Upaya internasional untuk menembus blokade ilegal Zionis Israel di Gaza melalui jalur darat menghadapi kendala serius. Delegasi Indonesia yang tergabung dalam misi jalur darat Global Sumud dilaporkan masih tertahan di wilayah Libya setelah konvoi kemanusiaan mereka dihentikan sementara oleh otoritas setempat.
Berdasarkan laporan lembaga kemanusiaan Dompet Dhuafa, konvoi darat Global Sumud Land Convoy (GSLC) terhenti sejak Senin, 19 Mei 2025, akibat situasi keamanan di jalur perlintasan yang dinilai belum kondusif.
Hingga siaran pers pada 20 Mei 2026, GSLC menyatakan bahwa komunikasi dengan otoritas Libya bagian timur dan Bulan Sabit Merah Libya terputus secara tiba-tiba di perlintasan Sirte. Padahal, sebelumnya telah tercapai kesepakatan awal terkait jaminan kelancaran perjalanan konvoi menuju perbatasan Gaza, Palestina.
Rombongan jalur darat ini terdiri dari berbagai latar belakang profesional, mulai dari dokter, perawat, guru, juru masak, hingga insinyur. Para relawan ini membawa bantuan dan dukungan solidaritas bagi masyarakat Gaza, Palestina.
Baca juga: Sembilan WNI Relawan GSF Telah Bebas, Akan Dipulangkan Lewat Turki
Salah seorang relawan GSLC, Zayyin Ahmad menyatakan bahwa mereka telah dipaksa berhenti selama tiga hari di perbatasan tanpa kepastian untuk melanjutkan perjalanan. Zayyin menjelaskan bahwa banyak sekali rintangan yang dihadapi dalam upaya menembus blokade.
"Saya ingin mengabarkan kepada seluruh dunia bahwasanya blokade Gaza semakin meluas. Banyak pihak yang menghalangi adanya bantuan masuk ke Gaza," ujar Zayyin.
Zayyin meminta pemerintah Indonesia untuk mengambil langkah aktif melalui jalur diplomatik. Mereka mendesak adanya tindakan nyata untuk melindungi para relawan, terutama terkait adanya laporan rekan-rekan mereka yang ditangkap dan diculik oleh pihak Israel dalam rangkaian misi kemanusiaan ini.
"Karena sesungguhnya penangkapan dan penculikan terhadap upaya-upaya pemberian bantuan kemanusiaan itu adalah tindakan yang melanggar hukum internasional," jelasnya.
Masyarakat Indonesia juga diajak untuk terus menyuarakan isu ini agar perhatian dunia terhadap krisis di Palestina tidak teralihkan. "Jangan sampai Gaza dan Palestina terlupakan. Terus suarakan perjuangan ini," tutup Zayyin.




