BEKASI, KOMPAS.com — Deretan truk sampah milik Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta belakangan kerap mengular di sepanjang Jalan Siliwangi menuju Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Kota Bekasi.
Kondisi tersebut tak hanya memicu kemacetan panjang, tetapi juga mengganggu aktivitas warga yang tinggal maupun melintas di kawasan tersebut.
Baca juga: Viral Antrean Truk Sampah Mengular di TPST Bantargebang, Ini Penjelasan DLH DKI
Bau menyengat dan jalan licinDi sepanjang antrean kendaraan, aroma tidak sedap tercium cukup kuat, terutama di titik-titik tempat truk berhenti dalam waktu lama. Dari bak truk yang dipenuhi muatan sampah, air lindi tampak menetes hingga mengalir ke permukaan jalan.
Cairan tersebut meninggalkan jejak basah di aspal dan membuat sebagian ruas jalan menjadi licin.
Kondisi itu dikeluhkan warga maupun pengguna jalan karena dinilai membahayakan pengendara, terutama sepeda motor.
Antrean panjang kendaraan pengangkut sampah juga membuat arus lalu lintas di Jalan Siliwangi kerap tersendat, khususnya pada jam-jam sibuk.
Baca juga: Antrean Truk Sampah di TPST Bantargebang Capai 4 Jam Usai Longsor
Operasional berubah usai longsorKondisi tersebut terjadi setelah longsor melanda salah satu zona aktif TPST Bantargebang pada Maret 2026 lalu.
Sejak peristiwa itu, operasional kawasan pengolahan sampah terbesar milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tersebut mengalami sejumlah penyesuaian.
Kini, kendaraan pengangkut sampah tidak lagi dapat langsung masuk dan membuang muatan seperti sebelumnya. Pengaturan ritasi, pembatasan titik buang, hingga pemeriksaan jalur operasional dilakukan lebih ketat demi alasan keselamatan.
Sejumlah sopir truk mengaku waktu tunggu masuk ke area TPST kini menjadi lebih lama dibanding sebelumnya.
Bahkan antrean kendaraan kerap meluber hingga ke bahu jalan menuju pintu masuk kawasan Bantargebang.
Baca juga: Kondisi Terkini TPST Bantargebang Usai Longsor, Operasional Dibatasi
Pembatasan aktivitasMenanggapi kondisi tersebut, Kepala DLH DKI Jakarta Dudi Gardesi mengatakan antrean kendaraan terjadi karena operasional TPST Bantargebang saat ini masih dalam tahap penataan dan pemulihan usai longsor.
Menurut Dudi, sejumlah pembatasan operasional diterapkan dengan mengedepankan aspek keselamatan petugas dan pengemudi di lapangan.
“Saat ini kami mengedepankan prinsip safety first. Salah satunya melalui pembatasan kuota ritasi sampah yang masuk sekitar 700 rit per hari,” ujar Dudi dalam keterangan resminya, Rabu (20/5/2026).
Kuota tersebut kemudian dibagi ke dalam tiga shift operasional menyesuaikan kapasitas area parkir dan titik buang yang dinilai aman.





