Bisnis.com, JAKARTA — Nilai tukar rupiah ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari Jumat (22/5/2026). Pelaku pasar merespons memburuknya data neraca transaksi berjalan Indonesia yang tercatat lebih besar dari perkiraan pasar.
Berdasarkan data tradingview, rupiah ditutup melemah sebesar 0,18% ke level Rp17.700.Pelemahan mata uang Garuda terhadap dolar AS sejalan dengan depresiasi mayoritas mata uang Asia lainnya.
Yen Jepang terhadap dolar AS juga melemah 0,11%, dolar Singapura melemah 0,23%, won Korea melemah 0,56%.
Dolar Hong Kong terhadap dolar AS juga melemah 0,04%. Berikutnya Ringgit Malaysia mengalami pelemahan terhadap dolar AS sebesar 0,11%, peso Filipina melemah 0,24%, serta baht Thailand melemah 0,18%.
Sementara itu, yuan China terhadap dolar AS mengalami penguatan 0,11%, dolar Taiwan menguat 0,19%, dan rupee India naik 0,28%.
Analis Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan Nilai tukar rupiah ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) setelah pelaku pasar merespons memburuknya data neraca transaksi berjalan Indonesia yang tercatat lebih besar dari perkiraan pasar.
Baca Juga
- Prabowo Panggil Menteri Ekonomi ke Istana, Bahas Stabilitas Rupiah?
- Rupiah Melemah, Digimap (MAPI) Sebut Penjualan Produk Apple Masih Solid
- Nilai Tukar Rupiah Dibuka Melemah Rp17.698 per Dolar AS Hari Ini (22/5)
Tekanan terhadap rupiah juga datang dari sentimen risk off yang masih membayangi pasar keuangan domestik, terutama di tengah pelemahan pasar ekuitas dalam beberapa hari terakhir.
Defisit neraca transaksi berjalan pada kuartal terbaru tercatat jauh lebih besar dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran investor terhadap ketahanan eksternal Indonesia dan meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven seperti dolar AS.
Selain faktor domestik, tekanan eksternal juga masih kuat seiring ketidakpastian geopolitik global yang belum mereda. Pelaku pasar kini menanti perkembangan terbaru dari kawasan Timur Tengah, khususnya terkait respons Iran terhadap proposal yang diajukan Amerika Serikat.
Iran disebut diharapkan memberikan tanggapan dalam waktu dekat, yang berpotensi menjadi sentimen penting bagi pergerakan pasar global awal pekan depan. Ketegangan geopolitik di kawasan tersebut dinilai dapat memicu penguatan dolar AS dan menekan mata uang emerging markets, termasuk rupiah.
"Untuk perdagangan Senin [25/5], rupiah diperkirakan masih bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada kisaran Rp17.650 hingga Rp17.800 per dolar AS,"katanya, Jumat (22/5/2026).





