Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, sempat meninjau Sekolah Indonesia Jeddah (SIJ) di Jeddah, Arab Saudi, di sela ibadah hajinya. Sekolah ini berisi siswa-siswi asal Indonesia yang orang tuanya bekerja di Jeddah.
"Jadi saya diminta datang ke Sekolah Indonesia Jeddah, di mana di situ ada anak-anak pekerja migran yang dididik di Sekolah Indonesia Jeddah. Saya kira ini program yang bagus karena bisa membuat anak-anak pekerja migran itu punya harapan masa depan," kata Dadan saat ditemui di Bandara King Abdul Aziz Jeddah, Minggu (31/5).
Dalam kesempatan tersebut, Dadan bercerita bahwa dirinya mendapat aspirasi dari para siswa-siswi untuk menghadirkan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Meski hadir pada hari Minggu, kata Dadan, para murid tetap antusias datang menyambutnya.
"Ada kurang lebih 100 orang dengan 56 guru yang menyambut saya di Sekolah Indonesia Jeddah, dan mereka spontan ingin menikmati program yang dirasakan oleh teman-temannya di Indonesia," kata dia.
"Jadi, kita tadi datang untuk melihat. Nanti saya akan laporkan ke Presiden, apakah dimungkinkan kita membuat Satuan Pelayanan Gizi di Sekolah Indonesia Jeddah," ucapnya.
"Ini bisa menjadi pilot project (percontohan)," lanjutnya.
Para Siswa Tahu Program MBGDadan mengatakan, para siswa ini mengetahui adanya informasi soal program MBG di Indonesia. Mereka pun antusias ingin mendapatkannya.
"Mereka kan sangat well-informed dengan informasi yang ada di Indonesia terkait dengan MBG. Kelihatannya mereka sebagai warga negara Indonesia merasa memiliki hak yang sama, dan menginginkan juga program ini dilaksanakan di sana. Mereka sangat antusias," ujarnya.
Di Arab Saudi, ada dua sekolah Indonesia. Satu di Jeddah dengan jumlah siswa sekitar 1.000 orang, satu lagi di Makkah dengan siswa 400 orang.
Dadan menyebut, jika nantinya aspirasi itu disetujui, maka makanan yang akan dihadirkan akan bercita rasa Indonesia dipadukan dengan cita rasa lokal.
"Tentu saja akan disesuaikan dengan lokal, ya. Nanti akan ada mitra yang membangun Satuan Pelayanan Gizinya, dan memberikan makan pagi atau siang di sekolah tersebut disesuaikan dengan ketersediaan bahan baku lokal," ucapnya.
"Jadi kalau ini disetujui, tergantung persetujuannya nanti, ini akan menjadi percontohan pertama," imbuhnya.





