Jakarta, CNBC Indonesia - Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Anggito Abimanyu membuka acara Jogjakarta Financial Festival di Jogja Expo Centre (JEC) pada hari ini, Jumat (21/5/2026). Dia menekankan edukasi keuangan tidak boleh bersifat eksklusif dan harus dilakukan secara masif.
Apalagi, menurut Anggito saat ini terjadi fenomena yang cukup mengkhawatirkan, dimana anak-anak muda mulai membuka akun investasi, namun belum mampu menyusun perencanaan keuangan. Kemudian masyarakat semakin aktif bertransaksi digital tetapi banyak rekening yang masih pasif.
Selain itu, masyarakat juga masih banyak yang terjebak pinjaman online dan judi online yang sarat teknologi.
"Kita tidak boleh membiarkan teknologi tumbuh lebih cepat daripada etika aliterasi dan tanggung jawab finansial terhadap bangsa. Namun kita harus tetap optimistis," ungkap Anggito.
Dia juga mengingatkan, perkembangan teknologi juga membuat kejahatan keuangan menjamur, dan investasi semu yang memanfaatkan rendahnya pemahaman masyarakat juga semakin banyak. Anggito menekankan, di sinilah pentingnya literasi secara menyeluruh, terutama dengan besarnya jumlah usia produktif.
"Indonesia memiliki 190 juta penduduk usia produktif. Ini adalah bonus demografi terbesar dalam sejarah Republik Indonesia. Generasi muda Indonesia adalah generasi paling digital, paling terkoneksi dan paling kreatif yang pernah kita miliki," kata dia.
Anggito menegaskan, generasi muda bukan hanya konsumen dari teknologi keuangan, melainkan harus menjadi investor produktif, entrepreneur baru hingga pencipta inovasi.
"Pertumbuhan investasi ritel Indonesia terus meningkat setiap tahun dengan dominasi usia muda, mahasiswa dan pelajar yang semakin besar. Ini sinyal positif. Tetapi optimisme tanpa literasi dapat berubah menjadi spekulasi," ujar Anggito.
(rah/rah) Add as a preferred
source on Google




