KUPANG, KOMPAS - Polisi terus menyelidiki kecelakaan yang menyebabkan dua wisatawan mancanegara tewas akibat jebolnya jembatan gantung di Air Terjun Cunca Wulang, Desa Wersawe, Kecamatan Mbeliling, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Peristiwa ini kembali menambah panjang daftar kecelakaan wisata di kawasan destinasi pariwisata superprioritas Labuan Bajo itu.
"Proses penyelidikan sedang berlangsung, dan lima orang sudah diperiksa sebagai saksi terkait peristiwa tersebut," kata Kepala Bidang Humas Polda NTT Komisaris Besar Henry Novika Chandra melalui sambungan telepon, Senin (25/5/2026).
Menurut Henry, saksi yang diperiksa di antaranya petugas yang berjaga di Air Terjun Cunca Wulang, pemandu wisata, dan aparatur pemerintah desa setempat. Penyidik juga mengagendakan pemeriksaan terhadap saksi-saksi lain yang berkaitan dengan pengelolaan destinasi pariwisata tersebut.
Henry belum dapat menyimpulkan ada atau tidaknya potensi tindak pidana, termasuk dugaan kelalaian dalam pengelolaan tempat wisata tersebut. Kesimpulan itu akan diambil setelah penyidik meminta keterangan tambahan dari pihak-pihak terkait.
Ia pun mengimbau wisatawan agar selalu waspada ketika berada di lokasi wisata atau dalam perjalanan menuju destinasi. Untuk objek wisata darat, wisatawan harus berhati-hati ketika memasuki zona berbahaya. Begitu pula saat berlayar di perairan Labuan Bajo yang memiliki arus dan gelombang rawan serta dapat menyebabkan kapal wisata tenggelam.
Pada Minggu (24/5/2026) sekitar pukul 11.30, dua wisatawan asal Austria terjatuh saat melintas di atas jembatan menuju lokasi wisata Air Terjun Cunca Wulang di Desa Wersawe, Kecamatan Mbeliling. Papan pada jembatan kayu itu tiba-tiba jebol ketika kedua korban melintas di atasnya.
Kedua korban jatuh ke dasar sungai yang berjarak sekitar 10 meter dari jembatan gantung. Mereka ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa. Tubuh korban diduga terbentur batu di dasar sungai. Kedua korban adalah laki-laki berinisial J (55) dan perempuan berinisial A (57).
Korban dievakuasi oleh tim pencarian dan pertolongan (SAR) gabungan yang melibatkan anggota SAR, masyarakat, Polri, dan TNI. "Korban terjatuh dan meninggal dunia di lokasi kejadian," kata Kepala Kantor SAR Maumere Fathur Rahman.
"Kedua warga negara Austria tersebut masuk ke Indonesia menggunakan visa on arrival untuk tujuan wisata pada 14 Mei 2026 melalui Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali," kata Kepala Kantor Imigrasi Kelas II Labuan Bajo Charles Christian.
Menurut Charles, pihaknya terus berkoordinasi dengan Polres Manggarai Barat, Kementerian Luar Negeri, serta Kedutaan Besar Austria untuk memastikan penanganan lebih lanjut terhadap kedua korban. Kini, jenazah kedua korban disemayamkan di Rumah Sakit Umum Daerah Komodo.
Serial Artikel
Tipu Muslihat Mafia Tanah yang Mencengkeram Labuan Bajo
Mafia tanah di Labuan Bajo diduga melibatkan oknum pengusaha, politisi, pegawai pertanahan, dan aparat keamanan. Lahan milik masyarakat adat tiba-tiba diklaim.
Kecelakaan dengan korban wisatawan, khususnya wisatawan asing, berulang kali terjadi di destinasi pariwisata superprioritas itu. Pada akhir 2025 hingga awal 2026, misalnya, dilakukan pencarian besar-besaran terhadap satu keluarga asal Spanyol yang tenggelam di perairan Labuan Bajo.
Dalam peristiwa itu, dua orang dinyatakan meninggal dunia dan satu korban hilang. Selain itu, kecelakaan juga terjadi di beberapa titik lain. Banyak korban jiwa berjatuhan akibat kecelakaan tersebut, baik wisatawan asing maupun wisatawan nusantara.
Pegiat wisata Labuan Bajo, Doni Parera, berpendapat, kondisi ini menunjukkan adanya darurat keselamatan wisatawan di destinasi pariwisata superprioritas tersebut. Kondisi ini dapat berdampak buruk pada citra Labuan Bajo.
"Wisata superpremium kita payah. Mautnya juga superpremium. Wisatawan seperti datang setor nyawa. Ke laut diintai maut, ke gunung juga sama," kata Doni.
Menurut Doni, tahun lalu pemasukan pendapatan asli daerah Kabupaten Manggarai Barat dari objek wisata Cunca Wulang mencapai sekitar Rp 260 juta. Jembatan tersebut direnovasi Dinas Pariwisata setempat pada 2023. "Bagaimana dengan perawatan rutin setiap hari?" ujarnya.
Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat dalam siaran pers menyampaikan, Wakil Bupati Manggarai Barat Yulianus Weng memantau langsung penanganan korban, mulai dari evakuasi di lokasi kejadian hingga tiba di RSUD Komodo. Ia menegaskan, urusan kemanusiaan dan penghormatan terhadap korban merupakan hal mendasar yang harus diselesaikan terlebih dahulu.
Meskipun saat ini fokus masih pada penanganan korban, Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat tetap memikirkan langkah lain, seperti pembenahan sistemik dan evaluasi total, agar kejadian serupa tidak terulang pada masa mendatang.
Serial Artikel
”Amplop Syahbandar” dan Karamnya Kapal Carteran Pelatih Valencia di Labuan Bajo
Pungutan liar marak terjadi di hampir semua pelabuhan di Indonesia. Keselamatan pelayaran dipertaruhkan.





