JAKARTA, KOMPAS – Presiden kelima RI yang juga Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan atau PDI-P Megawati Soekarnoputri dan Raja Keraton Yogyakarta Sultan Hamengku Buwono X saling berjumpa dua hari berturut-turut pada Jumat (22/5/2026) dan Sabtu (23/5/2026). Selama bertemu, sepasang tokoh yang sama-sama mendorong terwujudnya “Reformasi 1998” itu, selalu terlibat dalam perbincangan hangat. Momen pertemuan kedua sosok ini, ditengarai bukan sekadar melepas rindu.
Perjumpaan pertama terjadi saat Megawati mengunjungi Sultan, di Keraton Kilen, Kompleks Keraton Yogyakarta, Yogyakarta, Jumat malam. Pada pukul 19.15 WIB, ia tiba mengenakan kemeja batik merah disambut Sultan yang sudah menanti dengan kemeja batik coklat bercorak bunga. Sultan didampingi sang permaisuri, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas, yang juga mengenakan kemeja batik merah. Jabat tangan hangat dan saling lempar senyum menjadi adegan lanjutan dari perjumpaan mereka.
Dalam kesempatan itu, Megawati datang bersama putranya, M Prananda Prabowo dan istri Nancy Prananda, cucunya Pinka Hapsari, dua keponakannya Puti Soekarno dan Romy Soekarno. Turut serta dalam rombongan itu seorang politisi PDI-P, yakni Bintang Puspayoga.
Selain didampingi Hemas, Sultan menjamu kedatangan Megawati bersama dua putrinya, yakni GKR Condro Kirono (putri kedua) dan GKR Bendara (putri kelima), dan menantu dari putri ketiganya, Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Purbodiningrat.
Selepas berbincang sejenak, Megawati dan rombongannya menerima jamuan minuman hangat favorit Sultan, yaitu “wedang semlo”. Minuman itu diracik dari buah dan rempah seperti pisang, jahe, kayu manis, gula jawa, daun pandan, dan sereh. Sembari menyesap minuman itu, sayup-sayup alunan gamelan mengiringi perbincangan mereka. Suasana bertambah hangat ketika sesekali mereka tertawa setelah mendengar celetukan GKR Bendara.
Jamuan minuman hangat itu berlanjut pada ajakan Sultan kepada Megawati dan rombongan untuk makan malam di Pendopo Keraton Kilen. Sultan dan Hemas duduk satu meja bersama Megawati, Prananda, Nancy, dan GKR Condrokirono. Kehangatan kembali terasa sepanjang santap malam yang diiringi perbincangan selama 3,5 jam itu.
Purbodiningrat menceritakan, pertemuan Sultan dan Megawati tidak terjadi secara tiba-tiba. Kedua tokoh itu sudah saling ingin bertemu sejak lama. Hanya saja, mereka sama-sama belum menemukan waktu luang. Adapun pertemuan itu ditujukan untuk merawat hubungan pertemanan yang telah terjalin sedari mereka masih kanak-kanak.
Saking eratnya hubungan itu, lanjut Purbodiningrat, Megawati dan Sultan merasa sudah seperti saudara. Sultan sebagai kakak, sedangkan Megawati adalah adiknya. Bahkan, Sultan Hamengku Buwono IX juga sudah menganggap Megawati seperti anaknya sendiri seiring rekatnya relasi kedua keluarga.
“Jadi, pertemuan ini lebih seperti Ibu (Megawati) ingin ketemu Kang Mas-nya (kakaknya) sendiri ke Jogja. Beliau ingin ngobrol-ngobrol dan kangen-kangenan. Makanya, beliau mengajak anak-anak, Ngarsa Dalem (Sultan) juga mengajak anak-anak dan menantunya,” kata Purbodiningrat, saat dihubungi, Sabtu sore.
Sepanjang santap malam, tutur Purbodiningrat, perbincangan mengalir lancar antara Sultan dan Megawati. Topiknya seputar obrolan-obrolan yang pernah mereka bicarakan semasa muda, termasuk bagaimana mereka menghabiskan masa kecil bersama. Kedua sosok itu semacam melakukan kilas balik perjalanan mereka selama ini.
“Ini juga terkait sejarah-sejarah yang Ngarsa Dalem tahu, tetapi Bu Mega belum pernah mendengar. Jadi, saling melengkapi cerita-cerita yang belum pernah tersampaikan. Anak-anak, keponakan, dan cucu ikut mendengarkan saja. Jadi, ini seperti transfer knowledge sejarah kedekatan dua keluarga,” kata Purbodiningrat, yang juga menjabat Bendahara DPD PDI-P Daerah Istimewa Yogyakarta itu.
Momen pertemuan antara Sultan dan Megawati berjarak satu hari setelah peringatan “Reformasi 1998” yang jatuh pada 21 Mei setiap tahunnya. Kebetulan mereka juga sama-sama menjadi tokoh yang mendorong runtuhnya rezim Orde Baru untuk menciptakan kehidupan berbangsa yang lebih demokratis lewat peristiwa itu. Pada masa itu, Megawati dikenal sebagai simbol perlawanan Orde Baru, sedangkan Sultan termasuk salah seorang tokoh yang mendorong gerakan mahasiswa lewat aksi damai dalam transisi kekuasaan itu.
“Sebetulnya, beliau-beliau sudah ingin bertemu lama. Tetapi, beliau-beliau sama-sama jadwalnya padat. Jadi, kebetulan momennya baru matching kemarin itu. Kalau masalah terkait nuansa reformasi, mungkin ya kebetulan saja,” kata Purbodiningrat.
Selang sehari kemudian, Megawati dan Sultan kembali berjumpa pada resepsi pernikahan putra Sekretaris Jenderal PDI-P Hasto Kristiyanto, Ignatius Windu Hastomo, dengan Lim Xin Rui, di Pendapa Kridha Manunggal Budaya, Yogyakarta. Megawati datang lebih dahulu dan duduk di area VVIP bersama Prananda, Nancy, dan Pinka, setelah menyalami kedua mempelai dan keluarganya.
Sultan yang datang belakangan juga ikut menyusul Megawati menuju meja VVIP sesudah memberi selamat ke sepasang mempelai. Sultan dan Megawati selanjutnya duduk di satu kursi yang sama. Keduanya disebut sempat berbincang santai selama 15 menit lamanya. Sesaat kemudian, Megawati beranjak pamit diantar Sultan dan Hasto yang didampingi istrinya.
Dihubungi terpisah, peneliti senior dari Pusat Riset Politik, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Lili Romli menilai, perjumpaan Megawati dan Sultan tidak bisa dimaknai sebagai momen pelepas rindu. Jika demikian, sebut dia, pertemuan itu tidak mungkin dipublikasikan secara umum. Terlebih negara ini sedang menghadapi banyak tantangan seperti ancaman krisis ekonomi sampai penyempitan demokrasi.
“Bisa jadi, pertemuan tersebut juga membicarakan tentang kondisi kebangsaan yang saat ini sedang terjadi,” kata Lili.
Lili menyoroti latar belakang Megawati dan Sultan sebagai tokoh yang ikut berperan mewujudkan reformasi. Ia meyakini, kedua tokoh itu juga mencermati jalannya reformasi pada masa terkini apakah masih sesuai koridor yang dicita-citakan, atau justru berbalik arah. Oleh karenanya, sebut dia, pertemuan itu tetap terasa signifikan walaupun dibalut dalam suasana silaturahmi mengingat sosok yang berjumpa bukan tokoh biasa.
“Saya kira para tokoh reformasi perlu mengingatkan agar jangan sampai reformasi itu melenceng dari cita-citanya. Jika melenceng, perjuangan reformasi yang telah memakan korban akan menjadi sia-sia. Maka, para tokoh itu mesti memiliki tanggung jawab besar untuk selalu mengingatkan,” kata Lili.





