Wakil Ketua Komisi VI DPR RI dari Fraksi Gerindra, Andre Rosiade, mendukung langkah Presiden Prabowo Subianto membentuk BUMN ekspor khusus bernama PT Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI). Andre menilai kebijakan tersebut menjadi langkah strategis untuk menutup kebocoran penerimaan negara dari sektor ekspor sumber daya alam.
"Kami di Komisi VI DPR RI mendukung penuh langkah Presiden Prabowo membentuk PT Danantara Sumber Daya Indonesia. Ini langkah tepat untuk memastikan tata kelola ekspor sumber daya alam Indonesia menjadi lebih transparan, akuntabel, dan menguntungkan negara," kata Andre, dalam keterangannya, Jumat (22/6/2026).
Menurutnya, pemerintah sebelumnya telah mengungkap adanya potensi kerugian negara akibat praktik under invoicing atau manipulasi penurunan nilai faktur ekspor serta transfer pricing ke luar negeri. Dia mengatakan praktik tersebut diduga menjadi salah satu penyebab utama bocornya kekayaan negara.
"Presiden Prabowo sudah menyoroti persoalan ini. Potensi kerugian negara disebut mencapai 150 miliar dolar AS. Bahkan kita juga mendengar penjelasan pemerintah mengenai adanya perbedaan data ekspor dan impor komoditas utama seperti sawit. Ini tidak boleh terus terjadi," ujar Ketua Umum DPP Ikatan Keluarga Minang (IKM).
Wakil Ketua Fraksi Gerindra ini mengatakan mengatakan pembentukan BUMN ekspor akan menjadi instrumen penting negara dalam mengawasi perdagangan komoditas strategis seperti sawit dan sumber daya alam lainnya. Hal itu, agar tak lagi terjadi kecurangan oleh perusahaan dalam transaksi ekspor.
"Langkah pemerintah ini sangat tepat. Dengan adanya pengawasan dan pengelolaan ekspor secara terintegrasi, kita ingin memastikan tidak ada lagi praktik-praktik curang yang merugikan negara dan daerah. Ini juga merupakan wujud nyata pelaksanaan Pasal 33 UUD 1945 bahwa kekayaan alam dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat," tegas Ketua DPD Partai Gerindra Sumbar.
Andre mengatakan selama ini banyak devisa hasil ekspor sumber daya alam justru disimpan di luar negeri. Menurutnya, dengan adanya PT DSI, seluruh transaksi ekspor dapat kembali masuk ke sistem keuangan nasional dan memperkuat cadangan devisa Indonesia.
"Kalau transaksi ekspor ini masuk kembali ke Indonesia, otomatis devisa negara bertambah. Selama ini banyak dana yang 'parkir' di luar negeri. Dengan sistem baru ini, dolar hasil ekspor kembali ke Indonesia dan itu akan membantu memperkuat nilai tukar rupiah," katanya.
(dhn/dhn)





