JAKARTA, KOMPAS.TV - Polemik terkait intensitas kunjungan luar negeri Presiden Prabowo Subianto kembali menjadi sorotan publik setelah kritik mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal memicu respons dari pihak Istana.
Menanggapi hal tersebut, Analis Komunikasi Politik Universitas Padjadjaran, Kunto Adi Wibowo, menilai perdebatan ini justru membuka ruang penting terkait transparansi informasi kepada publik mengenai hasil kunjungan kenegaraan.
Kunto menilai, salah satu dampak positif dari kritik yang disampaikan Dino Patti Djalal adalah munculnya informasi yang sebelumnya tidak mudah diakses publik, termasuk soal hasil ekonomi dari kunjungan luar negeri.
“Jadi berkat kritiknya Pak Dino Pati, informasi itu akhirnya keluar. Dan menurut saya itu sesuatu yang bagus,” ujar Kunto dalam program Kompas Petang, KompasTV, Selasa (2/6/2026).
Baca Juga: Tim Patuna Bantu Jemaah Haji Reguler yang Tersesat, Beri Pendampingan hingga Temukan Hotel
Ia merujuk pada pernyataan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya yang menyebut adanya kontribusi investasi lebih dari Rp2 triliun dari hasil lawatan Presiden. Menurutnya, keterbukaan informasi semacam itu penting agar publik dapat menilai secara objektif manfaat dari setiap kunjungan diplomatik.
Soroti Pertanyaan Publik yang Belum Terjawab
Meski demikian, Kunto menilai masih terdapat sejumlah pertanyaan publik yang belum dijawab secara tuntas oleh pemerintah, terutama terkait efektivitas dan frekuensi kunjungan luar negeri Presiden.
Ia menyebut beberapa hal yang masih menjadi perhatian, seperti opsi pertemuan daring (Zoom), serta urgensi kunjungan langsung dibandingkan pertemuan virtual.
Kunto juga menyoroti frekuensi kunjungan Presiden Prabowo ke Paris yang terjadi dalam waktu berdekatan, yakni pada April dan kembali pada Mei.
Penulis : Ade Indra Kusuma Editor : Gading-Persada
Sumber : Kompas TV
- kunjungan presiden
- prabowo subianto
- kunto adi wibowo
- diplomasi luar negeri
- good governance
- universitas padjadjaran





