Hong Kong: Lahir di tengah himpitan kemiskinan di Malaysia, Cheah Cheng Hye merantau ke Hong Kong untuk mencari peruntungan finansial. Namun, takdir dan kejelian membaca peluang justru membawanya menjelma menjadi salah satu miliarder terkemuka melalui instrumen investasi nilai.
Melansir VnExpress, sebagai salah satu pendiri perusahaan manajemen aset yang berbasis di Hong Kong yaitu Value Partners, Cheah baru-baru ini menduduki peringkat ke-22 dalam daftar orang terkaya di Malaysia versi majalah Forbes. Kekayaan bersihnya diestimasikan menyentuh angka USD1,25 miliar.
Berasal dari wilayah Penang, Malaysia, masa kecil Cheah diwarnai dengan keprihatinan yang mendalam. Ia harus kehilangan sang ayah akibat gagal ginjal saat baru berusia sembilan tahun dan Cheah harus menyambung hidup dengan berjualan nanas di pinggir jalan. Ia bahkan mengenang masa kecilnya yang kerap didera rasa lapar akibat keterbatasan makanan.
Meski hanya berbekal ijazah sekolah menengah, garis nasib membawanya terjun ke dunia jurnalistik secara kebetulan pada usia 17 tahun. Berawal dari pekerjaan melipat koran di harian The Star, bakat menulisnya dilirik oleh para editor yang kemudian mengangkatnya menjadi reporter.
Tiga tahun berselang, tawaran pekerjaan yang lebih menjanjikan membawanya berlayar ke Hong Kong dengan menumpang kapal kargo. Cheah menceritakan saat itu ia tidak membayangkan karier yang gemilang untuk dirinya sendiri.
"Rencana awalnya adalah menghabiskan beberapa tahun di Hong Kong, menabung cukup uang, membeli mobil, membeli rumah, kembali ke Penang dan hidup bahagia," katanya kepada The Business Times pada 2017, dikutip VnExpress.
Menyelami ekosistem keuangan dan mendirikan Value Partners
Di Hong Kong justru menariknya lebih dalam ke ekosistem keuangan global. Karier jurnalistiknya melesat saat ia bekerja untuk berbagai media seperti The Standard, HK-TVB News, The Wall Street Journal Asia, hingga Far Eastern Economic Review, ia secara khusus meliput perkembangan bisnis dan pasar keuangan Asia Timur serta Tenggara.
Berbekal rasa semangat untuk belajar, ia mempelajari buku-buku akuntansi dan pasar saham secara otodidak hingga berulang kali untuk menghafal detail-detail penting. Pengetahuannya yang kian tajam menarik perhatian bank investasi Morgan Grenfell yang kemudian merekrutnya sebagai pedagang internal. Posisi ini tidak hanya memberinya ruang untuk mengeksplorasi strategi investasi nilai, tetapi juga mendatangkan penghasilan baginya hingga USD1 juta per tahun.
Baca Juga :
Ini Daftar 5 Miliarder Terkaya di Korea SelatanPada 1993, bersama mitra bisnisnya V-Nee Yeh, Cheah mendirikan Value Partners dengan modal awal kurang dari USD5 juta. termasuk sekitar USD1 juta dari Cheah sendiri. Melalui perusahaan ini, ia membuktikan pendekatan value investing sangat efektif di pasar Asia. Strateginya bertumpu pada prinsip "3R" yakni Right business, Right people, Right price.
Salah satu kesuksesannya yang paling berkesan adalah berinvestasi pada perusahaan teknologi dan produsen kendaraan listrik terkemuka asal Shenzhen, Tiongkok, yaitu Build Your Dreams (BYD), sebelum perusahaan investasi milik Warren Buffett yaitu Berkshire Hathaway menyuntikkan dana ratusan juta dolar ke produsen kendaraan listrik tersebut.
Belajar dari kegagalan
Rekam jejak Cheah tidak luput dari kegagalan. Salah satu kerugian terbesarnya adalah investasi di maskapai penerbangan bertarif murah yaitu Oasis Hong Kong. Runtuhnya maskapai tersebut membuat Value Partners harus mengalami kerugian sekitar USD13 juta.
Hampir setengah dari investasi perusahaannya sebesar USD30 juta di Oasis lenyap hanya dalam waktu tiga bulan. Maskapai tersebut tutup setelah 18 bulan karena masalah pendanaan. Insiden tersebut menjadi pelajaran berharga bagi Cheah untuk hanya berinvestasi pada sektor yang benar-benar ia kuasai.
"Sekarang, saya hanya berpegang pada beberapa bidang yang paling saya kuasai," katanya kepada China Daily, dikutip VnExpress.
Ia mengatakan kunci untuk bertahan hidup adalah mengidentifikasi kesalahan sejak dini dan memperbaikinya dengan cepat, alih-alih sekadar mencoba menghindari kesalahan.
Di lantai bursa, Cheah dikenal dengan nyali investasinya yang kerap melawan arus dan berani mengambil risiko. Ia konsisten menerapkan prinsip membeli saat publik panik menjual, dan menjual saat publik euforia membeli.
Seiring waktu prinsipnya terbukti berbuah manis. Value Partners mencetak sejarah sebagai perusahaan manajemen aset pertama yang melantai di Papan Utama Bursa Efek Hong Kong pada 2007. Saat ia mengundurkan diri dari kursi Co-Chairman dan Co-Chief Investment Officer pada Januari lalu, perusahaannya telah menjadi salah satu manajer aset independen terbesar di Asia dan tengah mengelola aset senilai USD5,4 miliar, dengan rekor puncak sempat menembus USD18 miliar pada kurun 2018-2019.
Cheah diakui sebagai tokoh investasi nilai di Asia selama tiga dekade terakhir menurut Bloomberg. Cheah memandang kesuksesannya tak lepas dari faktor keberuntungan hidup di era keemasan pertumbuhan ekonomi Asia. Bagi Cheah, anak kecil penjual nanas yang miskin itu adalah sosok yang sangat beruntung, meski pada saat itu ia tidak menyadarinya.
Ia mengatakan dirinya memasuki dunia kerja pada 1971 selama periode yang dianggapnya sebagai salah satu periode paling makmur dalam sejarah manusia.
"Kami hidup di masa yang ajaib, upah naik dua digit setiap tahun dan prospek karier meledak," kata dia kepada The Edge, dikutip VnExpress.




