Pertumbuhan Aman, Tapi Inflasi ASEAN+3 Mulai Melonjak

medcom.id
1 jam lalu
Cover Berita
Singapura: Lembaga riset ekonomi regional AMRO memperbarui proyeksi ekonomi kawasan ASEAN+3 dengan mempertahankan perkiraan pertumbuhan di level 4,0% pada 2026, namun merevisi naik inflasi menjadi 1,8% dari sebelumnya 1,4%.
 
Revisi inflasi tersebut mencerminkan dampak berkepanjangan dari ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang masih memicu tekanan pada harga energi dan rantai pasok global.
  Baca juga:  Kinerja Ritel Menguat Berkat Faktor Musiman Ramadan–Idul Fitri, Daya Beli Rawan Tertekan Inflasi
Dalam laporan terbarunya, AMRO menyebut konflik yang berlangsung lebih lama dari perkiraan awal telah menyebabkan lonjakan harga minyak, komoditas, dan biaya transportasi global.
Gangguan pasokan juga mulai terasa pada sejumlah input industri seperti helium, sulfur, dan pupuk, meskipun sejauh ini belum terjadi disrupsi besar di seluruh pasar.
 
Kepala Ekonom AMRO Dong He menyebut ekonomi kawasan masih cukup resilien, ditopang permintaan domestik yang kuat serta ekspor sektor teknologi.

“Pertumbuhan ASEAN+3 tetap tangguh, tetapi tekanan mulai terlihat dari sisi biaya dan inflasi,” ujarnya.
 
AMRO menilai dampak penuh dari konflik Timur Tengah belum sepenuhnya tercermin dalam data ekonomi saat ini. Jika situasi terus berlanjut, tekanan inflasi dan biaya produksi diperkirakan akan semakin meluas ke berbagai sektor industri di kawasan.
 
Negara-negara yang bergantung pada impor energi dan bahan baku diperkirakan menjadi pihak yang paling rentan terhadap dampak lanjutan. Skenario Terburuk: Pertumbuhan Bisa Jatuh ke 2,5% Dalam skenario risiko tinggi, AMRO memperkirakan harga minyak bisa mencapai rata-rata USD 125 per barel pada 2026, jauh di atas asumsi dasar sebesar USD 95.
 
Jika kondisi tersebut terjadi bersamaan dengan gangguan pasokan yang lebih serius, pertumbuhan ASEAN+3 bisa melambat tajam ke 2,5%, sementara inflasi berpotensi naik hingga 3,5%.
 
Angka tersebut, jika terealisasi, akan menjadi inflasi tertinggi di kawasan dalam lebih dari satu dekade (di luar periode pandemi), sekaligus mencatat pertumbuhan ekonomi terlemah sejak Krisis Keuangan Asia.
 
AMRO menekankan pentingnya respons kebijakan yang fleksibel untuk menghadapi ketidakpastian global.
 
Menurut lembaga tersebut, dukungan jangka pendek perlu bersifat terarah dan sementara, sementara strategi jangka panjang harus difokuskan pada penguatan ketahanan energi, stabilitas rantai pasok, serta integrasi ekonomi kawasan ASEAN+3.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(SAW)

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Nyelekit, Sekjen PDIP Hasto Sindir Jokowi yang Ingin Blusukan Keliling Daerah
• 21 jam lalurctiplus.com
thumb
John Herdman Ungkap Alasan Mees Hilgers Tetap Gabung Timnas Indonesia Meski Absen di FIFA Matchday
• 6 jam laluviva.co.id
thumb
Pemkot Cirebon Bakal Setop Gaji ASN yang Absen 10 Hari Tanpa Keterangan
• 16 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Inspiratif! Perjuangan Amirul Ramli Marbot Masjid Kini Jadi Lulusan Doktor UMY
• 13 jam lalurctiplus.com
thumb
Tetangga RI Ini Selangkah Lagi Punya Jalur MRT Bawah Tanah Terpanjang
• 15 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.