Pada 1967, seorang siswi SMP bernama Suciati mulai berjualan ayam di sebuah lapak kecil di Pasar Terban, Yogyakarta. Tidak ada yang mencatat hari itu sebagai awal dari sesuatu yang besar. Namun, lebih dari setengah abad kemudian, bisnis kecil itu rupanya berkembang menjadi perusahaan unggas dengan distribusi produk lintas pulau. Namanya adalah Saliman Riyanto Group.
Perjalanan itu tentunya tidak berlangsung dalam semalam. Supervisor Produksi Saliman Riyanto Group, Sumanto, menjadi salah satu saksi yang melihat langsung perkembangan bisnis keluarga ini dari waktu ke waktu. Ia mulai bekerja di perusahaan ini pada usia 19 tahun, dan masih menyimpan ingatan tentang bagaimana proses produksi berjalan saat itu.
"Tahun 1988 itu motongnya masih manual sambil duduk, dua orang saja. Satu hari cuma bisa 400 ekor dari jam 12 malam sampai jam 6 pagi,"ungkapnya
"Sekarang, sudah nggak bisa dihitung, sudah 37 ribu ekor per hari," ujarnya," lanjutnya
Dari usaha pemotongan manual berskala kecil, bisnis keluarga ini secara bertahap membangun struktur industri yang mencakup seluruh rantai produksi. CEO Saliman Riyanto Group, Atiek Raharjo, menjelaskan perkembangan operasional perusahaan yang kian hari kian modern dan menyesuaikan standar terbaru.
"Ibu Suciati itu dulu dari bakul ayam tahun 1967. Sekarang, perusahaan kami bergerak di bidang integrated poultry industry, mulai dari rumah pemotongan ayam atau RPA, processing, hingga retail untuk distribusi," kata Atiek
"Kami memastikan penyembelihan dilakukan secara manual sesuai sertifikasi halal. Namun, untuk efektivitas, proses produksinya sudah full menggunakan mesin," lanjutnya.
Kapasitas produksi perusahaan kini ditopang oleh peternakan internal dan jaringan mitra plasma. Untuk menjaga kualitas produk, perusahaan menerapkan standar Halalan Thoyyiban dan menggunakan sistem Air Blast Freezer bersuhu minus 40 derajat celsius guna mencegah pertumbuhan bakteri.
Komisaris PT Saliman Riyanto Group, Maharani Diva, menyebut standar itu diterapkan untuk menjaga kepercayaan pasar yang telah dibangun sejak puluhan tahun lalu.
"Halalan Thoyyiban ini standar kami agar produk sampai ke customer dalam kondisi baik. Ayam frozen kami bukan ayam lama, tapi bagaimana kami menjaga kualitas agar bakteri tidak berkembang. Kami sudah mensuplai restoran internasional sejak tahun 1980-an, hotel-hotel, hingga area pertambangan di seluruh Indonesia," ujarnya.
Jaringan distribusi Saliman Riyanto Group kini mencakup Jakarta, Jawa Timur, Kalimantan, hingga Papua. Di tengah ekspansi itu, Diva selaku generasi penerus menyebutkan satu nilai yang tak pernah berubah sejak bisnis masih dijalankan neneknya: kebermanfaatan bagi sesama.
"Wasiat terbesar Eyang Ibu Suciati adalah bagaimana kita harus selalu menjadi orang yang Urip Iku Urup. Kita harus bermanfaat bagi orang banyak. Kehidupan satu karyawan di sini, minimal ada tiga anggota keluarga lain yang harus mereka hidupi," katanya.
Nilai itu dibenarkan oleh Sumanto yang juga pernah merasakannya langsung saat bekerja bersama Suciati.
"Ibu (Suciati) dulu itu benar-benar ikut terjun langsung kerja sama karyawan jam 2 malam. Kami dianggap kayak keluarga sendiri. Saya dari usia 19 sampai sekarang 56 tahun di sini, sudah diumrohkan dan dibantu perbaikan rumah juga," tuturnya.





