jpnn.com, JAKARTA - Di tengah kritik dan kontroversi dampak program MBG di masyarakat, para ahli dan pengamat kebijakan publik masih banyak yang menilai bahwa dampak program ini bisa optimal.
Apabila dikelola dengan tepat, bukan tidak mungkin program ini mendorong perkembangan generasi muda bangsa dalam 10-20 tahun ke depan.
BACA JUGA: KPK Sebut Program MBG Tak Tepat Sasaran, Warga Miskin Tak Kebagian
Hal tersebut ditegaskan oleh Guru Besar Ilmu Politik dan Pengamat Kebijakan Publik Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Prof. Cecep Darmawan.
Menurut Prof. Cecep, jika dikelola dengan tata kelola manajerial yang transparan, tepat sasaran, dan diimbangi dengan ekosistem pendidikan yang holistik, Prof. Cecep optimistis program ini akan membawa transformasi besar.
BACA JUGA: Alasan Purbaya Pangkas Anggaran MBG 2026
“Apabila anak-anak kita secara fisik sehat karena asupan gizi yang baik, dan diimbangi dengan kognisi serta literasi yang baik dari sekolah, Insyaallah dalam 10 hingga 20 tahun ke depan, program ini akan melahirkan generasi-generasi unggul yang good and smart,” tegasnya.
Terkait dinamika di media sosial di mana implementasi MBG kerap mendapat sorotan tajam dan kritik, Prof. Cecep menilai hal tersebut sebagai bentuk kontrol publik yang wajar. Namun, ia menekankan pentingnya literasi media sosial agar masyarakat dapat membedakan antara kritik yang konstruktif dengan cercaan atau hoaks.
BACA JUGA: Guru Besar Usakti Nilai Program MBG Investasi Peradaban
“Kita tidak bisa menutup mata bahwa implementasi di lapangan pasti ada kelemahan. Anggap saja kritik itu sebagai obat. Yang kurang baik manajerialnya segera diperbaiki, dapur yang tidak standar diganti. Jangan salahkan programnya, tapi perbaiki implementasinya,” ujarnya.
Di saat yang sama, ia juga mendorong agar praktik-praktik baik (best practices) dari dapur SPPG dan sekolah yang telah berhasil menjalankan MBG dengan optimal turut disebarluaskan untuk mengimbangi narasi negatif dan menjadi percontohan bagi wilayah lain.
Prof. Cecep juga menegaskan bahwa publik maupun pemangku kebijakan harus bisa memisahkan antara esensi visi program MBG dengan kendala teknis di lapangan.
Menurutnya, sebuah ide besar untuk memperbaiki gizi bangsa tidak boleh gugur hanya karena masalah manajerial yang belum sempurna.
Secara blak-blakan, Prof. Cecep memberikan rekomendasi taktis bagi pemerintah, terutama jika dihadapkan pada keterbatasan anggaran di awal-awal masa implementasi. Ia menyarankan agar fokus program ini dipersempit untuk menyasar kelompok yang benar-benar membutuhkan terlebih dahulu.
"Jadi, jangan salahkan programnya, tetapi perbaiki implementasinya. Kalau sekarang programnya itu kalau memang uangnya masih terbatas, kelompok-kelompok rentan saja duluan. Ya, se-Indonesia kelompok rentan aja duluan, termasuk anak-anak jalanan. Nanti jika keuangan negara makin baik, baru bertahap ke sasaran yang lebih luas agar anggaran tepat guna,” sarannya.
Meski MBG memiliki visi yang sangat baik, Prof. Cecep mengingatkan bahwa program MBG tidak bisa berjalan sendirian dan tidak boleh dijadikan satu-satunya solusi atas kompleksitas masalah masyarakat.
Prof. Cecep menyarankan beberapa aspek strategis yang perlu diperhatikan pemerintah untuk mengoptimalkan program ini, antara lain MBG membutuhkan kerja kolaboratif antara Badan Gizi Nasional (BGN), berbagai kementerian terkait, pemerintah daerah, hingga komite sekolah dan keluarga.
Selain itu, Prof. Cecep juga mendorong agar pemerintah juga harus memperkuat sektor ekonomi makro dan penyediaan lapangan kerja agar orang tua mampu melanjutkan estafet pemenuhan gizi di rumah. (rhs/jpnn)
BACA ARTIKEL LAINNYA... John Herdman Umumkan Skuad untuk FIFA Matchday Juni, Ini Masih Sementara
Redaktur & Reporter : Rah Mahatma Sakti




