Mengapa Gula Memberi Rasa Tenang Sesaat, tetapi Membebani Tubuh Anda?

erabaru.net
3 jam lalu
Cover Berita

Gula meminjam ketenangan dari otak dan membebankan biayanya kepada tubuh.

Oleh Rachel Ann T. Melegrito

Gula adalah mekanisme pelarian yang paling diterima secara sosial di dunia. Setelah hari yang panjang di tempat kerja, banyak orang menikmati cokelat panas, memakan sepotong cokelat, atau membuka minuman manis—dan benar-benar merasa lebih baik.

Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa meskipun otak mungkin merasa lebih tenang, tubuh sebenarnya masih berada dalam kondisi stres.

Sebuah studi baru yang dipublikasikan dalam International Journal of Psychophysiology meneliti apakah gula memengaruhi tubuh selama aktivitas yang menenangkan seperti pijat dan istirahat santai.

Para peneliti mempelajari 94 orang dewasa sehat yang secara acak dibagi ke dalam empat kelompok: glukosa plus pijat, glukosa plus istirahat, air putih plus pijat, dan air putih plus istirahat. Setelah itu, para peserta menjalani tugas yang memerlukan perhatian berkelanjutan.

Minuman glukosa yang digunakan mengandung 75 gram glukosa yang dilarutkan dalam air—setara dengan kandungan gula dalam sekitar dua kaleng minuman bersoda biasa, atau sekitar 20 sendok teh gula.

Peneliti mengukur kadar glukosa darah, tekanan darah, aktivitas jantung, dan sinyal dari sistem tubuh yang mengatur kewaspadaan maupun relaksasi selama eksperimen berlangsung. Kadar glukosa darah diukur sebelum minum, sebelum sesi pijat atau istirahat, dan kembali diukur sebelum tugas perhatian dilakukan.

Hasilnya menunjukkan bahwa pijat dan istirahat tetap memberikan efek yang diharapkan: peserta merasa lebih rileks dan tubuh mereka menunjukkan tanda-tanda relaksasi yang jelas. Namun, pada peserta yang mengonsumsi glukosa, sebagian sistem kewaspadaan tubuh tidak sepenuhnya mereda, yang menunjukkan bahwa gula dapat menghambat tubuh untuk benar-benar mencapai keadaan rileks.

“Gula meminjam ketenangan sesaat dari sistem dopamin dan membebankan bunganya pada kesehatan metabolisme Anda,” kata Grant Antoine, dokter naturopati dan pemimpin klinis nutrisi presisi di Viome, kepada The Epoch Times.

Menurutnya, meskipun otak merasakan kenyamanan, tubuh mungkin masih menjalankan respons stres di balik layar.

Ketenangan yang Anda Rasakan Bukanlah Ketenangan yang Sebenarnya

Rasa nyaman yang ditimbulkan oleh gula tampaknya terutama berasal dari sistem penghargaan (reward system) di otak, bukan dari respons relaksasi seluruh tubuh.

“Rasa tenang yang dirasakan orang setelah mengonsumsi gula merupakan peristiwa neurokimia dalam sistem penghargaan otak,” kata Antoine, yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut.

Menurutnya, rasa tenang itu tidak meluas ke sistem kardiovaskular, sistem saraf, maupun hormon stres yang tetap aktif di balik layar.

“Itulah sebabnya camilan manis dapat secara diam-diam menghapus manfaat dari latihan pernapasan atau meditasi,” katanya.

Meskipun otak merasakan kenyamanan sesaat, “tubuh tidak pernah benar-benar menghentikan program stresnya.”

Kara Seidman, ahli gizi dan direktur kemitraan di Resbiotic Nutrition, mengatakan kepada The Epoch Times bahwa glukosa meningkatkan aktivitas stres dan membuat tubuh lebih sulit rileks, bahkan ketika seseorang menjalani aktivitas yang menenangkan seperti pijat.

“Ini menunjukkan adanya ketidaksesuaian antara rasa tenang yang dirasakan dan tingkat stres fisiologis yang sebenarnya,” ujarnya.

Gula Mengirimkan Sinyal Stres ke Tubuh

Tubuh bereaksi terhadap apa yang beredar dalam aliran darah.

“Lonjakan gula darah itu sendiri merupakan faktor pemicu stres,” kata Antoine.

Peningkatan kadar gula darah mengaktifkan respons “lawan atau lari” (fight-or-flight) tubuh, yang meningkatkan denyut jantung dan tekanan darah.

“Biasanya perubahan seperti ini hanya terlihat saat tubuh mengalami peningkatan stres, seperti ketika berolahraga. Namun penelitian pada manusia menunjukkan bahwa hal ini juga dapat terjadi bahkan saat sedang beristirahat,” katanya.

Yang terjadi setelah lonjakan gula darah sering kali lebih buruk. Ketika kadar gula darah turun di bawah tingkat normal, tubuh menganggapnya sebagai keadaan darurat dan melepaskan kortisol serta adrenalin—dua hormon stres—untuk mengimbanginya.

“Satu kali konsumsi gula sebenarnya dapat memicu dua gelombang aktivasi stres: satu saat gula darah melonjak dan satu lagi saat gula darah menurun,” kata Antoine.

Yang penting untuk dipahami, tidak ada batas pasti mengenai jumlah gula yang menyebabkan lonjakan gula darah. Efeknya sangat bergantung pada dosis dan kondisi masing-masing individu.

Faktor seperti makanan lain yang dikonsumsi, sensitivitas insulin seseorang, tingkat aktivitas fisik, dan apakah seseorang sudah berada dalam kondisi stres dapat memengaruhi respons tubuh.

Sebagai gambaran, studi ini menggunakan dosis glukosa yang setara dengan jumlah yang digunakan dalam tes toleransi glukosa oral—yakni dosis gula tinggi yang dirancang untuk meningkatkan kadar gula darah secara cepat.

Penelitian menunjukkan bahwa mengonsumsi gula sebelum menghadapi situasi yang menegangkan dapat memperkuat respons hormonal tubuh. Dalam salah satu penelitian, orang yang mengonsumsi glukosa sebelum menjalani tes stres sosial—seperti berpidato atau melakukan perhitungan matematika di depan umum—mengalami lonjakan kortisol yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak mengonsumsi glukosa.

Mereka yang sistem respons stresnya sudah terganggu, seperti orang yang mengalami stres kronis, kurang tidur, atau kelelahan berat (burnout), kemungkinan mengalami dampak yang lebih besar. Kadar kortisol mereka cenderung meningkat lebih tinggi dan bertahan lebih lama.

Pada tingkat biologis, kadar gula darah yang tinggi memberi sinyal bahwa energi tersedia dan kondisi mendukung aktivitas, bukan istirahat. Otak kemudian merespons dengan menggeser tubuh ke kondisi yang lebih waspada dan siap bertindak.

Mengapa Kita Menginginkan Gula Saat Stres?

Ada sejumlah faktor biologis dan psikologis yang mendorong kita mencari makanan manis ketika sedang stres.

Kortisol meningkatkan nafsu makan dan memicu keinginan terhadap makanan tinggi kalori.

Stres juga meningkatkan kadar ghrelin, hormon pemicu rasa lapar, yang memperkuat dorongan untuk makan.

Menurut Antoine, stres kronis dapat membuat otak menjadi “setengah tuli” terhadap leptin, hormon yang memberi sinyal rasa kenyang.

“Akibatnya, Anda merasa lebih lapar daripada biasanya dan kurang mampu mengenali kapan Anda sudah cukup makan,” katanya.

Selain itu, gula memang bekerja—setidaknya untuk sementara waktu.

Penelitian menunjukkan bahwa gula dapat meredam respons stres dengan menekan aktivitas pada sumbu HPA (hypothalamic-pituitary-adrenal axis), yaitu bagian dari sistem stres yang membantu menjaga tubuh tetap waspada dan berenergi selama periode stres berkepanjangan.

Namun, efek ini hanya berlangsung singkat.

“Rasa lega itu hanya bertahan sebentar sebelum siklusnya dimulai kembali dan menuntut dosis berikutnya,” kata Antoine.

Gula juga jarang dikonsumsi sendirian. Biasanya gula dikaitkan dengan aktivitas yang menenangkan, seperti duduk santai, menonton sesuatu, atau menghabiskan waktu bersama orang lain, sehingga rasa nyaman yang muncul menjadi semakin kuat.

Karena gula mampu meredakan stres—meskipun hanya sementara—seseorang akan lebih cenderung mencarinya kembali saat merasa tertekan di kemudian hari.

Dan menurut Antoine, keinginan tersebut cenderung semakin kuat setiap kali terulang.

Harga yang Harus Dibayar dalam Jangka Panjang

Seiring waktu, siklus ini akan memberikan dampak negatif.

Ketika gula terus-menerus digunakan sebagai cara untuk meredakan stres, kadar insulin dan kortisol dapat meningkat secara bersamaan, menciptakan efek tarik-menarik.

Satu hormon berusaha menyimpan energi, sementara hormon lainnya berusaha menjaga energi tetap beredar.

Sel-sel tubuh dapat menjadi kurang responsif terhadap insulin, dan kadar gula darah yang terus tinggi dapat memicu peradangan, sehingga meningkatkan risiko berbagai penyakit seperti diabetes tipe 2 dan penyakit jantung.

Dr. Deepak Bhatt, ahli jantung intervensi dan direktur Mount Sinai Fuster Heart Hospital, mengatakan kepada The Epoch Times bahwa minuman manis, makanan cepat saji seperti burger dan kentang goreng, pizza, serta berbagai hidangan penutup umumnya mengandung kalori kosong dan lemak yang tidak sehat.

Ketika makan karena stres menjadi kebiasaan, hal itu juga dapat menyebabkan kenaikan berat badan, yang merupakan faktor risiko utama bagi diabetes dan penyakit jantung.

Namun semua ini tidak berarti Anda harus sepenuhnya menghindari gula atau merasa bersalah ketika mengonsumsinya.

Rasa nyaman yang diberikan gula memang nyata, tetapi hanya sebagian.

Memahami bagaimana gula memengaruhi otak dan tubuh dapat membantu seseorang membuat pilihan yang lebih bijaksana, terutama saat menghadapi stres.

Merasa lebih baik bukan hanya soal mendapatkan kenyamanan sesaat, melainkan juga memberi kesempatan kepada tubuh untuk benar-benar kembali ke keadaan istirahat dan pemulihan.

Rachel Melegrito pernah bekerja sebagai terapis okupasi yang menangani kasus-kasus neurologis. Ia juga mengajar mata kuliah ilmu dasar dan terapi okupasi profesional di universitas. Pada 2019, ia meraih gelar magister dalam bidang perkembangan dan pendidikan anak. Sejak 2020, Melegrito secara luas menulis artikel mengenai kesehatan untuk berbagai publikasi dan merek.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Rupiah Nyaris Tembus 18 Ribu! DPR Desak BI Gerak Cepat Gerak Cepat Selamatkan Ekonomi
• 20 jam lalukompas.tv
thumb
The Fed Diprediksi Tahan Suku Bunga Lebih Lama, Saham dan Kripto Bersiap Bergejolak
• 5 jam lalubisnis.com
thumb
Enam Kali Ikut Marathon di Luar Negeri, Febby Rastanty Bakal Lari di Super Cool Run 10K: Easy Run!
• 3 jam lalugrid.id
thumb
Pengedar Obat Keras di Jakpus Ditangkap, 500 Butir Tramadol Disita
• 7 jam lalukompas.com
thumb
KPK Terbitkan SE Pengendalian Gratifikasi SPMB, Soroti Calon Siswa Titipan
• 10 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.