JAKARTA, KOMPAS - Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan pada Kamis (21/5/2026) kembali mengalami pelemahan dalam di tengah positifnya pergerakan mayoritas bursa global. Analis menilai, pelemahan ini dipicu faktor internal berupa kebijakan ekonomi terakhir yang memberi sentimen negatif bagi pasar.
Setelah dibuka di level 6.366 poin, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tidak bertahan lama di zona positif dan justru terjerembab ke level sekitar 6.100. Pada penutupan perdagangan sesi pertama, IHSG berhenti di level 6.144 atau melemah 2,7 persen atau 28 persen sejak awal tahun. Posisi ini menjadikan IHSG di titik terendah sepanjang 2026.
Harga sebanyak 601 saham melemah dan 118 saham menguat. Indeks saham likuid LQ45 melemah 1,66 persen; Indeks yang berisi saham BUMN atau IDXBUMN20 melemah 0,66 persen; dan Indeks yang berisi saham perbankan atau INFOBANK15 juga melemah 0,27 persen. Secara sektoral, seluruh saham mengalami pelemahan.
Pelemahan IHSG tidak sejalan dengan tren global. Sampai Kamis siang, mayoritas indeks saham global utama tumbuh positif. Indeks Dow Jones AS naik 1,13 persen, indeks Nikkei Jepang naik 3,52 persen, indeks ASX200 Australia naik 1,13 persen, indeks FTSE100 Inggris naik 0,99 persen, indeks Shanghai tumbuh 0,5 persen.
Head of Research Samuel Sekuritas Prasetya Gunadi, kepada Kompas, hari ini mengatakan, tekanan datang dari berbagai indikator pelemahan ekonomi dalam negeri.
Sentimen ini datang dari pelemahan rupiah sekitar 8 persen sejak awal tahun, turunnya adangan devisa turun lebih dari 10 miliar dolar AS, terbaru ketidakpastian arah reformasi ekspor komoditas melalui Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI). DSI akan menjadi badan eksportir tunggal komoditas SDA strategis di bawah Danantara.
"Sektor perbankan dan komoditas menjadi yang paling tertekan akibat sensitivitas suku bunga dan reformasi ekspor via DSI," jelasnya.
Keputusan Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin dari 4,75 persen menjadi 5,25 persen dinilai sebagai langkah tepat dari pihak pemerintah. Meski demikian, kenaikan suku bunga memberikan tantangan terhadap pertumbuhan ekonomi.
"Perbankan akan mengalami tekanan NIM (Net Interest Margin) yang berlanjut karena kenaikan COF (cost of fund/biaya dana) dan loan yield yang cenderung masih dalam tren penurunan," tuturnya.
Selain itu, sentimen negatif di pasar saham juga masih datang dari efek revisi proyeksi peringkat utang Indonesia oleh Moody's, kebijakan MSCI, serta konflik AS-Iran. Kondisi ini dinilai masih akan diikuti aksi jual asing di pasar saham yang sejauh ini sudah mencatatkan penjualan bersih mencapai Rp 40,78 triliun.
Sementara itu, komitmen fiskal pemerintahan Presiden Prabowo lewat KEM-PPKF 2027 yang disampaikan Rabu (20/5/2026) dinilai Prasetya menjadi penopang IHSG. Sesuai paparan Prabowo, APBN 2027 menargetkan defisit di rentang 1,8–2,4 persen dari PDB dan pertumbuhan ekonomi di kisaran 5,8–6,5 persen.
"Dalam waktu dekat IHSG masih akan mengalami tekanan karena pemulihan tidak linier. Selain itu, IHSG butuh bukti kredibilitas kebijakan berupa disiplin fiskal, stabilisasi rupiah, dan pemulihan arus dana asing," tutur Prasetya.
BRI Danareksa dalam laporannya menilai, suku bunga BI yang naik menjadi 5,25 persen memicu kekhawatiran likuiditas dan kenaikan cost of capital. Sementara itu, Bank Sentral AS dalam risalah FOMC terkini menunjukkan masih cenderung hawkish atau menahan kenaikan suku bunga akibat risiko inflasi dari konflik Iran.
"Sementara itu, rupiah yang masih berada di kisaran Rp 17.600 dolar AS turut meningkatkan kekhawatiran capital outflow (dana asing keluar)," kata Tim BRI Danareksa Sekuritas.
Selain itu, saham grup Prajogo Pangestu seperti BREN, TPIA, dan BRPT juga menjadi pemberat utama indeks. Hal ini karena faktor kebijakan MSCI yang akan mengeluarkan mereka dari indeks karena tidak memenuhi ketentuan free float atau kepemilikan saham publik yang kini diperketat otoritas bursa Indonesia.
BRI Danareksa pun memproyeksikan IHSG masih dalam dominasi tren penurunan. IHSG tercatat dapat bergerak ke batas bawah atau support di 6.220 dan 5.900.
Economist Asia Pacific S&P Global Ratings, Louis Kuijs, dalam rilis seminar S&P Global dan Pefindo, yang diterima hari ini, menyampaikan bahwa perubahan kebijakan ekonomi baru Indonesia mempengaruhi arus keluar modal investor asing dan depresiasi rupiah.
”Kami berpendapat bahwa bank sentral Indonesia mungkin perlu memperketat kebijakan moneter sebagai respons terhadap tekanan harga pangan, langkah-langkah pemerintah untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, dan pelemahan mata uang,” ujar Louis.
Gangguan pasar energi yang berkepanjangan juga dinilai menjadi risiko utama, terutama bagi pasar di Asia Selatan dan Asia Tenggara.
Louis mengatakan, S&P memperkirakan pertumbuhan Indonesia akan tetap solid pada 2026, di tengah langkah-langkah kebijakan untuk mendukung pertumbuhan dan menekan dampak kenaikan harga minyak terhadap harga bahan bakar domestik, serta perubahan kebijakan tarif AS.
”Namun, permintaan yang lebih rendah dari mitra dagang besar seperti China, AS, dan India merupakan risiko utama,” kata Louis.
Menurutnya, konflik Timur Tengah mengakibatkan tekanan harga energi yang ikut menekan pertumbuhan ekonomi global. Lonjakan harga energi juga telah menyebabkan pergeseran sikap bank sentral. “Kami sekarang memperkirakan Federal Reserve AS (The Fed) akan mempertahankan suku bunga kebijakannya pada tahun 2026,” ungkap Louis.




