Beijing: Sepintas, rangkaian pertemuan Presiden Tiongkok Xi Jinping dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin tampak serupa.
Kedua pemimpin disambut dengan upacara resmi di Lapangan Tiananmen, Beijing, lengkap dengan barisan pasukan kehormatan, marching band militer, serta anak-anak yang melambaikan bunga dan bendera.
Namun di balik kemiripan seremoni tersebut, kedua kunjungan memperlihatkan perbedaan besar dalam hubungan Tiongkok dengan Amerika Serikat dan Rusia.
Dalam kunjungan Trump, Beijing berupaya menstabilkan hubungan dengan Washington. Sementara dalam lawatan Putin, Tiongkok justru menegaskan dan memperdalam kemitraan strategisnya dengan Moskow.
Xi memberikan perhatian besar pada unsur simbolik selama kunjungan Trump, termasuk mengajak presiden AS itu berkeliling Zhongnanhai, kompleks bekas taman kekaisaran yang kini menjadi pusat kepemimpinan tertinggi Tiongkok.
Menurut George Chen dari The Asia Group, Beijing memahami bahwa Trump sangat menghargai simbol penghormatan yang terlihat secara publik.
“Xi tahu bahwa ini yang dihargai Trump: diperlakukan seperti tamu VIP dan dihormati di depan kamera,” ujar Chen, dikutip dari AsiaOne, Jumat, 22 Mei 2026.
Sementara terhadap Putin, Xi dinilai lebih menitikberatkan pada substansi kerja sama.
“Menegaskan kembali perjanjian persahabatan, menandatangani kesepakatan energi baru, dan kembali menekankan kemitraan ‘tanpa batas’ mereka,” kata Chen. Perbedaan Terlihat sejak Agenda Kunjungan Perbedaan antara kedua kunjungan mulai terlihat dari durasinya. Trump berada di Tiongkok selama tiga hari, sedangkan Putin hanya dua hari. Keduanya sama-sama menggelar pertemuan tertutup dengan Xi di Great Hall of the People yang berada di dekat Lapangan Tiananmen.
Namun agenda Trump lebih banyak diwarnai kegiatan simbolik dan budaya. Selain mengunjungi Zhongnanhai, ia juga mendapat tur pribadi ke Temple of Heaven.
Sebaliknya, Putin menghabiskan sebagian besar waktunya bersama Xi di Great Hall of the People. Keduanya meninjau pameran foto hubungan Tiongkok-Rusia dan kemudian menikmati jamuan teh bersama.
Kunjungan pekan lalu menjadi lawatan kedua Trump ke Tiongkok sebagai presiden. Bagi Putin, itu merupakan kunjungan ke-25 ke negara tersebut.
Pesan Politik yang Berbeda Perbedaan paling mencolok muncul dalam pesan politik yang dibawa kedua pertemuan tersebut.
Bersama Trump, Xi menekankan pentingnya menjaga hubungan yang relatif stabil setelah berbulan-bulan ketegangan dan perang dagang antara dua ekonomi terbesar dunia.
Xi meminta Trump memandang Tiongkok sebagai mitra, bukan rival. Kedua pemimpin juga sepakat membangun “hubungan Tiongkok-AS yang konstruktif dan memiliki stabilitas strategis.”
Sebaliknya, dalam pertemuan dengan Putin, Xi berfokus memperkuat hubungan yang telah lama terjalin dan dinilai penting secara strategis maupun ekonomi bagi kedua negara.
Ketika hubungan dagang Tiongkok dan AS masih berupaya distabilkan, Beijing dan Moskow justru kembali menegaskan posisi mereka sebagai mitra penting satu sama lain.
Putin mengatakan sektor energi, khususnya minyak dan gas, menjadi “kekuatan pendorong” hubungan kedua negara. Kesepakatan Lebih Banyak dengan Rusia Tiongkok dan Rusia mencapai lebih dari 40 kesepakatan kerja sama di bidang perdagangan, teknologi, hingga pertukaran media. Xi dan Putin juga menandatangani deklarasi bersama yang menggambarkan Rusia dan Tiongkok sebagai “pusat kekuatan penting dalam dunia multipolar.”
Sebaliknya, Trump dan Xi tidak menandatangani deklarasi bersama maupun menyaksikan penandatanganan kesepakatan secara terbuka selama kunjungan berlangsung.
Baru setelah Trump meninggalkan Beijing, kedua negara mengumumkan rincian sejumlah kesepakatan, termasuk komitmen Tiongkok membeli produk pertanian AS senilai USD17 miliar per tahun dan 200 pesawat Boeing.
Analis Mercator Institute for China Studies di Berlin, Claus Soong, menilai kerja sama Tiongkok dan Rusia terlihat jauh lebih konkret.
“Tiongkok dan Rusia mencapai lebih banyak kesepakatan, sedangkan dengan Tiongkok dan AS, apa sebenarnya kesepakatannya? Itu pun tidak terlalu jelas,” ujarnya.
Meski demikian, peneliti Asia Society Policy Institute, Lyle Morris, mengatakan tidak adanya kesepakatan resmi terkait proyek pipa gas Power of Siberia 2 justru menjadi kejutan terbesar dari pertemuan Xi dan Putin.
Menurutnya, kegagalan mencapai kesepakatan tersebut menjadi kemunduran besar bagi Rusia dan Putin.
Sikap terhadap Taiwan Berbeda Moskow diketahui memiliki posisi yang sejalan dengan Beijing dalam isu Taiwan, pulau demokratis yang diklaim Tiongkok sebagai bagian wilayahnya.
Sementara itu, Amerika Serikat mempertahankan posisi ambigu terkait Taiwan dan tetap menjadi pendukung informal utama sekaligus pemasok senjata bagi pulau tersebut.
Xi disebut menegaskan kepada Trump bahwa Taiwan merupakan isu paling penting dalam hubungan bilateral kedua negara. Ia juga memperingatkan bahwa kesalahan penanganan hubungan AS dengan Taiwan dapat memicu konfrontasi.
Trump sendiri tidak membahas Taiwan secara terbuka selama kunjungan berlangsung. Namun dalam perjalanan pulang ke AS, ia menyebut penjualan senjata ke Taiwan sebagai “alat negosiasi yang sangat baik” dengan Tiongkok, pernyataan yang memicu kekhawatiran di Taiwan.
Berbeda dengan hubungan Tiongkok-AS, tidak terlihat adanya perbedaan pandangan antara Xi dan Putin terkait Taiwan.
Dalam deklarasi bersama yang ditandatangani kedua pemimpin, Rusia kembali menegaskan penolakannya terhadap kemerdekaan Taiwan “dalam bentuk apa pun” serta mendukung upaya Tiongkok mempertahankan kedaulatan dan mencapai “unifikasi nasional.”
Menurut Kementerian Luar Negeri Tiongkok, kedua pihak juga menyampaikan kekhawatiran terhadap apa yang mereka sebut sebagai “remiliterisasi yang dipercepat” di Jepang di tengah memburuknya hubungan Beijing dan Tokyo terkait isu Taiwan.




