Jakarta, VIVA – Memulai usaha sejak masih kuliah atau baru lulus kini semakin menarik bagi anak muda. Hasil dari Riset yang dilakukan SMERU pada 2022 menunjukkan bahwa 73% anak muda tertarik untuk berbisnis. Apalagi, hadirnya media sosial dan platform digital membuat produk bisa mulai dipasarkan dari lingkar pertemanan, tanpa harus memiliki toko fisik terlebih dahulu.
Namun, memiliki produk dan mendapatkan pembeli pertama baru menjadi langkah awal. Tantangan yang lebih besar sering kali muncul setelah bisnis mulai berjalan. Fase inilah yang kerap menentukan arah sebuah bisnis anak muda: apakah usaha akan terus berjalan dalam skala yang sama, atau mulai dikembangkan menjadi bisnis yang lebih serius dan berkelanjutan.
Michella Ham, CEO & Founder Skin Game, mengatakan bahwa membangun bisnis membutuhkan komitmen besar karena setiap keputusan akan menentukan perkembangan usaha ke depan. “Memiliki bisnis seperti memiliki anak yang harus dijaga sepenuh hati. Kita perlu memahami apa yang dibutuhkan bisnis. Kalau salah langkah, bisnis bisa sulit naik level. Oleh karena itu, pelaku usaha perlu tahan banting, berani belajar, dan tidak ragu bertanya kepada orang-orang yang lebih berpengalaman,” ujar Michella, dikutip Sabtu, 30 MEi 2026.
Lalu, apa saja tanda bahwa bisnismu sudah berjalan, tetapi belum benar-benar naik level? Berikut tiga hal yang perlu diperhatikan.
- Pelanggan sudah ada, tetapi modal terus habis untuk memenuhi pesanan berikutnya
Bagi sebagian pebisnis muda, pendapatan yang masuk masih habis untuk memenuhi kebutuhan produksi dan pesanan berikutnya. Akibatnya, mereka memiliki ruang terbatas untuk menambah stok, memperbaiki packaging, memperluas promosi, hingga memperluas market. Di fase ini, tambahan modal dapat menjadi dorongan penting agar bisnis tidak hanya terus berjalan, tetapi juga bertumbuh.
- Produk sudah laku, tetapi belum siap untuk di ekspansi
Sebuah produk bisa saja laku di lingkungan kampus atau komunitas, tetapi belum tentu siap menjangkau pasar yang lebih luas. Untuk naik level, pebisnis muda perlu menguji tidak hanya daya tarik produk, tetapi juga harga, konsistensi kualitas, kapasitas produksi, kesiapan pengiriman, hingga strategi marketing kepada konsumen baru. Dengan pondasi tersebut, bisnis akan lebih siap berkembang secara berkelanjutan.





