Oleh: Elfira, M.Pd (Dosen Universitas Negeri Makassar)
Ketika orang tua menyerahkan seluruh pendidikan kepada guru, dan guru tidak sanggup menanggungnya sendiri.
Ada sebuah kesalahpahaman besar yang tumbuh diam-diam dalam cara kita memandang pendidikan: bahwa mendidik adalah pekerjaan sekolah.
Orang tua mengantar anak di pagi hari, menjemputnya di siang hari, dan menyerahkan semua yang terjadi di antaranya kepada guru. Seolah tanggung jawab mendidik dimulai di pintu gerbang sekolah dan berakhir di sana juga.
Padahal penelitian demi penelitian menunjukkan hal yang sama: pengaruh terbesar dalam perkembangan seorang anak bukan datang dari sekolah terbaik atau guru paling berpengalaman.
Ia datang dari rumah dari percakapan di meja makan, dari cara orang tua merespons kegagalan, dari nilai-nilai yang ditunjukkan setiap hari bukan hanya diucapkan sesekali.
“Seorang anak tidak bisa menjadi lebih dari apa yang ia lihat setiap hari di rumahnya. Sekolah bisa memperluas cakrawala, tapi rumahlah yang meletakkan pondasinya.”
Peran orang tua dalam pendidikan bukan satu hal tunggal. Ia berlapis dan setiap lapisan memiliki beratnya sendiri:
Pembentuk Karakter
Nilai, kejujuran, empati semua tumbuh dari teladan sehari-hari, bukan dari pelajaran PKN.
Pendengar Aktif
Anak yang didengar di rumah tumbuh menjadi anak yang berani berbicara di kelas.
Penjaga Motivasi
Semangat belajar tidak muncul dari nilai rapor ia tumbuh dari rasa aman dan dihargai di rumah.
Namun di sinilah masalah nyatanya muncul. Banyak orang tua yang ingin terlibat tapi tidak tahu caranya.
Sebagian terjebak dalam dua ekstrem yang sama-sama bermasalah:
Dua ekstrem yang sama-sama merugikan anak
Terlalu lepas tangan
Menyerahkan segalanya ke sekolah. Tidak terlibat dalam proses belajar, tidak mengenal guru, tidak tahu apa yang sedang dihadapi anak.
vs
Terlalu mengontrol
Mengerjakan PR anak, memilihkan semua keputusan, tidak memberi ruang untuk gagal dan belajar dari kegagalan sendiri.
Anak merasa tidak didukung, kehilangan motivasi, mencari validasi dari luar rumah.
Anak kehilangan kemampuan mandiri, takut gagal, bergantung pada persetujuan orang tua untuk setiap langkah.
Yang dibutuhkan bukan lebih banyak kontrol atau lebih banyak kebebasan yang dibutuhkan adalah kehadiran yang bermakna. Orang tua yang hadir bukan untuk mengendalikan, melainkan untuk menemani. Yang bertanya bukan untuk menguji, melainkan untuk memahami. Yang menetapkan batasan bukan karena kekuasaan, melainkan karena cinta yang berpikir jauh ke depan.
Di tanah Bugis-Makassar, ada ungkapan yang relevan: narekko degaga sirik ri bolana, degaga toi sirik ri sikolana jika tidak ada kehormatan di rumah, tidak akan ada kehormatan di sekolah. Rumah membentuk siapa anak itu sebelum sekolah sempat berkata apa pun.
Guru yang paling berdedikasi pun tidak bisa memperbaiki dalam tujuh jam di sekolah apa yang rusak dalam tujuh belas jam di rumah. Bukan karena guru tidak cukup baik tapi karena beban itu memang bukan milik mereka untuk ditanggung sendirian. (*)





