JAKARTA, KOMPAS.com - Penanganan banjir di Jakarta tidak lagi berdiri sendiri. Kini, semuanya saling terhubung dalam satu sistem besar yang terintegrasi dari wilayah hulu hingga hilir.
Tiga komponen utama yang menjadi tulang punggung sistem ini adalah bendungan, sodetan sungai, dan stasiun pompa air.
Ketiganya bekerja sebagai satu rangkaian untuk mengurangi debit air dari wilayah hulu, mengalihkan aliran sungai, hingga membuang kelebihan air di wilayah hilir ketika kapasitas sungai utama sudah tidak mampu menampung curah hujan ekstrem.
Baca juga: Kronologi Kebakaran Afterhour Poins Square Lebak Bulus Jaksel
Kepala Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta, Ika Agustin, menjelaskan bahwa seluruh infrastruktur pengendali banjir dibangun berdasarkan kemampuan menampung curah hujan tertentu.
“Infrastruktur pengendali banjir seperti pompa air, tanggul sungai, saluran drainase, waduk, situ atau embung dibangun dengan kapasitas desain atau kemampuan menampung dan mengalirkan aliran permukaan dari curah hujan dengan besaran tertentu,” kata Ika saat dikonfirmasi melalui pesan Whatsapp, Senin (25/5/2026).
Ia menjelaskan, kapasitas tersebut umumnya digunakan untuk curah hujan 100–150 mm.
Namun, dalam beberapa tahun terakhir, intensitas hujan di Jakarta meningkat hingga 150–250 mm akibat perubahan iklim.
“Jadi, pembangunan infrastruktur pengendali banjir di Jakarta efektif untuk curah hujan 100-150 mm, sedangkan untuk curah hujan yang lebih tinggi lagi dibutuhkan kapasitas infrastruktur yang lebih besar, di mana ini akan berbanding lurus dengan kebutuhan lahan untuk pembangunan dan kebutuhan biaya untuk pembangunan infrastruktur pengendali banjir,” katanya.
Pengendalian Air di Wilayah HuluDi bagian paling awal, pengendalian banjir dilakukan di wilayah hulu, yakni Bogor dan sekitarnya. Di wilayah ini terdapat bendungan dan bendung yang berfungsi menahan serta mengurangi debit air sebelum masuk ke Jakarta.
Ika menyebut infrastruktur di hulu tidak semuanya berada di bawah kewenangan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta.
Baca juga: Sebuah Ruko di Kampung Bali Jakpus Terbakar, 19 Mobil Damkar Diterjunkan
“Adapun bendung dan bendungan yang berada di Jawa Barat (hulu) untuk mereduksi potensi banjir di Jakarta (hilir), yakni Bendungan Sukamahi dibangun dan dikelola oleh Kementerian Pekerjaan Umum (PU). Kemudian ada Bendung Katulampa yang dikelola Dinas SDA Jawa Barat bersama dengan Suku Dinas SDA Jakarta Selatan,” kata Ika.
Pengaturan Aliran Sungai di JakartaSetelah dari hulu, air masuk ke wilayah Jakarta. Pada tahap ini, pengendalian dilakukan melalui sungai, termasuk pengalihan aliran air agar tidak menumpuk di satu titik.
Salah satu infrastruktur penting di tahap ini adalah Sodetan Ciliwung. Sodetan berfungsi mengalihkan sebagian aliran sungai ke jalur lain agar tidak menumpuk di satu titik.
“Sodetan Ciliwung yang berada di wilayah Jatinegara, Jakarta Timur, juga operasionalnya berada dalam kewenangan Kementerian PU (Pekerjaan Umum),” ujarnya.
Selain sungai, SDA juga mengandalkan waduk, situ, dan embung sebagai tempat penampungan air sementara saat hujan deras.




