REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Super model Bella Hadid kembali menyuarakan isu Palestina saat hadir di ajang tahunan Cannes Film Festival 2026. Dalam sebuah kesempatan, perempuan berdarah Palestina-Belanda tersebut terlihat mengenakan kalung berbentuk kunci dengan peta Palestina.
Selama bertahun-tahun, Bella Hadid kerap menjadikan Cannes sebagai ruang eskplorasi mode sekaligus ekspresi personal. la pernah tampil dengan gaun merah rancangan Roberto Cavalli, mengenakan gaun vintage Chanel, hingga gaun keffiyeh merah-putih vintage rancangan Michael Sears dan Hushi Mortezaie.
Baca Juga
Deretan Artis yang Suarakan Palestina di Festival Film Cannes 2026
Juri Festival Film Cannes 2026 Kecam Hollywood Buntut Boikot Artis Pro Palestina
Rapper Drake Kritik DJ Khaled karena Bungkam Terhadap Isu Palestina
Pada tahun ini, Bella memilih merayakan identitasnya dengan mengenakan kalung kunci berbentuk peta Palestina di Cannes. Dilansir laman The Cut, Rabu (20/5/2026), aksesori tersebut bukan sekadar perhiasan, melainkan simbol yang memiliki makna mendalam bagi masyarakat Palestina diaspora, khususnya mereka yang terusir dari tanah kelahirannya dalam peristiwa Nakba pada 1948.
Bagi banyak keluarga Palestina, kunci rumah menjadi simbol perlawanan dan harapan untuk kembali ke tanah asal. Saat pengusiran massal terjadi pada 1948, banyak warga Palestina meninggalkan rumah mereka hanya dengan membawa kunci rumah di tangan.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Simbol itu kemudian diwariskan lintas generasi sebagai pengingat atas kehilangan sekaligus janji untuk kembali ke Palestina suatu hari nanti. Dan sebagai supermodel, Bella berhasil memadukan keindahan mode dan aktivisme dengan sempurna.
Bella Hadid telah lama menjadi pendukung vokal hak-hak Palestina, terutama dalam beberapa tahun terakhir di tengah genosida Israel di Gaza dan pelanggaran hak asasi manusia di Tepi Barat. Dukungan Bella Hadid terhadap Palestina tidak lepas dari pengaruh sang ayah, Mohamed Hadid, yang berasal dari Nazareth, Palestina.
Mohamed dilaporkan kerap membagikan kisah pribadinya kepada anak-anaknya, termasuk pengalaman saat harus meninggalkan tanah kelahirannya pada 1948 dan mencari perlindungan di Suriah. la juga menanamkan kecintaan terhadap budaya Palestina melalui tradisi keluarga dan makanan khas Palestina.