Bisnis.com, DENPASAR – Perusahaan penyedia alat kebutuhan rumah tangga milik Hermanto Tanoko, Moorlife berhasil ekspor ke 7 negara dan saat ini sedang merambah pasar Amerika Serikat.
Hermanto Tanoko selalu Founder Moorlife menjelaskan produknya teha diekspor ke Filipina, Malaysia, Rumania, Afrika Selatan, Malaysia, Brunei Darussalam, Kamboja dan Mauritania. Moorlife juga mulai merambah pasar Amerika Serikat dengan ikut pameran di Chicago.
"Setiap bulan kami bisa ekspor 3 kontainer, ke Filipina sudah rutin sekali, kemudian kami juga mulai mencoba pasar Amerika Serikat," jelas Hermanto di event Bali Champion Conference, Jumat (22/5/2026).
Menurutnya kunci dari produknya diterima di banyak negara karena memiliki kualitas yang tinggi. Ia menjelaskan akan terus meningkatkan ekspor karena berdampak positif bagi ekonomi nasional. "Ekspor ini akan menambah devisa negara," kata dia.
Untuk pasar domestik, pendiri Tancorp ini menjelaskan sudah hadir di seluruh Indonesia melalui jaringan member yang dibentuk. Menurutnya produknya cukup diterima di masyarakat daerah karena kualitasnya cukup baik. Terlihat dari penjualan member Moorlife yang bisa mencapai ratusan juta per bulan.
Member merupakan jaringan moorlife yang mayoritas merupakan Ibu - Ibu dari berbagai profesi, mulai dari ibu rumah tangga hingga pekerja swasta maupun ASN. Moorlife tidak merekrut mereka sebagai karyawan, tetapi menjadikan mereka mitra. Menurut Hermanto dengan konsep kemitraan potensi keuntungan member menjadi lebih besar.
Baca Juga
- Emiten Hermanto Tanoko (RISE) Bukukan Pendapatan Rp95,7 Miliar Kuartal I/2026
- Emiten Cat Hermanto Tanoko (AVIA) Putuskan Bagi Dividen Rp1,36 Triliun
- Emiten Hermanto Tanoko (BLES) Kantongi Laba Bersih Rp84 Miliar Sepanjang 2025
“Kami ingin seluruh member Moorlife terus bertumbuh, bukan hanya dalam bisnis, tetapi juga dalam kualitas diri dan mental pemenang,” ujar Hermanto
Hermanto juga menjelaskan potensi pasar alat rumah tangga, khususnya plastik penyimpan makanan, tumbler dan lainnya masih sangat besar, apalagi ada kebijakan di banyak daerah sudah melarang atau membatasi penggunaan plastik sekali pakai. Menurutnya potensi pasar plastik mencapai Rp8 triliun per tahun.





