Hubungan Amerika Serikat (AS) dan Iran masih memanas menyusul belum terjadinya kesepakatan damai di antara kedua negara. Negosiator utama Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, kini mengultimatum Iran akan membuat AS merasakan kehancuran jika perang kembali pecah.
"Angkatan bersenjata kami telah membangun kembali diri mereka sendiri selama periode gencatan senjata sedemikian rupa," kata Ghalibaf dilansir AFP, Sabtu (23/5/2026).
Ghalibaf mengatakan Iran akan memberikan perlawanan keras jika Presiden Donald Trump memilih untuk melanjutkan perang. Dia menyebut AS akan merasakan hal lebih pahit dari perang pertama yang sebelumnya telah terjadi pada 28 Februari silam.
"Sehingga jika Trump melakukan tindakan bodoh lainnya dan memulai kembali perang, itu pasti akan lebih menghancurkan dan pahit bagi Amerika Serikat daripada pada hari pertama perang," ujar Ghalibaf.
Ghalibaf mengeluarkan peringatan tersebut setelah bertemu Kepala Angkatan Darat Pakistan, Marsekal Lapangan Asim Munir. Marsekal Asim Munir merupakan tokoh terkemuka dalam upaya diplomatik untuk menegosiasikan kesepakatan untuk mengakhiri perang.
Munir, yang tiba di Teheran pada hari Jumat (22/5), telah mengadakan pembicaraan dengan para pejabat Iran di Teheran sementara Trump mengancam akan mengakhiri gencatan senjata yang rapuh yang telah menghentikan konflik sejak 8 April.
Menurut kementerian luar negeri Iran, Munir mengadakan pembicaraan dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi hingga larut malam pada hari Jumat setelah kedatangannya.
Kedua pihak membahas "upaya dan inisiatif diplomatik terbaru yang bertujuan untuk mencegah eskalasi lebih lanjut dan mengakhiri" perang, menurut kementerian tersebut.
Situs web kepresidenan Iran juga menerbitkan gambar Munir duduk bersama Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada hari Sabtu, menjelang pertemuan kedua dengan Araghchi.
Stasiun penyiaran negara IRIB mengatakan pertemuan tersebut diperkirakan akan menjadi diskusi hukum yang "sangat rinci dan mungkin panjang" di kementerian luar negeri.
Kantor berita negara Iran, IRNA, melaporkan Araghchi juga mengadakan panggilan diplomatik dengan rekan-rekannya dari Turki, Irak, dan Qatar.
Diplomat utama Iran itu juga berbicara tentang "upaya dan tren diplomatik yang sedang berlangsung untuk mencegah eskalasi ketegangan dan mengakhiri perang" dengan rekan sejawatnya dari Oman, Badr Albusaidi.
Oman telah lama menjadi mediator dalam pembicaraan antara Iran dan Amerika Serikat, sementara Iran telah menampilkan Pakistan sebagai pihak yang memainkan peran mediasi di tengah konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
Kepemimpinan Iran menuduh Washington melakukan "tuntutan berlebihan" dalam pembicaraan tersebut. Satu putaran pembicaraan langsung yang diselenggarakan oleh Islamabad bulan lalu, serta diplomasi jalur belakang selama beberapa minggu, masih gagal menghasilkan kesepakatan untuk mengakhiri konflik AS dan Iran.
(ygs/idh)





