Dari Hobi Masa SD, Airin Sulap Rajutan Jadi Sumber Rezeki

harianfajar
11 jam lalu
Cover Berita

Hobi merajut sejak kecil membawa Airin ID Tendean menjadi pelaku UMKM sukses di Makassar. Lewat AT Craft, ia bahkan meraih juara 3 BRIncubator 2025.

Edward AS
Kecamatan Tamalate

Benang-benang warna-warni memenuhi sudut rumah di Perumahan Residence Alaudin Mas blok A/4 Makassar. Dari tangan seorang perempuan bernama Airin ID Tendean, rajutan sederhana yang dahulu hanya menjadi pelajaran sekolah dasar kini menjelma menjadi sumber penghasilan, jejaring komunitas, hingga jalan menuju pasar ekspor.

Di usia 53 tahun, Airin masih mengingat betul bagaimana dirinya pertama kali mengenal rajutan saat duduk di bangku SD sekitar tahun 1985. Saat itu ia hanya diajarkan membuat taplak meja dan boneka sederhana oleh guru sekolah.

“Dahulu belum ada YouTube, belum ada tutorial online. Jadi benar-benar diajar langsung sama guru,” kenang owner AT Craft tersebut sambil tersenyum, Senin, 25 Mei 2026.

Hobi itu sempat terhenti cukup lama. Airin kemudian bekerja selama sekitar 12,5 tahun di salah satu perusahaan swasta sebelum akhirnya memutuskan berhenti bekerja. Namun benang rajutan rupanya tidak pernah benar-benar lepas dari hidupnya.

Sekitar tahun 2017, ia mulai kembali merajut. Awalnya hanya untuk mengisi waktu dan menghidupkan kembali kesenangan masa kecilnya. Dari satu-dua produk, lama-lama rumahnya dipenuhi tas rajut hasil karyanya sendiri.

“Sampai mama saya bilang, ini tas-tas di luar mau diapakan?” ujar Airin tertawa.

Saat itu ia belum mengenal dunia UMKM. Produk-produknya hanya menumpuk di rumah tanpa tahu harus dipasarkan ke mana. Titik balik datang ketika ia berjalan-jalan di kawasan CPI Makassar pada 2020 dan melihat booth Dekranasda Sulsel.

Dengan bantuan relasi suaminya, Airin akhirnya diperkenalkan kepada pengurus Dekranasda Sulsel dan mulai bergabung sebagai UMKM binaan. Dari situlah AT Craft mulai menemukan jalannya.

Perempuan kelahiran Makassar, 21 Juni 1973 itu perlahan belajar tentang pemasaran, pameran, hingga digitalisasi usaha. Ia aktif mengikuti berbagai pelatihan UMKM, terutama yang difasilitasi BRI.

“Manfaatnya luar biasa. Kami diajar pemasaran, digitalisasi, sampai AI untuk pengembangan usaha,” katanya.

Airin mengaku hampir tidak pernah melewatkan pelatihan. Baginya, ilmu menjadi modal utama agar UMKM bisa bertahan di tengah perubahan zaman.

Di tengah pandemi Covid-19, ia mulai semakin serius mengembangkan usaha. Awalnya AT Craft hanya fokus pada produk rajutan seperti tas dan topi. Namun pada 2023, Airin mulai melakukan diversifikasi produk ke kerajinan manik-manik.

Keputusan itu ternyata tepat. Produk seperti cover tumbler dan aksesori manik-manik menjadi salah satu produk paling cepat terjual.

“Kalau yang paling fast moving sekarang topi sama cover tumbler,” ujarnya.

Permintaan pun mulai berdatangan dari berbagai pihak. Salah satu pesanan terbesar datang dari Pemerintah Provinsi Sulsel saat era Gubernur Andi Sudirman Sulaiman.

Airin mendapat pesanan 500 pieces cover tumbler untuk dimasukkan dalam goodie bag acara kenegaraan 17 Agustus di gubernuran. Pesanan itu menjadi salah satu momen paling membanggakan dalam perjalanan usahanya.

“Rasanya tersanjung sekali karena produk saya dipakai untuk tamu-tamu gubernur,” katanya.

Tak hanya itu, produk AT Craft juga mulai masuk ke sejumlah hotel di Makassar seperti Hotel Almadera Makassar, MaxOne Hotel Makassar, hingga Hotel Claro Makassar. Ia juga menitipkan produknya di sejumlah bank dan pusat UMKM.

Meski terlihat sederhana, Airin menegaskan usaha rajutan bisa menjadi sumber penghasilan utama jika dikelola serius. Dalam sebulan, omzet usahanya bisa mencapai Rp5 juta hingga Rp6 juta, bahkan lebih ketika ada pesanan besar.

“Yang penting konsisten. Jangan berhenti produksi dan harus aktif cari pasar,” tuturnya.

Konsistensi itu pula yang membawanya lolos dalam program inkubator UMKM nasional binaan BRI pada 2025. Dari sekitar 1.500 peserta, Airin berhasil masuk 30 besar nasional dan meraih juara tiga.

Padahal sebagian besar peserta lain sudah berbicara soal ekspor dan memiliki usaha dengan skala jauh lebih besar.

“Saya mungkin menang karena aktif bertanya dan selalu hadir waktu pelatihan,” katanya.

Kini Airin mulai mempersiapkan langkah lebih besar. Selain mengembangkan produk handmade, ia mulai melirik bisnis sabun dan produk legalitas ekspor. Ia bahkan tengah mengurus standar produksi dan sertifikasi untuk memperluas pasar.

Di usianya yang tidak lagi muda, Airin justru semakin bersemangat belajar teknologi. Ia mulai memanfaatkan AI untuk membuat foto dan video promosi produknya.

“Kalau tidak belajar teknologi, kita bisa tertinggal,” ujarnya.

Bagi Airin, usia bukan alasan untuk berhenti berkembang. Ia justru menyayangkan banyak program yang membatasi usia peserta maksimal 45 tahun.

“Padahal usia seperti kami ini masih mau berkarya dan produktif,” katanya.

Leader Project Rumah BUMN Makassar, Ayu Anisela, menilai pencapaian Airin ID Tendean sebagai juara 3 BRIncubator 2025 menjadi bukti bahwa pelaku UMKM lokal memiliki daya saing kuat. Utamanya jika konsisten mengikuti pembinaan dan terus mengembangkan kapasitas usahanya.

Menurut Ayu, Airin merupakan salah satu pelaku UMKM binaan yang aktif mengikuti berbagai program pelatihan, baik terkait pemasaran, digitalisasi usaha, pengembangan produk, hingga pemanfaatan teknologi berbasis AI untuk promosi.

“Bu Airin merupakan juara 3 pemenang BRIncubator 2025. Ini pencapaian yang sangat membanggakan karena beliau mampu bersaing dengan ribuan pelaku UMKM dari berbagai daerah di Indonesia,” ujar Ayu.

Ia mengatakan, selama mengikuti proses inkubasi, Airin dikenal aktif berdiskusi, konsisten mengikuti pelatihan, serta memiliki semangat belajar yang tinggi meski tidak lagi berada di usia muda. Menurutnya, karakter tersebut menjadi salah satu kekuatan utama yang membuat Airin mampu berkembang dan terus memperluas pasar produknya.

“Beliau ini tipikal pelaku UMKM yang tidak cepat puas. Selalu mau belajar, mau mencoba hal baru, dan terus meningkatkan kualitas produk. Semangat seperti ini yang dibutuhkan UMKM agar bisa naik kelas,” katanya.

Ayu menambahkan, keberhasilan Airin juga menunjukkan bahwa produk handmade seperti rajutan dan kerajinan manik-manik masih memiliki peluang pasar yang besar apabila dikemas dengan kreativitas dan strategi pemasaran yang tepat.

“Bu Airin berhasil membuktikan bahwa produk kerajinan lokal punya potensi besar. Tinggal bagaimana pelaku usaha konsisten menjaga kualitas, aktif mengikuti pelatihan, dan mampu membaca kebutuhan pasar,” tuturnya.

Ekonom Sahade menilai pelaku UMKM memiliki peluang besar untuk berkembang dan naik kelas apabila mendapatkan pendampingan serta pelatihan yang tepat dan berkelanjutan. Menurutnya, banyak pelaku UMKM sebenarnya memiliki produk yang potensial, namun kerap terkendala pada aspek pemasaran, manajemen usaha, hingga pemanfaatan teknologi digital.

“UMKM itu bisa berkembang sangat cepat kalau diberikan pelatihan yang benar, terutama terkait manajemen usaha, pemasaran digital, penguatan branding, sampai adaptasi teknologi,” ujar Sahade.

Ia mengatakan, pola pembinaan yang konsisten menjadi faktor penting agar pelaku UMKM tidak hanya mampu bertahan. Akan tetapi juga memperluas pasar hingga memiliki daya saing lebih tinggi.

Sahade menilai peran sektor perbankan dalam pembinaan UMKM juga sangat penting, terutama dalam membuka akses pelatihan, pembiayaan, dan jejaring usaha. Menurutnya, langkah yang dilakukaan BRI melalui berbagai program pendampingan dan inkubator UMKM sudah berada di jalur yang tepat.

“Peran BRI sangat baik dalam membina UMKM. Tidak hanya memberikan akses permodalan, tetapi juga menghadirkan pelatihan, pendampingan, dan pengembangan kapasitas usaha sehingga UMKM bisa lebih siap bersaing,” katanya. (*)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Sering Dikritik hingga Terancam Dicopot, Maarten Paes Bikin Janji Begini kepada Ajax Amsterdam
• 2 jam lalutvonenews.com
thumb
Rencana Induk Pascabencana Sumatera Rampung, 11.512 Program Pemulihan Masuk Skala Prioritas hingga 2028
• 21 jam lalutvonenews.com
thumb
Anggota DPR minta penyeleweng BBM subsidi dituntut hukuman maksimal
• 20 jam laluantaranews.com
thumb
Jamaah Naqsyabandiyah di Padang Lebih Dulu Gelar Shalat Idul Adha 1447 Hijriah
• 3 jam lalutvonenews.com
thumb
KIP Kuliah SNBT 2026 Pakai DTSEN, Hanya 39 Ribu Pendaftar Dinyatakan Layak Terima Bantuan
• 12 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.