SEMARANG, KOMPAS — Ribuan petani tebu di Kabupaten Blora, Jawa Tengah resah karena hasil panen mereka terancam kembali tak terserap pada musim giling 2026 akibat tak kunjung beroperasinya PT Gendhis Multi Manis, satu-satunya pabrik gula di Blora. Padahal, para petani mengaku sudah merugi hingga Rp 500 miliar akibat panennya tidak terserap pada musim giling 2025.
Para petani tebu di Blora mengaku tidak bisa menjual hasil panennya secara optimal sejak musim giling 2025. Hal itu terjadi karena PT Gendhis Multi Manis (GMM) tidak bisa beroperasi lantaran rusaknya dua buah boiler atau ketel uap milik mereka.
PT GMM yang mayoritas sahamnya dimiliki Perum Bulog itu merupakan satu-satunya pabrik gula di Blora. Pabrik gula tersebut yang selama ini menyerap hasil panen para petani tebu di wilayah itu.
Ketua Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Blora, Sunoto mengatakan, petani tebu di Blora berjumlah sekitar 8.000 orang. Tiap-tiap petani itu, kata Sunoto, harus menghidupi dua hingga tiga orang keluarganya. Dengan demikian, Sunoto memperkirakan gangguan operasi PT GMM itu berdampak pada sekitar 16.000 - 24.000 jiwa.
"Dari 8.000 hektar tanaman tebu, yang siap panen ada 5.000 hektar. Per hektar itu produksinya sekitar 70 ton, jadi totalnya sekitar 350.000 ton. Itu kalau diuangkan kira-kira kerugian yang dirasakan petani sampai Rp 500 miliar," kata Sunoto saat dihubungi, Kamis (21/5/2026).
Setelah menderita kerugian tersebut, para petani mencoba beraudiensi dengan berbagai pihak, mulai dari pemerintah kabupaten, Perum Bulog, Kantor Staf Wakil Presiden, hingga Kantor Staf Presiden. Namun, Sunoto menyebut, petani belum mendapatkan hasil yang memuaskan.
Pekan lalu, APTRI Blora bersurat ke Dewan Perwakilan Rakyat untuk meminta audiensi. Namun, hingga kini, mereka belum mendapatkan jawaban.
Sembari menunggu solusi, APTRI mengaku tidak diam. Mereka berupaya menyalurkan hasil panen petani ke pabrik gula di wilayah lain.
Sejauh ini, pihak APTRI mengaku sudah menghubungi sejumlah pabrik gula, seperti Pabrik Gula Trangkil dan Pabrik Gula Pakis di Kabupaten Pati, Pabrik Gula Rendeng di Kudus, Pabrik Gula Sedhono di Ngawi (Jawa Timur), hingga Pabrik Gula Kebun Tebu Mas di Lamongan (Jawa Timur). Dari kegiatan tersebut, APTRI akhirnya bisa membantu para petani menyalurkan hasil panennya ke Pabrik Gula Trangkil dan Pakis.
Kendati demikian, penyaluran tebu ke luar daerah dinilai Sunoto mengurangi keuntungan petani. Sebab, petani masih harus menanggung ongkos kirim ke luar daerah yang disebutnya tidak murah.
"Kalau PT GMM bisa memproses, normalnya per hektar itu petani dapat keuntungan bersih Rp 45 juta per hektar. Tapi, kalau disalurkan ke tempat lain, yang didapat itu maksimal Rp 30 juta, itu pun masih harus dipotong biaya angkut, paling-paling yang masuk ke petani cuma Rp 21 juta," ujarnya.
Sunoto berharap, pemerintah bisa segera memberikan solusi supaya hasil panen petani tebu di Blora tahun ini bisa terserap optimal. Hal itu disebut Sunoto bisa dilakukan dengan segera memperbaiki kerusakan ketel uap di PT GMM supaya bisa kembali beroperasi. Selain itu, APTRI juga berharap, Perum Bulog bisa merealisasikan janjinya untuk menyerap hasil panen petani tebu di Blora pada musim giling 2026 yang kini sudah dimulai.
Sementara itu, Direktur Operasional PT GMM, Krisna Murtiyanto mengatakan, di PT GMM ada dua ketep uap, yaitu ketel uap tenaga batubara dan ketel uap tenaga ampas tebu. Pada Mei 2025, PT GMM memulai giling dengan ketal uap tenaga batubara.
Setelah mendapatkan ampas tebu, dua minggu selanjutnya giling dilakukan dengan ketel uap tenaga ampas tebu. Namun, ketel uap ampas tebu itu tidak bisa hidup. Ketika dicek, ternyata ada korosi pada ketel uap tenaga ampas tebu tersebut.
"Usai diperbaiki selama 12 hari, boiler ampas tebu bisa kembali hidup, jadi bisa giling dengan boiler ampas tebu maupun batubara. Dua minggu kemudian, boiler ampas tebu kembali bermasalah, perpipaannya bocor. Di tengah perbaikan itu, tiba-tiba boiler tenaga batubara ikut-ikutan rusak, jadi di Juni 2025 itu dua-duanya mati," ujar Krisna.
Meski sempat diperbaiki dan bisa kembali digunakan, pada September, dua ketel uap itu kembali bermasalah. Perbaikan yang dilakukan memerlukan biaya cukup besar. Anggaran yang dimiliki PT GMM disebut Krisna tidak cukup untuk membiayai perbaikan sehingga pihaknya meminta bantuan kepada Perum Bulog selaku pemegang saham mayoritas.
Dalam perjalanannya, Perum Bulog disebut mengalami kendala administrasi. Bantuan perbaikan yang awalnya ditargetkan turun pada Maret 2026 ternyata tidak cair. Menurut Krisna, perlu ada kajian dari konsultan independen terlebih dahulu sebelum bantuan perbaikan dilakukan.
"Setahu kami, Perum Bulog saat ini sedang mencari konsultan independen untuk melakukan pengkajian guna melengkapi syarat administrasi melapor ke Badan Pengaturan Badan Usaha Milik Negara (BP BUMN). Jadi kendalanya di situ. Selama kajian belum selesai dilakukan, perbaikan juga belum bisa dilakukan," kata Krisna.
Nantinya setelah kajian dilakukan, perbaikan disebut Krisna bakal dilakukan. Waktu perbaikan tersebut kira-kira 4-5 bulan. Oleh karena itu, PT GMM mengumumkan, kemungkinan besar pihaknya belum bisa melakukan giling di tahun 2026.
Kepala Dinas Pangan, Pertanian Peternakan, dan Perikanan (DP4) Kabupaten Blora, Ngaliman meminta para petani tebu untuk tidak khawatir. Menurut dia, sejumlah pabrik gula yang ada di sekitar Blora pasti membutuhkan suplai tebu dan siap menampung hasil panen para petani tebu karena mereka sudah memulai musim giling.
"Kalau memang sudah siap panen, segera panen saja kemudian dijual ke pabrik gula lain di sekitar Blora karena mereka juga membutuhkan (tebu). Sebenarnya, para petani tebu di Blora kan sudah terbiasa juga menjual ke luar daerah," katanya.
Terkait ongkos pengiriman yang dikhawatirkan mengurangi keuntungan petani, Ngaliman menyebut, hal itu sudah dipikirkan pemerintah. Menurutnya, harga tetes tebu sebesar Rp 700 per kilogram yang ditentukan pemerintah sudah memperhitungkan biaya transportasi yang harus dikeluarkan petani dalam menjual hasil panennya.
"Kami akan mendampingi dan memastikan pabrik gula sekitar Blora siap menampung tebu dari petani Blora dengan harga yang baik. Kami juga menyampaikan kepada petani tebu Blora untuk tidak panik mendengar informasi yang kurang benar. Kami akan selalu berusaha untuk mendampingi petani agar tebu petani Blora bisa terjual dengan baik," kata Ngaliman.





