Bisnis.com, JAKARTA - Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) menilai belum ada perkembangan signifikan dalam upaya meningkatkan keselamatan transportasi jalan di Indonesia. Penilaian itu kembali menguat setelah insiden kereta di Bekasi Timur memicu sorotan publik terhadap lemahnya sistem keselamatan transportasi nasional.
Dewan Penasihat MTI Djoko Setijowarno mengatakan tren kecelakaan transportasi di Indonesia justru menunjukkan peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Menurutnya, pendekatan keselamatan nasional masih cenderung reaktif dan baru bergerak setelah tragedi besar terjadi.
“Perkembangan positif untuk keselamatan transportasi jalan nampaknya belum ada,” ujarnya kepada Bisnis, dikutip Jumat (29/5/2026).
Sorotan terhadap sistem keselamatan mengemuka setelah kecelakaan kereta di Bekasi Timur menelan banyak korban jiwa dan memicu evaluasi dari berbagai pihak. Namun hingga kini, investigasi Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) masih berada pada tahap penyajian data faktual.
“Pada presentasi saat ini kami hanya menyajikan data faktual, tidak terdapat analisis dan tidak ada kesimpulan terhadap penyebab terjadinya kecelakaan,” ujar Kepala KNKT Soerjanto Tjahjono dalam rapat kerja bersama Komisi V DPR beberapa waktu lalu.
Menurut Djoko, persoalan keselamatan transportasi tidak bisa dipandang sebagai insiden tunggal semata. Kecelakaan umumnya lahir dari kombinasi berbagai faktor mulai dari human error, kondisi infrastruktur, sistem operasional, hingga lemahnya mitigasi saat kondisi darurat terjadi.
Dia menilai pendekatan keselamatan seharusnya dibangun melalui tiga aspek sekaligus yakni education, engineering, dan enforcement. Namun yang terjadi selama ini, sistem baru bergerak setelah kecelakaan menjadi perhatian publik.
“Pencegahan lebih murah daripada penanganan setelah kecelakaan,” katanya.
Djoko juga menyoroti tingginya angka fatalitas kecelakaan jalan di Indonesia. Menurut dia, rata-rata lebih dari 100 orang meninggal setiap hari akibat kecelakaan lalu lintas. Angka tersebut berasal dari akumulasi kecelakaan harian yang sering kali tidak mendapat perhatian sebesar tragedi massal.
Persoalan keselamatan menjadi semakin kompleks karena tingginya ketergantungan masyarakat terhadap moda transportasi harian. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan ratusan ribu penumpang menggunakan kereta api setiap hari sepanjang 2025. Pada saat yang sama, lebih dari 300 ribu armada bus beroperasi di jalan raya dan sekitar 145 juta sepeda motor mendominasi mobilitas masyarakat Indonesia.
Dalam skala sebesar itu, satu celah keselamatan dapat berubah menjadi tragedi massal dalam hitungan detik.
Ketua Forum Konsumen Berdaya Indonesia Tulus Abadi menilai mitigasi risiko tidak bisa hanya dibebankan kepada perilaku pengguna jalan. Menurutnya, diperlukan rekayasa teknis dan penguatan sistem keselamatan untuk menekan risiko fatalitas.
“Perlu berbagai rekayasa teknis yang berdimensi safety untuk menekan risiko fatalitas,” ujarnya.
Di tengah sorotan tersebut, Komisi V DPR meminta evaluasi keselamatan transportasi tidak berhenti pada pencarian penyebab kecelakaan semata, melainkan diikuti langkah konkret untuk membenahi sistem secara menyeluruh.
Ketua Komisi V DPR Lasarus menegaskan perbaikan harus segera dilakukan apabila persoalan dalam sistem telah terdeteksi.
“Kalau persoalan dalam sistemnya sudah terdeteksi, maka perbaikannya juga harus segera dilakukan agar kejadian serupa tidak terus terulang. Jangan sampai berbagai evaluasi yang sudah dilakukan hanya menjadi catatan tanpa ada langkah nyata di lapangan,” ujarnya.
Selain Bekasi Timur, kecelakaan bus ALS di Sumatera Selatan turut menambah daftar panjang insiden transportasi yang belum tuntas. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa kecelakaan transportasi tidak mengenal waktu maupun lokasi.
Selama sistem keselamatan masih bergerak setelah tragedi terjadi, persoalan yang dihadapi bukan lagi sekadar kapan kecelakaan berikutnya muncul, melainkan seberapa siap sistem transportasi nasional mencegah dan meminimalkan dampaknya.





