Jamarat, area khusus untuk melempar jamrah dalam rangkaian ibadah haji di Mina, sejak Rabu (27/5/2026) dipadati jemaah haji. Setiba di Mina, seusai menyelesaikan wukuf di Arafah dan mabit di Muzdalifah, jemaah melaksanakan jamrah aqabah. Jemaah melempari tembok jamrah aqabah dengan tujuh kerikil, simbol perlawanan terhadap setan.
Selama dua hari berturut-turut, Rabu dan Kamis (27-28/5/2026), jalur-jalur menuju Jamarat berubah menjadi lautan manusia. Jika pada Rabu jemaah menuntaskan jamrah aqabah, mulai Kamis mereka menyelesaikan lemparan jamrah pada hari tasyriq—11 dan 12 Zulhijah untuk nafar awal dan 11-13 Zulhijah untuk nafar tsani.
Sedemikian padat jemaah pada Kamis sore, Wakil Amirulhaj yang juga Wakil Menteri Agama dan Haji Dahnil Anzar Simanjuntak merilis pesan suara bagi jemaah haji Indonesia agar menunda keberangkatan ke Jamarat hingga malam hari. Selama ibadah Mina, Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) menyiagakan petugas Mobile Crisis Rescue (MCR) di Jamarat.
”Tim ini disiapkan untuk memberikan pertolongan pertama, evakuasi darurat, serta membantu mengurai kepadatan jemaah selama pelaksanaan lontar jumrah pada hari Tasyrik,” kata Juru Bicara Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Maria Assegaff.
“MCR dibentuk khusus untuk merespons kondisi darurat, termasuk memberikan penanganan bagi jemaah yang pingsan, tersesat, mengalami kelelahan ekstrem, hingga melakukan evakuasi bagi jemaah lanjut usia dan penyandang disabilitas,” jelasnya.
Kompas, sebagai bagian dari PPIH Arab Saudi, turut menjadi bagian petugas MCR di Lantai 1 Jamarat. Dengan pola shift, terdiri atas 4 tim dengan masing-masing enam jam per shift, MCR bekerja 24 jam nonstop. Jamaah yang butuh pertolongan di Lantai 1 Jamarat umumnya salah jalan—turun dari Lantai 3—untuk kembali ke tenda di Mina atau kelelahan.
Jamarat untuk melontar jamrah terbagi atas tiga lantai. Lantai 3 untuk jemaah dari kawasan tenda di Mina. Jemaah tidak boleh turun ke Lantai 1 untuk kembali ke tenda mereka, tetapi berbalik arah melalui terowongan. Jemaah yang telanjur turun ke Lantai 1 akan menempuh jarak sangat jauh untuk sampai ke tenda mereka di Mina.
Adapun Lantai 1 untuk jemaah tanazul di hotel-hotel di Syisyah dan Raudhah. Dari hotel mereka melontar jamrah ke Jamarat, setelah itu kembali ke hotel. Sekitar 20.000 jemaah pada musim haji tahun ini mengikuti program tanazul untuk pertama kalinya dikelola pemerintah RI.
Bagi jemaah haji tanazul, Jamarat berfungsi ganda: tempat melempar jamrah sekaligus lokasi mabit. Jemaah tanazul, setelah mabit atau murur di Muzdalifah dan melempar jamrah aqabah tidak kembali ke tenda di Mina, tetapi kembali ke hotel tempat tinggal mereka di Mekkah. Hotel jemaah tanazul umumnya berada di Syisyah dan Raudhah, dekat Mina.
Fathullah, Abdul Latif dan istrinya, Miftahul Jannah, jemaah Kloter 9 Embarkasi Solo (SOC 9), Kamis (28/5/2026) malam, bertolak dari hotel mereka di Syisyah pukul 21.00 menuju Jamarat. Jaraknya sekitar tiga kilometer. Ketiganya tidak akan melontar jamrah, tetapi untuk mabit.
Setiba di Jamarat, ketiga jemaah asal Pemalang, Jawa Tengah, itu menggelar tikar di luar area melempar jamrah. Setelah shalat Isya berjemaah dan berdzikir, ketiga jamaah tanazul duduk santai. Menikmati malam di Jamarat, sesekali membuka penganan yang dibawa, menanti waktu malam bergulir selama enam jam sebelum kembali lagi ke hotel.
Miftahul Jannah bercerita, hari Rabu setelah murur (melewati) di Muzdalifah dan tiba di Mina, ia dan suaminya melanjutkan berjalan kaki dari tendanya di Mina ke Jamarat. Setelah melempar jamrah aqabah, keduanya berjalan kaki ke hotelnya di Syisyah. Jika ditotal, keduanya melahap jarak sekitar 10 kilometer.
”Saya sendiri juga heran, termasuk risti (risiko tinggi) dengan tensi tinggi, saya mampu jalan kaki sejauh itu,” ujar Miftahul Jannah. ”Malamnya saya mabit di sini. Karena bergerombol dengan teman, kami didatangi askar dan diminta pergi. Belajar dari kejadian itu, malam ini kami bertiga saja.”
Agus, jemaah lain dari Kloter 34 Embarkasi Kertajati (KJT 34), dan istrinya pada Kamis malam juga mabit di Jamarat. Keduanya tinggal di hotel di Misfallah dan tidak termasuk jemaah tanazul resmi yang dikelola Kemenhaj. Meski demikian, keduanya memilih tanazul dengan menebeng ke hotel rekan sesama jemaah di kawasan Syisyah.
Saat ditemui, Agus mengalami telapak kaki yang melepuh. Petugas medis menyemprot telapak kakinya dengan spray pereda nyeri. Agus bercerita, dirinya baru saja tiba dari Masjidil Haram dengan naik taksi seharga 300 riyal (sekitar Rp 1,4 juta). Ia mengatakan, memilih tanazul karena kondisi tenda-tenda jemaah di Mina yang sangat padat.
Banyak kemudahan yang dialami jemaah tanazul dibandingkan dengan jemaah yang mabit di tenda-tenda di Mina. Salah satunya, karena tinggal di hotel, fasilitasnya lebih nyaman dibanding di tenda yang sangat padat dengan jemaah. Guna memenuhi wajib haji, mabit di Mina, mereka datang pada malam hari ke Jamarat.
Mabit (bermalam) di Mina, menurut pendapat mayoritas ulama, adalah bagian dari wajib haji. Durasinya lebih dari separoh malam. Jemaah umumnya berangkat dari hotel ke Jamarat selepas shalat Magrib atau Isya’, lalu kembali ke hotel sebelum waktu Shubuh. Jamarat berlokasi di Mina.
Selain itu, jarak dari hotel ke Jamarat tidak sejauh jarak tenda di Mina ke Jamarat. Taufik, Ketua Regu (Karu) jemaah Kloter 23 Embarkasi Surabaya (SUB 23) asal Ngawi, Jawa Timur, menuturkan, dengan tanazul, jemaah lansia dan risti di regunya sempat melaksanakan lemparan jamrah aqabah dan hari tasyriq pertama.
”Kalau capai, berhenti. Yang penting, berhentinya jangan lama-lama. Kalau berhenti lama, ada askar, bisa bubar. Alhamdulillah, semua aman kecuali jemaah yang pakai kursi roda dan penyangga,” tutur Taufik.
Namun, jemaah tanazul yang mabit di Jamarat menghadapi risiko diusir askar atau petugas keamanan Arab Saudi. Maklum, jamarat sebenarnya memang bukan tempat untuk mabit. Di Jamarat, pergerakan massa jemaah harus terus mengalir dan tidak boleh terhambat. Kumpulan orang yang mabit dinilai bisa menghambat aliran jemaah yang melempar jamrah.
Walhasil, jemaah yang mabit sering "kucing-kucingan" dengan askar Arab Saudi. Seperti pada Kamis (28/5/2025) malam, misalnya, beberapa jemaah Indonesia seperti bermain petak umpet menghindari askar yang mengusir mereka dengan patroli mobil dan menyalakan klakson.
Mabit di Jamarat tak hanya dilakukan jemaah Indonesia. Jemaah dari negara-negara lain pun melakukan hal serupa. Abdul Hadi, jemaah asal Irak, bersama empat rekannya berdiam diri di Jamarat. Di sela mabit, kepada Kompas, ia bercerita banyak tentang kampung halaman di Basrah, Irak.
Penggemar sepak bola itu juga mengajak ngobrol soal sepak bola, termasuk kemenangan timnas Irak atas Indonesia di babak keempat. kualifikasi Piala Dunia 2026. Ia juga masih ingat, sukses timnas negaranya menjadi juara Asia tahun 2007 dalam laga melawan Arab Saudi, yang digelar di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta.
Pada Jumat (29/5/2026) atau 12 Dzulhijjah, pelaksanaan lontar jumrah bagi jemaah Indonesia dijadwalkan dalam dua sesi, yaitu pukul 05.00 sampai dengan 10.30 waktu Arab Saudi dan pukul 18.00 sampai dengan 24.00 waktu Arab Saudi. Waktu larangan melontar pada 12 Dzulhijjah berlaku pukul 11.00 sampai dengan 14.00 waktu Arab Saudi.
Sementara pada 13 Dzulhijjah, pelaksanaan lontar jumrah dijadwalkan pukul 05.00 sampai dengan 12.00 waktu Arab Saudi, dan tidak ada waktu larangan khusus sebagaimana tercantum dalam jadwal resmi.





