MAKASSAR, FAJAR — Kalau ditanya soal cita-cita atau apa yang ingin mereka lakukan dalam hidup, jawaban anak remaja pasti berubah-ubah. Hari ini ingin jadi content creator, besok ingin jadi pengusaha, minggu depan bisa jadi astronot.
Banyak orang tua menganggap hal ini wajar sebagai pencarian passion. Namun, studi terbaru dari Cornell University mengungkapkan fakta mengejutkan: bukan intensitas passion atau besarnya cita-cita yang bikin remaja sukses, melainkan seberapa konsisten mereka merasakan tujuan hidup (sense of purpose) dari hari ke hari.
Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Research on Adolescence ini menyarankan agar kita tidak hanya fokus pada apa tujuan hidup si anak, tapi bagaimana menjaga agar perasaan memiliki tujuan itu tetap stabil.
Konsisten Jauh Lebih Baik daripada “Angot-angotan”
Selama ini, tujuan hidup sering dianggap sebagai sesuatu yang kaku—kamu punya atau tidak punya sama sekali. Namun, Anthony Burrow, Direktur Purpose Science and Innovation Exchange di Cornell, mematahkan teori tersebut. Menurutnya, tujuan hidup itu dinamis dan fluktuatif.
Melansir Psychology Today, dalam studi yang melibatkan 320 siswa SMA, para peneliti mengamati emosi mereka selama 70 hari berturut-turut. Hasilnya? Remaja yang memiliki rasa tujuan hidup yang stabil—tidak naik turun secara drastis—menunjukkan tingkat kesejahteraan mental dan rasa percaya diri (self-esteem) yang jauh lebih tinggi.
“Sama seperti hal baik lainnya di dunia ini, fluktuasi yang ekstrem (mood yang gampang berubah) bisa memicu masalah dalam jangka panjang. Menjaga emosi dan tujuan tetap stabil (even keel) jauh lebih baik,” ungkap Burrow.
Peran Penting Mentor dan Orang Tua
Ada satu temuan menarik yang sangat praktis dari penelitian ini. Para remaja melaporkan bahwa mereka merasa paling bermakna dan punya tujuan hidup justru pada hari-hari di saat mereka bertemu dengan mentor mereka.
Artinya, membangun tujuan hidup pada remaja bukanlah obrolan berat yang cuma dilakukan sekali seumur hidup. Ini adalah proses panjang yang membutuhkan lingkungan yang mendukung.
Berikut beberapa tips untuk orang tua dan pendidik:
- Pantau Perubahan Suasana Hati: Jika remaja terlalu sering mengalami up and down yang ekstrem soal masa depannya, itu bisa jadi tanda mereka sedang rapuh menghadapi tekanan hidup.
- Hadir sebagai Mentor, Bukan Penghakimi: Remaja butuh didengar, diberi ruang untuk mengeksplorasi apa yang mereka sukai, dan didampingi secara konsisten.
- Beri Kebebasan yang Bertanggung Jawab: Program yang memberi remaja kesempatan untuk mengatur pembelajarannya sendiri terbukti ampuh mendongkrak rasa keberartian hidup mereka.
Kesimpulannya, menumbuhkan jiwa yang tangguh pada remaja bukan soal menuntut mereka langsung menemukan satu passion mutlak, melainkan bagaimana kita membantu mereka tetap stabil dan merasa “berharga” setiap harinya. (*nin)





