Jakarta: Danantara Indonesia Trust (DIT) mulai memperluas perannya sebagai mesin filantropi nasional lewat tiga kolaborasi strategis di sektor kesehatan, pendidikan, dan budaya. Langkah ini menandai upaya Danantara untuk tidak hanya fokus mengelola investasi negara, tetapi juga memperkuat dampak sosial jangka panjang bagi masyarakat Indonesia.
Peluncuran kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman antara Danantara Indonesia Trust dengan Kementerian Kesehatan, Yayasan Karya Salemba Empat, serta Museum dan Cagar Budaya atau Indonesia Heritage Agency di Jakarta.
Baca juga: DSI Resmi Dibentuk, Mesin Baru Buat Cuan Devisa Indonesia?CEO Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) Rosan Roeslani mengatakan pembentukan Danantara Indonesia Trust merupakan bagian dari strategi memperluas kontribusi sosial lembaga tersebut di luar pengelolaan aset dan investasi negara.
“Penciptaan nilai jangka panjang tidak hanya soal investasi, tetapi juga bagaimana memberikan dampak nyata bagi masyarakat,” ujar Rosan dikutip dari Antara.
Menurut dia, Danantara Indonesia Trust akan fokus pada sejumlah sektor prioritas, mulai dari kesehatan, pendidikan, kebudayaan, hingga program air bersih, sanitasi, dan higiene (WASH). Untuk memperkuat fondasi kelembagaan, Danantara juga menggandeng Gates Foundation dalam membangun sistem filantropi yang profesional, transparan, dan memiliki tata kelola yang kuat.
Di sektor kesehatan, DIT mengalokasikan dukungan awal senilai sekitar Rp250 miliar untuk memperkuat program kesehatan ibu dan anak. Bantuan tersebut mencakup penyediaan vaksin heksavalen, penguatan rantai pendingin vaksin (cold chain), hingga distribusi suplemen multiple micronutrient bagi ibu hamil dan ibu nifas sebagai bagian dari upaya pencegahan stunting.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan dukungan pembiayaan nonpemerintah menjadi penting untuk memperkuat sistem kesehatan nasional, terutama di tengah masih tingginya tantangan gizi dan imunisasi anak di Indonesia.
“Masih ada hampir 960 ribu anak zero-dose yang belum pernah menerima imunisasi sama sekali. Angka kematian ibu juga masih tinggi dibandingkan negara ASEAN lainnya,” kata Budi.
Sementara itu, pada sektor pendidikan, DIT bekerja sama dengan Yayasan Karya Salemba Empat untuk memberikan beasiswa selama tiga tahun kepada sekitar 500 mahasiswa dari keluarga kurang mampu di berbagai daerah.
Program tersebut tidak hanya mencakup bantuan biaya pendidikan, tetapi juga mentoring, pengembangan kepemimpinan, dan kesiapan karier. Inisiatif ini dinilai relevan karena masih tingginya jumlah anak muda Indonesia yang masuk kategori Not in Education, Employment or Training (NEET).
Adapun di sektor budaya, DIT menggandeng Indonesia Heritage Agency untuk mendukung pengembangan perpustakaan di Museum Nasional Indonesia sekaligus membantu revitalisasi area museum yang terdampak kebakaran pada 2023.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengatakan dukungan tersebut menjadi bagian penting dalam memperkuat posisi budaya Indonesia sebagai aset strategis nasional sekaligus instrumen soft power di tingkat global.
Ketua Danantara Indonesia Trust Nuraini Razak mengatakan ketiga program perdana tersebut dipilih berdasarkan kebutuhan pembangunan yang dinilai paling mendesak, mulai dari kesehatan ibu dan anak hingga akses pendidikan dan literasi budaya.
Menurut dia, DIT ke depan akan diarahkan sebagai platform kolaborasi yang mampu menghubungkan berbagai pemangku kepentingan untuk menciptakan dampak sosial dalam skala besar.
Selain menjalankan program, Danantara Indonesia Trust juga tengah membangun sistem pengawasan, tata kelola, serta kerangka monitoring, evaluation, and learning (MEL) guna memastikan efektivitas dan keberlanjutan setiap program sosial yang dijalankan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di




