Kementerian Keuangan memastikan investor akan untung dari penerapan satu pintu ekspor di PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) khusus ekspor.
Purbaya Yudhi Sadewa Menteri Keuangan optimistis penerapan BUMN khusus ekspor itu juga akan berdampak positif terhadap pasar saham.
“Jadi kalau dia sekarang dilaporkan penuh ke perusahaannya, ya profitabilitasnya bisa naik cukup signifikan. Jadi itu berita positif ke pasar sebetulnya. Bukan negatif, malah positif. Ini mendisiplinkan supaya pemilik tidak menggarong perusahaan sendiri yang notabene go public. Jadi investor akan diuntungkan,” ujar Purbaya saat konferensi pers terkait persiapan operasional PT Danantara Sumberdaya Indonesia di Jakarta, Minggu (31/5/2026).
Ia memproyeksikan PT DSI akan memberikan keuntungan bagi penerimaan negara, perusahaan, eksportir, investor dan masyarakat. Karena PT DSI akan mengoptimalkan pendapatan di sektor ekspor komoditas strategi sumber daya alam (SDA), yaitu batu bara, minyak kelapa sawit mentah (CPO), dan paduan besi (ferro alloys).
“Kalau terhadap perusahaan-perusahaan go publik, pasti positif sekali yang DSI ini ya. Kenapa? Kan sebelumnya kalau praktek itu betul, kan Profitability dari perusahaan yang Go Public tadi sebagian digerus oleh pemilik,” ucapnya.
Purbaya menekankan, PT DSI akan bekerja untuk mencegah terjadinya transfer pricing dan under invoicing di sektor ekspor SDA.
Soal potensi kenaikan pendapatan negara, Purbaya belum bisa memastikan karena pihaknya masih menghitung. Katanya dampak ekonomi dari PT DSI bisa dilihat seiring berjalannya waktu dan implementasi ekspor satu pintu.
“Sudah dihitung belum potensial penerima negaranya? Sudah dihitung tapi belum ketemu angkanya. Jadi kita masih hitung terus,” kata Purbaya.
Meski begitu pemerintah optimistis, PT DSI akan meningkatkan pendapatan negara dari sisi pajak.
Sebelumnya, Purbaya optimistis Badan Usaha Milik Negara (BUMN) khusus ekspor, yang dibentuk pemerintah bakal mampu mendongkrak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Menkeu menjelaskan, ke depan BUMN Ekspor itu akan memberikan kepastian terhadap investor, karena bakal menutup celah under invoicing. Ia menganggap, menurunnya IHSG disebabkan belum adanya dampak nyata yang dapat dilihat pelaku pasar dari BUMN tersebut.
“Mungkin mereka belum tahu dampak sebenarnya seperti apa. Kan kalau ada ketidakpastian, biasanya takut jual dulu. Tapi kalau mereka nanti mengerti dampak yang sebetulnya seperti apa, harganya akan naik,” kata Purbaya.
Purbaya memastikan pemerintah akan memperbaiki sistem dan mekanisme pada ekosistem ekspor Indonesia, dengan komoditas yang akan dikelola yakni kelapa sawit atau crude palm oil (CPO), batu bara, dan ferro alloy.
“Karena gini, nanti under-invoicing kan akan tertutup dengan adanya badan ekspor itu. Jadi tadi yang biasa jadi uang, jadi mainnya oleh pemilik, karena perusahaan yang di luar negeri punya pemilik kan. Sekarang bisa harusnya terrefleksi langsung di penjualan mereka yang murni,” ujarnya. (lea/saf/ham)




