Pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) untuk mengatasi pemadaman listrik di wilayah pedesaan Indonesia mulai menjadi perhatian generasi muda. Seorang siswi SMA Pelita Harapan Karawaci, Elaine Wynette Wijaya, mempresentasikan riset berbasis AI untuk membantu mencegah blackout di desa-desa Indonesia dalam forum Jakarta Scholars Symposium (JSS) 2026 di Jakarta.
Dalam risetnya, Elaine menyoroti masih tingginya risiko pemadaman listrik di sejumlah wilayah seperti Papua, Aceh, dan Lombok akibat kondisi geografis, lemahnya infrastruktur transmisi, hingga ketergantungan pada sistem microgrid.
“Pemadaman listrik bukan hanya soal ketiadaan penerangan, tetapi sudah menjadi krisis multidimensi yang menghambat produktivitas ekonomi, layanan kesehatan, hingga pendidikan masyarakat desa,” ujar Elaine dalam draft penelitiannya.
Melalui pendekatan AI berbasis machine learning, deep learning, dan reinforcement learning, sistem tersebut dirancang untuk memprediksi pola konsumsi energi, mendeteksi gangguan jaringan lebih cepat, hingga mengatur distribusi daya secara otomatis.
Dalam riset tersebut, penerapan AI pada sistem kelistrikan pedesaan disebut berpotensi menurunkan frekuensi pemadaman hingga 15 persen dan menekan biaya operasional sampai 25,6 persen. Teknologi tersebut juga dinilai dapat mempercepat proses pemulihan jaringan listrik saat terjadi gangguan.
Elaine mengatakan pengembangan teknologi AI untuk sektor energi pedesaan perlu dirancang lebih sederhana dan terjangkau agar dapat diterapkan langsung di masyarakat.
“Kecerdasan buatan menawarkan harapan nyata untuk mengakhiri siklus pemadaman yang telah lama menjadi beban masyarakat desa,” tulis Elaine.
Baca Juga: ESDM Tegaskan Bakal Cek Kompensasi Pelanggan Terdampak Blackout Sumatera
Baca Juga: Blackout di Sumatera, Anggota Komisi VI DPR Desak Evaluasi Total PLN
Ia juga mendorong pengujian langsung sistem AI berbasis microgrid di desa-desa Indonesia guna mengukur efektivitas teknologi tersebut dalam kondisi nyata.
Jakarta Scholars Symposium 2026 merupakan forum independen yang mempertemukan pelajar untuk mempresentasikan gagasan inovatif di berbagai sektor, mulai dari energi, lingkungan, kesehatan, hingga pemberdayaan sosial. Tahun ini forum tersebut menghadirkan sembilan pelajar dengan berbagai proyek riset terkait tantangan pembangunan Indonesia.





