Rupiah Tembus Rp 17.900, Sampai di Mana Depresiasi akan Berlanjut?

kompas.id
2 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus melemah hingga berulang kali mencetak rekor-rekor pelemahan baru sepanjang sejarah. Pelemahan ini menandai tekanan ganda yang datang dari kondisi moneter global dan tantangan stuktural domestik yang mulai diuji oleh pelaku pasar.

Di sisi lain, repons kebijakan moneter dengan menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin belum cukup mampu meredam tekanan tersebut. Oleh sebab itu, penguatan kebijakan sebaiknya dibarengi dengan kepastian kebijakan demi efektivitas stabilisasi.

Mengutip data Bloomberg, nilai tukar rupiah sempat menembus Rp 17.906 per dolar AS pada perdagangan Kamis (28/5/2026) siang, melemah 0,58 persen dibanding penutupan pasar hari sebelumnya. Secara tahun kalender berjalan, rupiah terhadap dolar AS melemah sebesar 7,34 persen.

Adapun transaksi itu berlangsung di pasar derivatif luar negeri (off-shore) alias NDF. Sebaliknya, transaksi spot dan derivatif domestik (DNDF) libur bertepatan dengan peringatan hari raya Idul Adha pada 27 Mei yang dilanjutkan dengan cuti bersama pada 28 Mei 2026.

Sebelumnya, nilai tukar rupiah sempat ditutup dengan menembus level Rp 17.000 per dolar AS pada awal April 2026. Padahal, level ini merupakan titik pelemahan terdalam saat krisis Asia 1997-1998. Pelemahan pun terus terjadi hingga rupiah bertengger di level Rp 17.789 per dolar AS pada 26 Mei 2026.

Guru Besar Ilmu Ekonomi Moneter dan Perbankan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga, Rahma Gafmi, menjelaskan, pergerakan rupiah di kisaran Rp 17.700-Rp 17.800 per dolar AS telah menciptakan kecemasan akan hilangnya jangkar stabilitas.

Bahkan, sekalipun BI menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen pada 20 Mei 2026 lalu, depresiasi rupiah seolah masih melanjutkan tren pelemahannya. Sejak kenaikan suku bunga hingga 26 Mei 2026, rupiah tercatat melemah 0,6 persen.

“Pelemahan ini bukan sekadar masalah angka, melainkan sinyal bahwa ekonomi Indonesia sedang berada dalam himpitan ganda, yaitu tekanan moneter global yang tak kunjung reda dan tantangan struktural domestik yaitu energi dan fiskal yang mulai diuji oleh pasar,” ujarnya saat dihubungi dari Jakarta.

Jika BI mampu membuktikan bahwa cadangan devisa masih cukup kuat untuk menjaga volatilitas di level tertentu, para spekulan akan mulai mundur (profit taking). Pelepasan posisi beli dolar oleh pelaku pasar ini sering kali menjadi awal dari penguatan rupiah yang cepat.

Dari sisi global, pasar masih meyakini suku bunga AS akan bertahan tinggi jauh lebih lama (higher for longer). Ini tercermin dari kenaikan indeks dolar AS terhadap mata uang utama dunia (DXY) ke posisi 99,1 dan naiknya imbal hasil obligasi AS (US Treasury).

Dengan kata lain, investor melihat selisih (spread) imbal hasil Indonesia masih belum cukup kompetitif dibandingkan dengan aset dolar AS. Artinya, daya tarik instrumen domestik sedang diuji oleh magnet kelas aset aman (safe haven) yang sangat kuat.

Di sisi lain, pasokan devisa mengetat seiring kebutuhan dolar AS untuk pembayaran utang luar negeri dan repatriasi deviden yang mencapai puncaknya pada triwulan II. Permintaan dolar juga meningkat untuk kebutuhan impor energi di tengah lonjakan harga minyak akibat konflik di Timur Tengah.

Pada saat yang sama, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus merosot hingga ke bawah level 7.000. Ini menandakan investor mulai menyoroti risiko pelebaran defisit anggaran dan implementasi kebijakan royalti tambang yang dinilai memberatkan emiten besar.

Baca JugaRupiah Makin Mendekati Rp 18.000 di Ujung Mei

Menurut Rahma, penguatan rupiah akan sangat bergantung pada kondisi eksternal, terutama ekspektasi suku bunga AS. Rupiah berpotensi akan menemukan titik balik, apabila data ekonomi AS mulai menunjukkan titik terang atau pendinginan yang signifikan.

Dalam hal ini, naiknya angka pengangguran AS dan melandainya inflasi di bawah 3 persen akan mendorong pasar kembali bertaruh pada pemangkasan suku bunga. Dengan demikian, imbal hasil obligasi AS turun dan aliran modal pun akan kembali ke pasar keuangan Indonesia.

Kemudian, tekanan rupiah secara musiman pada triwulan II-2026 cenderung akan mulai mereda begitu memasuki periode Juli-Agustus 2026. Jika tidak ada kejutan negatif dari sisi fiskal, rupiah secara alami memiliki ruang untuk menguat karena permintaan dolar dari korporasi menurun.

“Jika BI mampu membuktikan bahwa cadangan devisa masih cukup kuat untuk menjaga volatilitas di level tertentu, para spekulan akan mulai mundur (profit taking). Pelepasan posisi beli dolar oleh pelaku pasar ini sering kali menjadi awal dari penguatan rupiah yang cepat,” ujar Rahma.

Mengutip data BI, posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir April 2026 sebesar 146,2 miliar dolar AS. Dibanding posisi akhir Desember 2025, cadangan devisa telah menyusut 10,3 miliar dolar AS.

Meski demikian, penguatan tersebut tidak serta merta membawa rupiah langsung kembali ke level Rp 15.000 per dolar AS. Setidaknya, rupiah akan memasuki area konsolidasi pada area Rp 16.800-Rp 17.200 per dolar AS pada semester II-2026, selama beberapa faktor di atas terpenuhi.

Rahma menambahkan, BI juga perlu memperkuat instrumen moneter di luar suku bunga, seperti intervensi ganda (double intervention) di pasar valas dan DNDF, serta Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Sekuritas Valas Bank Indonesia (SVBI) guna menarik masuk kembali modal asing.

Di sisi lain, pemerintah juga dapat membantu dengan mengerem pengadaan barang impor yang tidak mendesak atau menunda proyek-proyek infrastruktur yang memiliki komponen impor tinggi, serta menghentikan prpgram-program strategis, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Merah-Putih.

Baca JugaMeski BI Sudah Kerek Suku Bunga, Rupiah Masih Terjerembap di Atas Rp 17.700

“Langkah ini seperti yang pernah dilakukan waktu BJ Habibie menjadi Presiden, berkompromi degan ego sendiri demi kemenangan rakyat,” katanya.

Pada akhirnya, semua langkah-langkah stabilisasi nilai tukar bergantung kepada durasi tensi geopolitik, defisit APBN, serta kepastian regulasi. Kebijakan yang diambil secara mendadak, seperti ekspor satu pintu melalui Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI), justru memicu kekhawatiran pasar.

Respons terlambat

Sementara itu, ekonom dari Bright Institute, Yanuar Rizky, berpendapat, keputusan BI menaikan suku bunga acuan cenderung sudah terlambat atau berada di belakang kurva. Ini tercermin dari beralihnya nasabah perbankan di dalam negeri, dari tabungan rupiah ke valuta asing.

Mengutip data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada Maret 2026, dana pihak ketiga (DPK) perbankan dalam bentuk valas tumbuh 9,9 persen secara tahunan menjadi Rp 1.611 triliun. Adapun DPK valas jenis tabungan tumbuh paling signifikan sebesar 20,34 persen secara tahunan.

“BI juga melakukan stabilisasi SBN, pada saat global sedang dalam posisi repricing inflasi global ke arah adjustment government yield,” ujar Yanuar.

Jadi, tidak ada uang valas baru masuk, karena memang kebijakan kontra siklikal dengan tren global yield, dan valas yang diserap dari dalam negeri menunjukkan tekanan rupiah juga terjadi distrust di dalam negeri.

Dalam hal ini, pasar keuangan global sedang menakar kembali ekspektasi inflasi global. Aksi jual obligasi AS oleh Bank Sentral Jepang dan institusi keuangan Jepang pun mendorong tingkat imbal hasil obligasi AS naik ke kisaran 4,6 persen, di atas rerata selama isu perang 4,2-4,45 persen.

Pada saat yang sama, Kementerian Keuangan justru memberikan sinyal sebaliknya dengan menstabilisasi imbal hasil surat berharga negara (SBN). Alhasil, rupiah melemah lantaran pasar membaca pemerintah Indonesia sedang membutuhkan penyerapan surat utang baru demi mengatasi defisit.

Menurut Yanuar, pasar cenderung tidak tertarik masuk ke pasar surat utang domestik. Ini tercermin dari penerbitan Surat Utang Negara dalam bentuk dolar AS dan euro Eropa sebesar 2 miliar dolar AS dan 1,25 miliar euro pada 19 Mei 2026.

Dalam lelang tersebut, pemerintah menerbitkan surat utang bertenor 10 tahun dengan kupon sedikit di atas acuan (benchmark) imbal hasil obligasi AS sebesar 5-5,5 persen. Hasilnya, tidak 100 persen penerbitan terserap dan harga pasar perdananya justru dikoreksi, tercermin dari selisih kupon (5,69 persen) dan imbal hasil (5,7 persen).

“Jadi, tidak ada uang valas baru masuk, karena memang kebijakan kontra siklikal dengan tren global yield, dan valas yang diserap dari dalam negeri menunjukkan tekanan rupiah juga terjadi distrust di dalam negeri,” ujarnya.

Baca JugaBI Libur, Rupiah Tembus Rp 17.000 Per Dolar AS

Ia menambahkan, pelemahan rupiah terjadi sebagai respons pasar terhadap kredibilitas pejabat keuangan yang cenderung memberikan pernyataan berlebihan (overclaim) terkait rupiah. Ini semua merupakan buntut dari buruknya acara komunikasi dan lambannya pengambilan kebijakan.

Kondisi tersebut, setidaknya tercermin dari pergerakan rupiah terhadap beberapa mata uang regional lainnya. Mengutip data Trading Economics, kurs rupiah terhadap dolar Singapura melemah 7,66 persen secara tahun kelender berjalan, sedangkan terhadap dong Vietnam, rupiah melemah 6,83 persen secara tahun kalender berjalan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Menag Tegaskan Tujuan Presiden Kurban Supaya Tidak Ada Masyarakat yang Kelaparan
• 8 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Harga Perak Antam Turun Lagi di Bawah Gocap, Ini Daftar Terbarunya
• 10 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Apa Itu Sekolah Maung? SMA-SMK Khusus di Jabar Gagasan Dedi Mulyadi
• 9 jam lalukompas.com
thumb
Libur Waisak, CFD Ditiadakan pada 31 Mei 2026
• 10 jam laluviva.co.id
thumb
Awal Mula Selebgram Woodyrman Aniaya Pria Brunei hingga Tewas di Blok M
• 6 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.