EtIndonesia.com. Media oposisi Iran yang berbasis di Inggris, Iran International, mengungkap bahwa dokumen yang diperoleh kelompok peretas menunjukkan sebuah perusahaan Tiongkok membantu Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) memperoleh bahan kimia yang digunakan untuk memproduksi rudal balistik.
Laporan tersebut menyebutkan bahwa dokumen-dokumen itu diperoleh oleh kelompok peretas Prana dan dibagikan kepada Iran International. Inti dari jaringan yang terungkap dalam dokumen tersebut adalah Haokun Energy (昊坤能源). Perusahaan ini selama ini berperan sebagai perantara penjualan minyak Iran kepada kilang-kilang minyak di Tiongkok atas nama Garda Revolusi Iran. Empat tahun lalu, Haokun Energy dijatuhi sanksi oleh Amerika Serikat karena mendanai Pasukan Quds, unit operasi luar negeri Garda Revolusi Iran.
Dokumen yang bocor menunjukkan bahwa Haokun Energy menyebut adanya perjanjian dengan sebuah perusahaan bernama Golden Globe Demir Celik (GDCP) yang berkaitan dengan penyediaan produk kimia untuk peralatan khusus. Dokumen tersebut menyatakan bahwa, demi menjaga kerahasiaan, izin ekspor diterbitkan melalui jalur rahasia.
Dokumen juga menunjukkan bahwa Haokun menyatakan telah mendirikan sebuah perusahaan bernama Mosta untuk memperoleh jaminan bank. Perusahaan tersebut dikendalikan oleh GDCP. Karena alasan yang berkaitan dengan sanksi, tidak ada warga negara Iran yang boleh menjadi anggota dewan direksinya.
Haokun mengklaim bahwa mereka berkoordinasi dengan bea cukai Partai Komunis Tiongkok melalui saluran rahasia dan meminta pihak Iran untuk mencegah kebocoran informasi apa pun.
Haokun juga menyatakan bahwa mereka berencana mengirimkan 2.000 ton natrium klorat dan 10.000 ton natrium perklorat ke Iran melalui GDCP. Natrium perklorat merupakan bahan utama dalam pembuatan bahan bakar rudal padat. Dokumen menunjukkan bahwa jumlah tersebut cukup untuk memproduksi bahan bakar padat yang dibutuhkan sekitar 2.500 rudal balistik. Nilai pengiriman tersebut mencapai 43 juta dolar AS.
Meskipun GDCP terdaftar di Turki, korespondensi email menunjukkan bahwa pengirimnya adalah warga negara Iran bernama Mohammad Reza Sadr. Dalam surat-menyurat tersebut, Haokun mengidentifikasi GDCP sebagai entitas yang berada di bawah Republik Islam Iran. Salah satu email bahkan berupa surat dari Haokun yang ditujukan kepada “Komandan Mohammadzadeh”.
Tokoh tersebut tampaknya adalah Ahmad Mohammadzadeh, mantan Wakil Koordinator Angkatan Laut Garda Revolusi Iran. Menurut laporan, ia merupakan salah satu figur penting dalam Markas Pourjafari, yang menjadi bagian dari jaringan penjualan minyak Garda Revolusi Iran.
Dokumen tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar pendapatan dari penjualan minyak digunakan untuk membeli natrium perklorat dari Tiongkok. Sementara itu, Haokun Energy sebagai perantara transaksi disebut menggunakan penjualan senjata, bahan bakar rudal, dan berbagai komoditas lainnya untuk melunasi utang yang mencapai ratusan juta dolar kepada Garda Revolusi Iran.
Menurut situs resmi Haokun Energy, perusahaan tersebut didirikan pada tahun 2012 dan merupakan perusahaan besar yang bergerak di bidang perdagangan energi dan sumber daya komoditas.
Berdasarkan informasi dari Baidu Baike, perusahaan itu juga terlibat dalam proyek “Jalur Sutra Udara” dalam inisiatif Sabuk dan Jalan (Belt and Road) Partai Komunis Tiongkok, termasuk proyek pembangunan terminal baru Bandara Teheran di Iran.
Sumber : NTDTV.com





