Geliat Warga Pondok Manggala Kelola Sampah, Ikhtiar Tekan Emisi Gas Metana

kompas.id
7 jam lalu
Cover Berita

Sisa pangan atau sampah organik seperti bom yang diam-diam memanggang Bumi dengan gas metana. Pengolahannya berarti menjaga Bumi sebagai rumah hidup bersama yang sehat, selamat, dan nyaman.

Inilah pemahaman dan keyakinan sekitar 600 jiwa warga Perumahan AL Pondok Manggala di RW 005 Balas Klumprik, Wiyung, Surabaya, Jawa Timur. Sejak memenangi penghargaan Program Kampung Iklim (Proklim) Utama 2024, warga aktif dalam pelestarian lingkungan hidup.

Untuk itu, Pondok Manggala dipilih menjadi salah satu lokasi kunjungan peserta program Zero Waste Academy (ZWA) pada kurun 19-21 Mei 2026 dari Jawa dan Bali. Program tersebut bertajuk Rencana Aksi Pengurangan Metana dari Pengelolaan Sampah di Surabaya. Selain mengunjungi Pondok Manggala, peserta juga melihat aktivitas di Pusat Daur Ulang (PDU) Jambangan.

Di Pondok Manggala, peserta ZWA melihat Bank Sampah Cendekia Arutala RT 001 RW 005. Di sini, mereka melihat penampungan sampah anorganik yang sudah dipilah untuk kemudian diambil dan dibeli. Hasilnya kembali ke warga RT 001, RT 002, dan RT 003. Biasanya untuk kegiatan sosial warga yang umumnya adalah generasi kedua keluarga prajurit AL.

RT 001 menjadi pusat operasional bank sampah. Selain itu, pelestarian dan pengoptimalan kawasan hutan bakau (mangrove). Para ibu juga mengolah buah bogem atau apel mangrove (Sonneratia alba) sebagai sirup. Produk ini turut dikembangkan oleh sejumlah kelompok tani dari pengelolaan mangrove di Pantai Timur Surabaya (Pamurbaya).

Selanjutnya, peserta melihat Rumah Kompos RT 002 RW 005. Di sini, sampah organik diolah menjadi kompos, pupuk cair, ekoenzim, dan pelet untuk pakan ikan. ”Kompos dapat diambil sesuai kebutuhan warga secara cuma-cuma,” ujar Ketua Caping Tani & Mina Manggala (RW 005 Balas Klumprik) Yohanes Harimurti di sela menerima kunjungan peserta ZWA, Rabu (20/5/2026).

Baca JugaMetana di Balik Tumpukan Sampah
Baca JugaTPST Bantargebang Penyumbang Emisi Metana Terbesar Kedua di Dunia

Sebagian lahan di RT 002 dioptimalkan untuk rumah kompos, kolam-kolam, serta kebun cabai, palawija, tanaman produktif, dan tanaman buah. Hasilnya dinikmati oleh warga untuk kebutuhan harian, terutama saat kumpul sosial, termasuk menerima tamu.

Di RT 003, peserta diajak melihat kandang ternak ayam. Peternakan mini ini sudah berlangsung setahun. Dari tiga ayam kini menjadi 30 ayam. Pakannya ialah olahan sisa pangan. Hasilnya, telur dan daging, yang dinikmati warga setempat.

Di Pondok Manggala juga tersebar kotak sedekah sampah untuk botol, gelas, dan kantong plastik. Kotak-kotak itu sumbangan dari pemerintah pusat dan daerah, BUMN, dan lembaga pelestarian lingkungan hidup, yang mendukung gerakan nyata masyarakat.

Harimurti mengatakan, pengolahan sampah organik di Pondok Manggala terus mendekati nol buangan. Sebelum terlibat dalam program Proklim, truk sampah datang setiap pekan ke perumahan. Sudah dua tahun ini truk datang setiap dua pekan dan volume tidak penuh.

”Harus diakui, potensi sampah organik dan anorganik meningkat biasanya selama Ramadhan dan Idul Fitri karena peningkatan konsumsi. Namun, kami terus mencoba menerapkan pola konsumsi yang hemat,” ujar Harimurti.

Ancaman

Dengan populasi 3,1 juta jiwa, Surabaya, ibu kota Jatim, masuk kategori metropolitan kedua paling banyak penduduk atau setelah Jakarta Timur. Geliat ekonomi di Surabaya amat tinggi karena menopang separuh kekuatan ekonomi Jatim yang merupakan penghubung kawasan tengah dan timur di Nusantara.

Dari sisi sampah, setiap hari warga Bumi Pahlawan memproduksi 1.800 ton buangan organik dan anorganik. Ini bakal menjadi bom waktu jika tata kelola masih mengandalkan model angkut buang ke Benowo.

Surabaya perlu berkaca dari TPST Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat. Menurut data Carbon Mapper, Mei 2026, Bantargebang ialah penyumbang gas metana terbesar kedua di dunia dengan emisi 6,3 metrik ton per jam.

Artinya, sampah organik yang membusuk dan menumpuk tanpa diolah secara optimal dapat meningkatkan emisi metana. Gas ini sumber utama pemanasan global. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya mengklaim, sebesar 1.000 ton dari 1.800 ton per hari sampah digunakan sebagai bahan bakar di insinerator Pembangkit Listrik Tenaga Sampah Benowo.

Menurut Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat selaku Pelaksana Tugas Kepala DLH Kota Surabaya Muhamad Fikser, telah dioperasikan 27 rumah kompos untuk mengolah sampah organik. Kapasitas harian di kisaran 95-96 ton. Dengan rumah kompos, pemerintah menghemat biaya pengangkutan sampah ke Benowo sampai Rp 6,7 miliar per tahun. Selain itu, juga menghemat biaya pengolahan sampah di Benowo sampai Rp 7,3 miliar per tahun.

Baca JugaPLTSa Benowo olah 75 Persen Sampah Surabaya
Baca JugaWalhi Jatim Ungkap Pencemaran Udara di Sekitar PLTSa Benowo, Kesehatan Warga Terancam

Mengutip laman Kementerian Lingkungan Hidup, Kepala Bidang Wilayah III Pusat Pengendalian LH Jawa Gatut Panggah Prasetyo mengatakan, pengendalian gas metana bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak untuk menjaga kualitas hidup dan kesehatan masyarakat. Tekanan terhadap lingkungan meningkat seiring volume sampah perkotaan dari populasi yang tak diimbangi dengan pengelolaan secara komprehensif.

”Perubahan iklim bukan lagi persoalan abstrak yang cuma dibicarakan dalam forum. Situasi ini hadir dalam bentuk udara yang semakin panas, aroma sampah menyengat dari TPA, peningkatan risiko kebakaran sampah, dan penurunan kualitas lingkungan,” kata Gatut.

Namun, terus muncul kesadaran dan inisiatif dari komunitas warga untuk mengolah sampah organik. Mereka juga memilah sampah anorganik. Dengan demikian, tekanan ke TPA berkurang dan diharapkan bisa menekan emisi gas metana.

Dewan Pengarah Aliansi Zero Waste Indonesia, Hermawan Some, menyatakan, keterlibatan masyarakat dan dunia usaha (hotel, kedai, restoran, kafe), kampus, sekolah, dan panti-panti amat penting dalam pengolahan sampah organik sehingga menekan emisi gas metana.

”Sampah sebagai bahan bakar sejatinya adalah solusi palsu karena ada pencemaran dan zat kimia berbahaya,” kata Some, inisiator Komunitas Nol Sampah Surabaya.

Ini sesuai dengan hasil penelitian Walhi Jatim pada 2025 yang meyakini pencemaran udara di sekitar PLTSa Benowo. Pemanfaatan sampah sebagai bahan bakar melalui metode insinerator, gasifikasi, hingga refuse derived fuel (RDF) berupa briket menghasilkan zat kimia berbahaya.

Sampah anorganik terutama plastik yang diolah menjadi bahan bakar minyak (BBM) juga berisiko tinggi. Pengolahan dengan cara pirolisis boros energi dan tidak semua plastik dapat diubah menjadi BBM. Mau tidak mau, pola kurangi, guna lagi, dan olah atau reduce, reuse, recycle (3R) yang didahului pemilahan menjadi amat penting.

Di sisi lain, gerakan 3R telah berkembang setidaknya menjadi 9R. Ada refuse atau menolak benda atau kemasan sekali pakai, rethink atau berpikir lagi mengenai gaya hidup, misalnya membeli barang berkualitas agar awet, repair atau memperbaiki, refurbish atau memperbarui, remanufacture atau memproduksi ulang suku cadang agar produk lama bisa digunakan, dan repurpose atau alih fungsi.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Guru Besar UI: Kemlu Perlu Belajar dari Penanganan WNI Ditahan Israel
• 23 jam lalukompas.com
thumb
Dedi Mulyadi Siapkan Bonus jika Persib Juara Liga: Ada Tenang Aja!
• 2 jam lalurctiplus.com
thumb
Polisi Evakuasi 2 WNI yang Diduga Korban Penyekapan Sindikat Penyelundupan Timah Ilegal di Malaysia
• 23 jam lalukompas.tv
thumb
Sidang Cerai Digelar, Clara Shinta Ungkap Perjanjian Pra Nikah dengan Alexander Assad
• 23 jam lalucumicumi.com
thumb
Prabowo Minta Kabinet Merah Putih Stop Bangun Kantor Mewah, Alihkan ke Proyek Produktif
• 3 jam lalumatamata.com
Berhasil disimpan.