti dari sejumlah lembaga berhasil mendokumentasikan 10 spesies anggrek sebagai rekaman baru di Indonesia. Temuan ini memperluas data sebaran anggrek Nusantara, sekaligus menegaskan pentingnya eksplorasi biodiversitas dan kajian herbarium dalam mendukung konservasi flora Indonesia.
Kesepuluh spesies anggrek yang baru tercatat itu adalah Bulbophyllum nematocaulon, Bulbophyllum sanguineomaculatum, Cleisomeria lanatum, Corybas calopeplos, dan Corybas holttumii dari Sumatra; Acanthophippium bicolor dan Anoectochilus papuanus dari Jawa; Dendrobium teretifolium dari Kepulauan Nusa Tenggara; Bulbophyllum thiurum dari Kalimantan; serta Aerides augustiana dari Sulawesi.
Temuan ini memperluas data sebaran anggrek Nusantara, sekaligus menegaskan pentingnya eksplorasi biodiversitas.
Spesies-spesies anggrek baru itu didokumentasikan oleh Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi (PRBE) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Yayasan Tumbuhan Asli Nusantara (YTAN). Selain itu juga melibatkan Yayasan Konservasi Biota Lahan Basah, Universitas Samudra (Kota Langsa, Aceh), serta Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.
Hasil penelitian tersebut dipublikasikan dalam jurnal Lankesteriana volume 26 (1) tahun 2026 melalui artikel berjudul Ten New Orchid Records from the Indonesian Archipelago. Dalam laporan itu, para peneliti juga memberikan catatan taksonomi, data distribusi, informasi tipe, fenologi, pengamatan ekologis, gambar garis, dan foto untuk setiap spesies.
Peneliti PRBE BRIN Aninda Retno Utami Wibowo mengemukakan, temuan ini menunjukkan masih besarnya potensi biodiversitas atau keanekaragaman spesies anggrek Indonesia yang belum terdokumentasi. Potensi biodiversitas anggrek ini masih perlu dieksplorasi, khususnya yang ada di Kawasan Wallacea dan wilayah timur Indonesia.
“Eksplorasi lapangan dan kajian koleksi herbarium perlu terus diperkuat untuk memperkaya data biodiversitas nasional,” ujar Aninda dalam keterangannya, yang dikutip Kompas, di Jakarta, Kamis (21/5/2026).
Serial Artikel
Spesies Baru Anggrek Diidentifikasi di Raja Ampat, Status Kritis
Dua spesies anggrek baru diidentifikasi di Kepulauan Raja Ampat, Papua Barat Daya, yaitu ”Dendrobium siculiforme” dan ”Bulbophyllum ewamiyiuu”.
Penelitian ini dilakukan melalui eksplorasi lapangan yang dilakukan oleh Yuda Rehata Yudistira dari YTAN dan Yayasan Konservasi Biota Lahan Basah, serta Wendy A Mustaqim dari Departemen Biologi Universitas Samudra pada 2020-2024. Wilayah eksplorasi ini meliputi Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Nusa Tenggara.
Dalam penelitian tersebut, tim peneliti melakukan pengambilan spesimen, dokumentasi morfologi, pengawetan herbarium, serta analisis perbandingan dengan koleksi herbarium nasional dan internasional.
Metode yang dilakukan yakni seluruh bagian tumbuhan, termasuk akar, pseudobulb (umbi semu), batang, daun, bunga, dan buah difoto, dibedah, serta dipersiapkan sebagai spesimen herbarium kering standar. Koleksi basah kemudian dipersiapkan menggunakan larutan Copenhagen (70 persen alkohol, 29 persen air, dan 1 persen gliserol) untuk mempertahankan morfologi bunga.
Spesimen kering dan koleksi basah hasil penelitian ini sebagian besar disimpan di Herbarium Bogoriense di Kawasan Sains dan Teknologi (KST) Soekarno, Cibinong, Bogor. Adapun duplikat spesimen ditempatkan di Herbarium Universitas Andalas (ANDA), dan Herbarium Bandungense di Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung (ITB).
Anoectochilus papuanus yang sebelumnya diketahui tersebar di Papua dan Kepulauan Solomon kini ditemukan di Jawa Timur.
Beberapa spesies yang ditemukan menunjukkan pola persebaran yang menarik secara biogeografi. Anoectochilus papuanus yang sebelumnya diketahui tersebar di Papua dan Kepulauan Solomon kini ditemukan di Jawa Timur. Sementara Dendrobium teretifolium yang sebelumnya diketahui berasal dari Australia tercatat ditemukan di NTT.
Selain memperluas data distribusi spesies, penelitian ini juga memberikan informasi mengenai habitat, ekologi, fenologi, serta karakter morfologi masing-masing spesies anggrek. Beberapa spesies ditemukan tumbuh di hutan pegunungan, rawa dataran rendah, hingga kawasan hutan lumut dengan kondisi lingkungan yang spesifik.
Dua spesies yakni Acanthophippium bicolor dan Anoectochilus papuanus ditemukan di lereng selatan Gunung Semeru, Jawa Timur, dengan elevasi sekitar 800-1.100 meter di atas permukaan laut (mdpl). Anoectochilus papuanus ditemukan pada 2022 dan Aconthophippium bicolor ditemukan tahun 2023.
“Sejak ditemukan sampai pengajuan jurnal ilmiah butuh waktu sekitar satu sampai dua tahun, setelah itu proses publikasi ilmiah hampir dua tahun. Penemuan dua jenis anggrek itu merupakan catatan baru untuk Pulau Jawa dan Indonesia,” kata Koordinator Pengendali Ekosistem Hutan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Toni Artaka.
Dari hasil pengamatan, Anoectochilus papuanus memiliki ciri daun berurat berukuran sekitar 2-5 sentimeter (cm) dengan ketinggian bunga sekitar 12 cm. Sementara Aconthophippium bicolor memiliki tinggi sekitar 60 cm dan panjang umbi semu hingga 20 cm.
Menurut Toni, Badan Konservasi Dunia (IUCN) mencatat, bahwa Aconthophippium bicolor dan Anoectochilus papuanus masuk kategori not evaluated atau belum dievaluasi. Identifikasi yang telah dilakukan juga menyatakan kedua spesies anggrek baru itu tergolong cukup langka karena relatif sulit ditemukan di habitat alaminya.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar penting bagi upaya konservasi flora Indonesia, terutama di kawasan yang masih kurang tereksplorasi. Dokumentasi spesies yang akurat diperlukan untuk mendukung perlindungan habitat serta penguatan kebijakan konservasi berbasis data ilmiah.





