Peringati Hari Jamu Nasional, 300 Orang Minum Jamu Serentak di UGM

kumparan.com
1 jam lalu
Cover Berita

Sebanyak 300-an orang yang terdiri dari akademisi, mahasiswa, pekerja swasta, hingga perwakilan instansi pemerintahan mengikuti kegiatan minum jamu bersama di Universitas Gadjah Mada (UGM), Senin (25/5). Kegiatan tersebut digelar untuk memperingati Hari Jamu Nasional.

Aksi ini menjadi bagian dari gerakan minum jamu serentak yang dilaksanakan di berbagai daerah di Indonesia. Acara di UGM juga berlangsung secara hybrid dengan melibatkan peserta dari sejumlah wilayah di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Ketua Dewan Jamu Indonesia Cabang DIY, Prof. Nyoman Kertia, mengatakan kegiatan tersebut menjadi upaya mengedukasi masyarakat tentang pentingnya jamu sebagai bagian dari gaya hidup sehat dan pencegahan penyakit. Menurutnya, jamu perlu dipahami tidak hanya sebagai pengobatan alternatif, tetapi juga sebagai upaya menjaga kebugaran sejak dini.

“Jamu itu adalah agar kita produktif. Untuk kebugaran. Jangan menunggu sakit,” kata Nyoman dalam agenda tersebut, Senin (25/5).

Ia menambahkan, penyakit seperti diabetes, asam urat, kolesterol, hingga penyakit jantung menurutnya dapat dicegah melalui penerapan gaya hidup sehat yang kembali pada kearifan lokal. Karena itu, generasi muda didorong untuk mulai mengenal jamu melalui inovasi produk yang lebih modern dan sesuai dengan selera mereka.

“Kencing manis, asam urat, sakit gula, darah tinggi, kanker itu semua bisa dicegah dengan jamu. Kalau sampai masyarakat meninggalkan jamu itu fatal,” ujarnya.

Nyoman juga menilai masih banyak tenaga medis yang belum memahami posisi jamu dalam sistem kesehatan. Menurutnya, jamu memiliki tingkatan penggunaan yang berbeda, mulai dari jamu tradisional untuk kebugaran hingga fitofarmaka yang memiliki dasar ilmiah lebih kuat.

Sementara itu, Wakil Rektor UGM Bidang Penelitian, Pengembangan Usaha, dan Kerja Sama, Danang Sri Hadmoko, mengatakan kampus memiliki komitmen mengembangkan riset jamu melalui berbagai disiplin ilmu. Ia menyebut jamu tidak hanya dipandang dari sisi kesehatan, tetapi juga sebagai bagian dari warisan budaya Indonesia yang memiliki potensi untuk terus dikembangkan.

Danang menjelaskan pengembangan dan penelitian jamu di UGM melibatkan banyak fakultas, mulai dari Fakultas Farmasi, Fakultas Kedokteran, Fakultas Pertanian, hingga Fakultas Ilmu Budaya. Menurutnya, kolaborasi lintas disiplin penting untuk memperkuat ekosistem industri herbal nasional.

“UGM memiliki sudut pandang dalam penelitian jamu. Di FKKMK UGM para penelitinya sangat giat sekali meneliti jamu. Teman-teman di Fakultas Ilmu Budaya saya kira juga memiliki peran bagaimana jamu dalam konteks budaya Indonesia. Teman-teman di Fakultas Pertanian saya kira juga bisa support berkaitan dengan sustainability ketersediaan bahan baku,” kata Danang.

Ia menilai tantangan berikutnya adalah memperkuat advokasi kebijakan agar jamu semakin diterima dalam sistem layanan kesehatan formal.

“PR kita adalah bagaimana melakukan advokasi kebijakan,” tuturnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Nabung atau Belanja? Perspektif Ekonomi Islam di Tengah Kenaikan Harga
• 12 jam lalukumparan.com
thumb
Dedi Mulyadi Beri Ultimatum kepada Kepala Sekolah dan Panitia SPMB, Sekolah Maung Wajib Bersih dari Siswa Titipan
• 8 jam lalutvonenews.com
thumb
Modus Pocong Meresahkan Warga, Dedi Mulyadi Tegas Minta Aktifkan Siskamling di Setiap Lingkungan
• 9 jam lalutvonenews.com
thumb
Koperasi Merah Putih: Kebangkitan Ekonomi Desa atau Sentralisasi Baru?
• 6 jam lalukompas.id
thumb
Sentil Kultur Ekonomi Lama, Legislator Gerindra Buka-bukaan Misi Hilirisasi Prabowo
• 4 jam lalujpnn.com
Berhasil disimpan.