Presiden Rusia Vladimir Putin pada Rabu (20 Mei) mengakhiri kunjungan dua harinya ke Beijing dan kembali ke Moskow setelah bertemu dengan pemimpin PKT, Xi Jinping. Meskipun kedua pihak saling menyebut sebagai “teman lama”, mereka tidak mencapai hasil substantif dalam isu-isu strategis dan ekonomi yang penting. Sementara itu, militer Rusia di garis depan Ukraina sedang menghadapi kebuntuan yang sulit ditembus. Para pengamat menilai Putin sangat membutuhkan “suntikan bantuan” dari Beijing.
EtIndonesia. Pada Rabu 20 Mei, setelah mengakhiri kunjungannya ke Beijing, Putin kembali dengan pesawat khusus. Sebelumnya pada hari yang sama, ia mengadakan pembicaraan dengan Xi Jinping dan menekankan hubungan kerja sama strategis antara Rusia dan Tiongkok. Putin mengatakan hubungan kedua negara telah mencapai “tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya”.
Setelah pertemuan, kedua pihak menandatangani pernyataan bersama dan 20 dokumen kerja sama. Namun, kerja sama energi yang telah lama diharapkan Rusia tidak menghasilkan terobosan besar. Terutama proyek pipa gas alam “Power of Siberia 2” yang sangat diperhatikan, masih belum mencapai kesepakatan terkait harga dan syarat kontrak.
Kunjungan ini berlangsung di tengah meningkatnya serangan Ukraina terhadap wilayah Rusia. Banyak pihak menilai bahwa selain ingin menunjukkan kedekatan hubungan Rusia-Tiongkok, Putin juga berharap memperoleh dukungan lebih lanjut dari Beijing, baik di bidang ekonomi maupun strategis.
Reporter CNN, Nick Paton Walsh, mengatakan: “Medan perang telah berubah drastis hanya dalam waktu satu tahun.”
Reporter CNN yang datang langsung ke garis depan di Kostiantynivka, Ukraina, menyaksikan bahwa dalam perang drone generasi baru, militer Ukraina mulai menggantikan kekurangan personel dengan perangkat militer otomatis. Ia menyebut laju serangan Rusia telah melambat drastis dan harus dibayar dengan harga sangat mahal.
Menurut data dari pihak Ukraina, jumlah korban tewas dan luka tentara Rusia mencapai sekitar 35.000 orang per bulan.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan: “Bulan ini situasi berubah menguntungkan bagi kami, bagi Ukraina. Kami merebut lebih banyak posisi dan menyebabkan kerusakan yang lebih besar. Sanksi jangka panjang yang kami terapkan terhadap Rusia menunjukkan hasil yang sangat signifikan.”
Sementara itu, militer Rusia terus melancarkan serangan udara ke berbagai wilayah Ukraina, termasuk Odesa dan Sumy, yang menyebabkan sejumlah orang terluka. (***)
Sumber : NTDTV.com





