Jakarta, VIVA - Tokoh perempuan adat sekaligus pejuang lingkungan asal Merauke, Papua Selatan, Yasinta Moiwend atau yang dikenal sebagai Mama Sinta, menampik isu menyebut dirinya diintimidasi aparat TNI dan diterbangkan ke Jakarta dengan pesawat pribadi milik pengusaha.
Dia menekankan kedatangannya ke Ibu Kota adalah inisiatif dan biaya pribadi guna menuntut keadilan atas pencatutan wajahnya tanpa izin dalam film dokumenter berjudul "Pesta Babi". Bantahan ini merespons beredarnya narasi dari akun media lokal @laolao_papuam
"Itu tidak benar nak, itu tidak benar. Saya naik pesawat biasa dengan penumpang. Saya tidak naik kapal ke Merauke atau ke Boven Digoel dengan pesawat helikopternya Haji Isam. Itu tidak ada, itu omong kosong. Itu namanya provokator," kata Mama Sinta dikutip dari video, Minggu, 31 Mei 2026.
Ia menegaskan tak pernah bertemu dengan Haji Isam dan melakukan perjalanan dari Wanam ke Merauke, lalu beli tiket pesawat menuju Jayapura hingga tiba di Jakarta secara mandiri. Perihal isu keterlibatan aparat, perempuan berusia 62 tahun ini pun menampik keras adanya ancaman dari pihak militer.
"TNI tidak jemput saya, tidak ada intimidasi. Kenapa kalian yang repot dengan saya? Saya datang ke Jakarta karena harga diri saya," kata dia lagi.
Sebelumnya diberitakan, Mama Sinta, resmi membawa persoalan film dokumenter Pesta Babi ke ranah hukum.
Mama Sinta melaporkan Ketua LBH Merauke berinisial JTW ke Polda Metro Jaya karena merasa wajah dan dirinya ditampilkan dalam film tersebut tanpa izin.
Laporan itu telah diterima dan teregister di Polda Metro Jaya dengan nomor LP/B/3843/V/2026/SPKT/Polda Metro Jaya tertanggal 29 Mei 2026.
Kuasa hukum Mama Sinta, TS Hamonangan Daulay, mengatakan pihak yang dilaporkan merupakan individu yang menjabat sebagai Ketua LBH Merauke.
"Ini yang kita laporkan ini adalah untuk perorangan. Perorangan, eh ada Ketua LBH Merauke. Ketua LBH Merauke, inisialnya adalah JTW," tuturnya, dikutip Sabtu, 30 Mei 2026.
Menurut dia, laporan tersebut berkaitan dengan perlindungan hak dan kerahasiaan pribadi Mama Sinta yang diduga dilanggar lewat pemutaran film dokumenter itu.





