Di bawah lampu sorot panggung presentasi yang megah, sosok itu berdiri dengan dagu tegak. Ia tidak mengenakan setelan jas kaku. Alih-alih, kepalanya dihiasi tanjak, ikat kepala tradisional khas Palembang yang melambangkan kewibawaan dan kehormatan. Namanya Suyanto, perwakilan Kelompok Sumpal Palawija Makmur dari pelosok Desa Tampang Baru, Kecamatan Bayung Lincir, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan.
Bagi mereka yang mengenal Medco Energi hanya lewat sumur gas dan angka produksi migas, kehadiran Suyanto menunjukkan sisi lain industri energi: bagaimana energi dari perut bumi dapat menggerakkan pertumbuhan ekonomi masyarakat hingga ke pelosok desa.
Saat ia mulai berbicara, suara yang keluar bukanlah keluhan petani desa, melainkan paparan data penuh percaya diri—sebuah refleksi keberhasilan program Local Business Development (LBD) Medco E&P Grissik Ltd.
“Dulu, petani dianggap kotor, hasilnya kecil, dan sering dipandang sebelah mata,” kenang Suyanto di depan para audiens dalam sesi diskusi Indonesia Petroleum Association Convention & Exhibition (IPA Convex) 2026 di Tangerang, Rabu (20/5/2026). “Tapi sekarang, kami bicara tentang tonase. Kami bicara tentang manajemen bisnis.”
Melampaui Batas Ekstraksi
Suyanto adalah bukti hidup bahwa di balik raksasa energi yang membukukan produksi migas bersih 170 mboepd pada Kuartal I-2026, terdapat denyut ekonomi masyarakat yang ikut terakselerasi.
Saat Medco Energi memperkuat dominasi gasnya hingga 72% di portofolio hulu, perusahaan ini secara paralel juga menyalurkan “energi pertumbuhan” bagi masyarakat di sekitar wilayah operasinya.
Transformasi Suyanto dan kelompok taninya bukan terjadi dalam semalam. Kelompok Sumpal Palawija Makmur bahkan pernah mengalami kerugian akibat hasil panen yang belum optimal. Keterbatasan modal, rendahnya produktivitas, minimnya pemahaman teknis budidaya, hingga sempitnya akses pasar sempat membuat mereka terpuruk.
Namun sejak 2023, Medco E&P Grissik Ltd., sebagai Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) di Blok Corridor, mulai menjalankan program pendampingan bertahap. Bersama Plantari, perusahaan mendampingi delapan petani anggota kelompok tersebut melalui distribusi benih dan pupuk, pengelolaan lahan, pemilihan varietas unggul, pengendalian hama ramah lingkungan, hingga memperkuat akses kemitraan pemasaran.
Baca Juga: Medco Energi 'Terbang Tinggi', Produksi dan Cadangan Meledak Bersamaan
Baca Juga: Medco Energi Cetak Produksi Migas 170 Mboepd di Kuartal I 2026
Sudewo, Manager Field Relations & Community Enhancement Corridor Asset Medco E&P Grissik Ltd., yang turut mendampingi Suyanto di panggung, menjelaskan bahwa transformasi tersebut merupakan bagian dari strategi investasi sosial perusahaan yang dirancang secara presisi.
“Kami fokus pada ekonomi karena ada kesenjangan nyata di lapangan. Ketahanan pangan bukan sekadar jargon, tetapi upaya agar masyarakat mampu mandiri. Kami membangun kolaborasi dengan pemerintah daerah untuk menemukan mutiara-mutiara seperti Pak Suyanto ini,” ujar Sudewo.
Menurutnya, Medco Energi tidak hanya mengejar EBITDA yang melonjak lima kali lipat menjadi US$1,26 miliar dalam satu dekade terakhir, tetapi juga memastikan standar ESG (Environmental, Social, and Governance) tetap berada di level AAA.
“Melalui Program LBD, Medco Energi terus menghadirkan pemberdayaan yang tidak hanya bersifat bantuan, tetapi juga membangun kapasitas masyarakat agar mampu mengelola usaha mandiri dan berkelanjutan. Kami melihat kelompok ini memiliki potensi besar untuk terus berkembang dan menjadi contoh penguatan ekonomi lokal di sekitar area operasi,” katanya.
Angka yang Berbicara
Di atas panggung, Suyanto dengan fasih membedah angka-angka keberhasilannya. Jika Medco berbicara tentang kenaikan kepemilikan Corridor PSC menjadi 70 persen, Suyanto berbicara tentang kenaikan produktivitas lahannya yang tak kalah fantastis.
“Berkat pelatihan pupuk organik dan bantuan teknis dari Medco, hasil semangka kami melonjak. Dari awalnya 11 ton, naik menjadi 13 ton, dan tahun terakhir kami menembus 23 ton,” papar Suyanto.
Bagi sebagian orang, angka 23 ton mungkin sekadar statistik. Namun bagi kelompok tani kecil di Musi Banyuasin itu, angka tersebut adalah simbol kebangkitan.
Jika pada 2022 mereka masih merugi, setelah mendapatkan pendampingan dari MedcoEnergi, pendapatan kelompok mulai meningkat menjadi sekitar Rp4 juta pada 2023, lalu Rp15 juta pada 2024, hingga melonjak menjadi sekitar Rp90 juta pada 2025.
Hasil panen mereka kini tidak lagi berhenti di pasar lokal desa. Semangka produksi Kelompok Sumpal Palawija Makmur telah merambah pasar Jambi hingga Tangerang. Bahkan, mereka naik kelas menjadi pemasok untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG), dengan kontribusi sekitar 10 hingga 15 persen kebutuhan lokal.
“Sebelumnya kami pernah terpuruk karena hasil panen belum optimal. Setelah pendampingan dari MedcoEnergi, kami lebih memahami budidaya yang baik, hasil panen meningkat, dan pasar semakin luas. Program ini membantu kami bangkit dan percaya diri untuk mengembangkan usaha,” ujar Suyanto.
Filosofi Tanjak dan Kemandirian
Tanjak yang melingkar di kepala Suyanto sore itu bukan sekadar aksesori budaya. Ia menjadi simbol martabat baru petani di sekitar wilayah operasi Medco Energi.
Lewat program LBD yang telah menjangkau sekitar 20.000 penerima manfaat di seluruh Indonesia, Medco Energi mencoba mengubah mentalitas “petani sekadar menanam” menjadi “petani pengusaha”.
Sudewo menegaskan, keberhasilan Kelompok Sumpal Palawija Makmur menunjukkan bahwa program pengembangan masyarakat yang dijalankan secara konsisten dapat menciptakan dampak ekonomi nyata.
“Sebagai perusahaan yang beroperasi secara bertanggung jawab, Medco Energi berkomitmen terus mendukung program pengembangan masyarakat yang tepat sasaran. Melalui penguatan usaha lokal seperti ini, kami berharap masyarakat dapat semakin mandiri, berdaya saing, dan mampu menciptakan manfaat ekonomi yang berkelanjutan,” ujarnya.
Suyanto menutup paparannya dengan sebuah pesan sederhana, tetapi kuat. Baginya, bantuan bibit, obat-obatan, dan mulsa hanyalah alat. Inti dari segalanya adalah rasa percaya diri.
“Ilmu yang saya dapat dari Medco sudah saya tularkan kepada tetangga dan warga lain. Murid-murid saya bahkan ada yang hasil panennya lebih baik dari gurunya,” guraunya, disambut tepuk tangan riuh.
Baca Juga: Produksi 110 Juta Barel Minyak, Medco Energi Tandai Tonggak Sejarah 20 Tahun di Oman
Di akhir sesi, Suyanto tetap berdiri gagah. Tanjaknya masih terpasang rapi, menjadi simbol bahwa di bawah pengelolaan hidrokarbon yang disiplin, Medco Energi juga tengah menanam benih kemandirian yang kini mulai berbuah manis di bumi Musi Banyuasin.
“Harapan kami, program ini terus berlanjut. Terima kasih, Medco. Semoga makin jaya,” pungkasnya.
Dari panggung IPA Convex 2026, Suyanto menunjukkan bahwa energi bukan hanya soal gas yang mengalir melalui pipa-pipa raksasa. Di tangan masyarakat yang diberdayakan, energi juga menjelma menjadi keberanian untuk bangkit, memperluas pasar, dan menumbuhkan harapan baru bagi ekonomi desa.

:strip_icc()/kly-media-production/medias/5131923/original/060273100_1739431722-Ilustrasi_-_Witan_Sulaeman_di_Persija_Jakarta_dan_Timnas_Indonesia_copy.jpg)



