jpnn.com, JAKARTA - Beredar informasi rumah peninggalan Pahlawan Nasional Indonesia Prof. Dr. Sardjito di Jalan Cik Di Tirto, Terban, Yogyakarta, dijual oleh pihak keluarga.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengatakan bahwa pihaknya akan memastikan status bangunan hingga informasi lainnya.
BACA JUGA: Pemerintah Beri Tunjangan Rp 50 Juta Per Tahun Kepada Ahli Waris Pahlawan Nasional
“Karena itu milik pribadi, tentu kami tidak mempunyai kewenangan, kecuali itu cagar budaya. Kami berharap mungkin ada yang tertarik untuk memilikinya sehingga menjadikan itu misalnya ruang publik, seperti museum dan semacam itu. Coba nanti akan kami lihat,” kata Fadli di Jakarta, Rabu.
Fadli mengakui bahwa pihaknya belum menerima informasi secara lengkap terkait kabar tersebut.
BACA JUGA: Daftar Lengkap 10 Pahlawan Nasional 2025, Keluarga Dapat Tunjangan Rp 50 Juta per Tahun
“Nanti akan kami cek dulu ya, kami belum dapat informasi yang utuh,” katanya.
Sebelumnya, dikabarkan bahwa pihak keluarga pahlawan nasional sekaligus rektor pertama Universitas Gadjah Mada Prof. Dr. Sardjito menjual rumah peninggalan yang berada di Jalan Cik Di Tirto, Terban, Yogyakarta.
BACA JUGA: Soeharto & Gus Dur Jadi Pahlawan Nasional, MUI Puji Pemerintah
Adapun rumah dengan arsitektur jengki itu diketahui berlokasi tidak jauh dari kampus UGM serta memiliki koleksi yang bersejarah milik sang pahlawan nasional.
Diketahui selain mebel atau furnitur, juga tersimpan buku-buku hingga koleksi keris yang tersimpan rapih di dalam rumah yang memiliki luas tanah 1.206 meter persegi dengan luas bangunan 800 meter persegi.
Kemudian pada bagian belakang rumah juga terdapat kantor yang merupakan kantor obat tradisional temuan Sardjito yakni Calcusol.
Sardjito merupakan pria kelahiran di Desa Purwodadi Kabupaten Magetan, Madiun Jawa Timur, 13 Agustus 1891, itu merupakan salah satu pendiri sekaligus rektor pertama Universitas Gadjah Mada pada1950-1961.
Sardjito yang namanya diabadikan sebagai nama Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) di Yogyakarta berjasa bagi bangsa Indonesia lewat kiprahnya dalam peperangan dengan membantu pengobatan darurat bagi para gerilyawan pada masa penjajahan.
Sardjito juga merupakan salah satu tokoh pendiri Palang Merah Indonesia (PMI) dan tokoh farmasi. Dia adalah tokoh pembuat obat tradisional dan modern.
Dia mendapat amanat pemerintah Indonesia untuk mengambil alih Institut Pasteur yang merupakan bentukan Belanda dan menjadi Kepala Palang Merah Indonesia (PMI) Bandung.
Didirikan pada 9 September 1945, PMI itu merupakan yang pertama didirikan di Indonesia. (antara/jpnn)
Yuk, Simak Juga Video ini!
BACA ARTIKEL LAINNYA... Apa Motif Pelaku Pembunuhan Sadis di Pekanbaru? Wanita Terlibat
Redaktur & Reporter : Rah Mahatma Sakti




