Bisnis.com, TANGERANG SELATAN — Emiten logistik PT Jasa Berdikari Logistics Tbk. (LAJU) mulai beralih menggunakan truk listrik di tengah tingginya biaya solar nonsubsidi dan keterbatasan pasokan BBM di sejumlah wilayah luar Pulau Jawa.
Direktur Utama LAJU James Budiarto Tjandrakesuma mengatakan kelangkaan solar subsidi masih menjadi persoalan utama operasional logistik, terutama di kawasan Timur Indonesia. Padahal, Kalimantan dan Sulawesi merupakan wilayah operasional utama perseroan yang dinilai memiliki potensi pertumbuhan logistik cukup besar.
“Logistik di daerah Indonesia Timur itu mengalami kesulitan. Harganya ada, barangnya [solar subsidi] ada, tetapi harus antre dua hari. Itu pun kalau tidak kehabisan,” ujarnya dalam konferensi pers di BSD, Senin (25/5/2026).
James menjelaskan antrean panjang di stasiun pengisian bahan bakar kerap membuat sopir harus menunggu berhari-hari. Dalam beberapa kasus, stok solar subsidi habis saat giliran pengisian tiba.
Kondisi itu memaksa perusahaan menggunakan Dexlite atau Pertamina Dex yang harganya jauh lebih mahal dibandingkan solar subsidi. Akibatnya, kontribusi biaya bahan bakar terhadap total biaya operasional meningkat dari sekitar 30% menjadi hampir 50%.
James mengemukakan kondisi tersebut mendorong perusahaan untuk mempercepat transisi ke penggunaan kendaraan listrik untuk menjaga efisiensi operasional jangka panjang.
Baca Juga
- ASDP dan Kemenhub Siapkan Antisipasi Kepadatan Penyeberangan saat Iduladha
- Pengusaha Logistik Keluhkan Antrean Solar Subsidi di Luar Jawa
- Subsidi Motor Listrik Rp5 Juta, Moeldoko Usulkan Ojol Jadi Prioritas
“Ini membuat kami berpikir. Bagaimana ya solusinya? Sementara untuk daerah yang berkembang begitu itu kan opportunity untuk logistik,” jelasnya.
Selain mengurangi ketergantungan terhadap pasokan BBM, langkah itu juga dinilai dapat menjaga tarif logistik agar tidak terus naik mengikuti harga bahan bakar konvensional.
Pihaknya pun telah menandatangani rencana pengadaan 500 unit truk listrik untuk jangka waktu lima tahun ke depan. Pengadaan tahap awal dilakukan untuk 150 unit yang rencananya akan beroperasi pada tahun ini, khusus untuk wilayah Sulawesi.
“Kami utamakan pertama untuk di Palu dan diikuti Kendari dan wilayah lainnya di Sulawesi, yang Kalimantan mungkin menyusul,” lanjutnya.
James turut berharap percepatan penggunaan kendaraan listrik di sektor logistik dapat menekan harga truk listrik di masa mendatang.
Untuk memenuhi target pengadaan 500 unit, perseroan memperkirakan kebutuhan investasi mencapai Rp400 miliar hingga Rp450 miliar.
PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) telah memberikan pembiayaan awal senilai Rp120 miliar untuk mendukung pengadaan tahap pertama.
Adapun, truk listrik yang digunakan berasal dari Indomobil JAC tipe JAC UrbanMover N90. Kendaraan tersebut merupakan truk ringan listrik dengan gross vehicle weight (GVW) 9 ton dan kapasitas baterai 106,95 kWh.
Truk tersebut juga dilengkapi sistem pengereman udara (air brake system), fitur keselamatan electronic stability control (ESC) dan hill start assist (HSA), serta opsi electric power take-off (e-PTO) untuk berbagai kebutuhan karoseri, termasuk refrigerated box dan compactor.





