Harga minyak dunia ditutup melemah lebih dari 2 persen pada perdagangan Jumat (29/5/2026), sekaligus mencatat penurunan mingguan terdalam sejak awal April.
IDXChannel – Harga minyak dunia ditutup melemah lebih dari 2 persen pada perdagangan Jumat (29/5/2026), sekaligus mencatat penurunan mingguan terdalam sejak awal April.
Pasar menanti kepastian terkait kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran.
Kontrak berjangka (futures) Brent untuk pengiriman Juli, yang berakhir pada Jumat, ditutup di level USD92,05 per barel, turun 1,8 persen.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS berakhir di USD87,36 per barel, terkoreksi 1,7 persen.
"Jelas pasar berpandangan gencatan senjata akan berjalan mulus dan persoalan ini segera selesai," kata Partner Again Capital, John Kilduff, dikutip Reuters.
Perang yang berlangsung selama tiga bulan antara AS dan Iran diwarnai spekulasi berulang mengenai berakhirnya konflik, yang berpotensi membuka kembali Selat Hormuz.
Jalur pelayaran strategis tersebut dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia.
Meski kedua pihak mengindikasikan kesepakatan semakin dekat, masing-masing masih memberikan gambaran yang berbeda mengenai isi perjanjian tersebut.
Kantor berita Fars di Iran melaporkan bahwa kesepakatan itu, yang hingga kini belum diputuskan untuk disetujui oleh Teheran, mengharuskan Iran membuka Selat Hormuz tanpa pembatasan.
Namun, Republik Islam tersebut menyatakan pembukaan kembali jalur itu akan dilakukan sesuai pengaturan yang telah ditetapkan sebelumnya.
Setelah konflik berakhir, Iran juga menyatakan akan mengatur lalu lintas pelayaran di selat tersebut dan mengenakan biaya bagi kapal yang melintas.
Presiden AS Donald Trump kembali mendesak Iran agar segera membuka kembali Selat Hormuz. Penutupan jalur pelayaran itu sebelumnya memicu lonjakan tajam harga energi global.
Dalam beberapa sesi terakhir, pasar minyak bergerak sangat volatil, dengan fluktuasi hingga USD6 per barel pada kedua kontrak acuan akibat sinyal yang saling bertentangan terkait kemungkinan pembukaan kembali selat tersebut.
"Pertanyaannya adalah kapan selat itu akan dibuka kembali? Saya juga bertanya-tanya kapan persediaan minyak akan menyentuh titik terendahnya," ujar Kilduff.
Ia melanjutkan, "Saya justru terkejut harga minyak tidak lebih tinggi dari sekarang."
Harga Brent telah jatuh sekitar 11 persen sepanjang pekan ini, menjadi penurunan mingguan terdalam dalam tujuh pekan terakhir.
Sementara itu, WTI turun lebih dari 9 persen dan mencatat pelemahan mingguan terbesar dalam enam pekan.
Kedua acuan juga sempat menyentuh level terendah sejak pertengahan April.
"Meski arus minyak melalui Selat Hormuz masih terbatas dan persediaan minyak terus menyusut, fokus pasar tetap tertuju pada kemungkinan tercapainya kesepakatan antara AS dan Iran," kata Analis UBS Giovanni Staunovo.
Menurut dia, penurunan harga yang cukup tajam kemungkinan memaksa sebagian pelaku pasar menutup posisi beli (long position) mereka.
Sumber Reuters menyebutkan AS dan Iran pada Kamis mencapai kesepakatan sementara untuk memperpanjang gencatan senjata serta mencabut pembatasan pelayaran melalui Selat Hormuz.
Kendati demikian, lalu lintas kapal di jalur maritim tersebut masih jauh di bawah tingkat normal sebelum konflik pecah. Analis ING menilai pembukaan kembali Selat Hormuz dapat memberikan sedikit kelegaan bagi pasar minyak dalam jangka pendek, meskipun pemulihan penuh masih belum pasti.
Jepang, yang sangat bergantung pada pasokan minyak dari Timur Tengah, bulan lalu mencatat penurunan impor minyak mentah sebesar 66 persen dibandingkan April tahun lalu.
Commerzbank menaikkan proyeksi harga Brent menjadi USD90 per barel pada akhir September dan USD85 per barel pada akhir tahun.
Proyeksi itu didasarkan pada skenario Selat Hormuz masih belum beroperasi normal selama dua bulan ke depan.
Sementara itu, data Energy Information Administration (EIA) menunjukkan persediaan minyak mentah, bensin, dan produk distilat AS turun pada pekan lalu seiring meningkatnya permintaan dari kilang dan konsumen.
Di saat yang sama, ekspor minyak AS turun 1,16 juta barel per hari menjadi 4,4 juta barel per hari. (Aldo Fernando)





