Tonsil Bukan Organ Tak Berguna: Kenapa Dokter Jarang Sarankan Operasi Amandel?

kumparan.com
3 jam lalu
Cover Berita

Dulu, operasi amandel atau tonsillectomy terasa seperti prosedur yang sangat biasa hampir seperti "ritual wajib" bagi anak-anak yang sering sakit tenggorokan. Tapi belakangan ini, para dokter justru jauh lebih hati-hati sebelum menyarankan operasi ini. Ada apa sebenarnya?

Banyak orang masih menganggap amandel (tonsil) sebagai organ yang tidak berguna kalau bermasalah, cabut saja. Padahal, anggapan itu sudah lama dikoreksi oleh ilmu kedokteran modern.

Tonsil adalah jaringan limfoid yang berperan dalam sistem imun saluran napas. Selain memproduksi limfosit, tonsil juga secara aktif mensintesis imunoglobulin. Sebagai agregat limfoid pertama pada traktus respiratorius, tonsil berperan penting dalam imunitas dengan memberikan deteksi dini dari patogen yang terhirup atau tertelan.

Sederhananya, tonsil adalah "pos penjagaan" pertama yang ditemui kuman saat masuk lewat hidung atau mulut. Saat bakteri atau virus masuk ke dalam tubuh melalui jalur pernapasan atau pencernaan, tonsil bereaksi cepat dengan menghasilkan antibodi dan sel darah putih yang dirancang untuk menyerang dan menetralkan patogen tersebut. Peran tonsil sangat signifikan terutama pada anak-anak yang sistem kekebalannya masih dalam tahap perkembangan.

Fungsi imunologi tonsil sangat aktif antara usia 3 hingga 10 tahun. Itulah mengapa fase ini menjadi masa paling krusial ketika tonsil sedang bekerja paling keras membantu tubuh mengenali berbagai ancaman.

Lalu Kenapa Dulu Sering Dioperasi?

Operasi amandel pernah menjadi salah satu prosedur bedah paling umum di dunia. Di Amerika Serikat saja, pernah dilaporkan lebih dari 530.000 tindakan tonsilektomi pada anak di bawah 15 tahun dalam satu tahun. Waktu itu, logikanya sederhana kalau amandel terus meradang, buang saja. Toh dianggap tidak terlalu penting.

Namun seiring berjalannya penelitian, pandangan ini mulai berubah. Komunitas medis mulai mempertanyakan "apakah semua kasus radang amandel benar-benar harus dioperasi?"

Pergeseran Besar dalam Panduan Medis

Perubahan signifikan terjadi ketika organisasi medis terkemuka dunia menerbitkan panduan berbasis bukti yang jauh lebih ketat. Panduan dari American Academy of Otolaryngology–Head and Neck Surgery (AAO-HNS) merekomendasikan pendekatan watchful waiting yaitu observasi tanpa operasi untuk pasien yang mengalami kurang dari tujuh episode infeksi tenggorokan dalam setahun, kurang dari lima episode per tahun selama dua tahun berturut-turut, atau kurang dari tiga episode per tahun selama tiga tahun berturut-turut.

Hasilnya nyata. Setelah panduan ini diterbitkan, terjadi peningkatan signifikan dalam kepatuhan terhadap praktik berbasis bukti dari 73,1% menjadi 85,4% dan jumlah operasi amandel yang dilakukan pun secara keseluruhan menurun.

Kapan Operasi Memang Diperlukan?

Bukan berarti operasi amandel tidak pernah dibutuhkan. Ada kondisi-kondisi spesifik yang memang menjadi indikasi kuat. Tonsilektomi direkomendasikan ketika pasien mengalami tujuh atau lebih episode infeksi tenggorokan yang terdokumentasi dalam setahun, atau lima episode per tahun selama dua tahun, atau tiga episode per tahun selama tiga tahun terutama jika disertai demam tinggi, pembesaran kelenjar getah bening di leher, eksudat pada tonsil, atau hasil tes strep yang positif.

Selain infeksi berulang, gangguan tidur akibat amandel yang membesar yang menyebabkan anak sulit bernapas saat tidur (obstructive sleep-disordered breathing) juga menjadi alasan kuat untuk mempertimbangkan operasi.

Apakah Operasi Amandel Merusak Imun Tubuh?

Ini pertanyaan yang sering bikin orang tua khawatir. Jawabannya tidak sesederhana itu. Dua tinjauan sistematis menyimpulkan bahwa tonsilektomi tidak memberikan dampak negatif signifikan terhadap sistem imun secara keseluruhan. Namun penelitian lain menemukan hal yang perlu diperhatikan.

Sebuah studi kohort nasional menemukan bahwa pasien yang menjalani tonsilektomi memiliki risiko 1,84 kali lebih tinggi untuk mengembangkan irritable bowel syndrome dibandingkan yang tidak dioperasi. Salah satu penjelasannya adalah ketidakhadiran tonsil dapat menyebabkan patogen yang tidak terdeteksi masuk ke saluran pencernaan.

Artinya, meski operasi tidak secara drastis merusak imunitas, ada konsekuensi jangka panjang yang perlu dipertimbangkan terutama jika dilakukan saat anak masih sangat muda.

Tonsil bukan organ yang harus segera dibuang begitu bermasalah. Organ kecil ini punya peran nyata dalam pertahanan tubuh, khususnya di masa kanak-kanak. Pendekatan modern dalam dunia medis kini jauh lebih mengedepankan observasi, manajemen gejala, dan operasi hanya jika benar-benar diperlukan berdasarkan kriteria yang jelas.

Jadi, kalau dokter tidak langsung menyarankan operasi amandel untuk anakmu itu bukan karena mereka tidak peduli. Justru sebaliknya mereka sudah mengikuti perkembangan ilmu terkini yang lebih menghargai fungsi setiap organ dalam tubuh kita.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kakorlantas Sebut Pengaduan Masyarakat soal Fungsi Lalu Lintas Menurun: Kini Hanya 6,8 Persen
• 36 menit laluviva.co.id
thumb
Trump Lantik Kevin Warsh Jadi Ketua The Fed Baru, Ini Pesannya
• 15 jam lalukatadata.co.id
thumb
Fintech Bukan Buat Foya-Foya, Mahasiswa Harus Lebih Bijak Atur Uang
• 6 jam laluherstory.co.id
thumb
Euforia Persib Juara, Bobotoh Cianjur Padati Jalan Raya
• 1 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Sambil Kejar Skripsi, Ananda Hikmawati Sukses Raih Medali Perak Pancasila Cup 2
• 6 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.