Satuan Tugas Penegakan Hukum terhadap Kejahatan Penyelundupan (Satgas Gakkum Lundup) Dittipideksus Bareskrim Polri memusnahkan 20,9 ton bawang yang diimpor secara ilegal. Total bawang yang dimusnahkan itu senilai Rp 676 juta.
"Total keseluruhan barang bukti yang dimusnahkan sebanyak 20.932 kg / 20,9 ton bawang dengan nilai taksiran mencapai Rp 676.729.500," ujar Dirtipideksus Bareskrim Polri Brigjen Ade Safri Simanjuntak dalam keterangannya, Jumat (22/5/2026).
Peristiwa ini terungkap usai Bareskrim mendapatkan informasi adanya peredaran bawang impor ilegal di Indonesia yang diduga berasal dari Malaysia. Setelah diselidiki, Satgas berhasil menemukan dan mengamankan komoditas bawang impor ilegal pada dua gudang, yang diduga masuk ke wilayah Indonesia melalui jalur tikus (via darat) tanpa dokumen resmi karantina, dokumen impor, maupun dokumen perdagangan yang sah.
"Berdasarkan hasil pendalaman awal, pelaku diduga telah menjalankan aktivitas distribusi bawang impor ilegal tersebut selama kurang lebih 1 (satu) tahun. Dari informasi sementara, setiap minggu kedua pelaku diduga melakukan pemesanan sekitar 8 ton bawang. Dengan demikian, total penjualan dalam kurun waktu tersebut diperkirakan dapat mencapai sekitar 832 ton per tahun, dengan potensi nilai perputaran usaha mencapai puluhan miliar rupiah, yaitu sekitar Rp 24,96 miliar," terang Ade.
Ada 4 jenis bawang yang dimusnahkan, yakni bawang putih (9.680 kg), bawang merah (7.340 kg), bawang bombai (2.193 kg), dan bawang beri (1.719 kg).
"Barang bukti tersebut merupakan komoditas hortikultura yang bersifat mudah rusak, sehingga apabila tidak segera dilakukan tindakan pemusnahan, dikhawatirkan akan menimbulkan dampak kesehatan dan risiko keamanan hayati apabila kembali beredar di masyarakat," tutur Ade.
Bawang ilegal ini dikirim dari Malaysia. Namun, bawang-bawang yang dimusnahkan itu diduga bukan hanya dari Malaysia.
"Komoditas lintas negara tersebut diduga masuk ke wilayah Indonesia tanpa prosedur resmi, melalui jalur tikus perbatasan darat yang berseberangan langsung dengan Malaysia," jelasnya.
(isa/yld)





