Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menjadi perhatian masyarakat. Ketika rupiah melemah, harga berbagai barang dan jasa yang bergantung pada bahan baku impor berpotensi meningkat. Kondisi ini turut menambah tekanan terhadap biaya hidup yang dalam beberapa tahun terakhir terus mengalami kenaikan.
Di tengah situasi tersebut, banyak masyarakat mulai mencari cara untuk menjaga kondisi keuangan tetap stabil. Salah satu strategi yang semakin populer adalah frugal living atau gaya hidup hemat. Tren ini berkembang di kalangan Generasi Z, milenial, hingga keluarga kelas menengah sebagai respons terhadap ketidakpastian ekonomi dan meningkatnya kebutuhan hidup.
Lalu, apa sebenarnya frugal living dan bagaimana cara menerapkannya secara tepat tanpa mengorbankan kualitas hidup?
Sebelum memahami cara jalani frugal living, penting untuk mengetahui terlebih dahulu pengertian konsep tersebut. Dilansir dari Chubb Life Indonesia, frugal living merupakan gaya hidup yang berfokus pada penggunaan uang secara bijak dengan mengutamakan kebutuhan dibandingkan keinginan. Konsep ini bukan sekadar mengurangi pengeluaran, tetapi memastikan setiap rupiah digunakan secara efektif untuk mencapai tujuan keuangan jangka panjang.
Banyak orang masih menganggap frugal living identik dengan sikap pelit atau hidup serba kekurangan. Padahal, konsep ini justru menekankan pengeluaran yang lebih terencana sehingga manfaat yang diperoleh sebanding dengan biaya yang dikeluarkan.
Pemilik firma perencana keuangan Finansia Consulting, Eko Endarto, menjelaskan bahwa frugal living berarti menggunakan uang sesuai nilainya atau value for money. Menurutnya, seseorang tidak perlu membayar lebih mahal untuk sesuatu yang manfaatnya tidak sepadan. Dengan langkah tersebut, pengeluaran menjadi lebih efektif sehingga tujuan finansial jangka panjang lebih mudah tercapai.
Dalam beberapa tahun terakhir, frugal living berkembang menjadi strategi pengelolaan keuangan yang banyak dipilih masyarakat untuk memperkuat tabungan, investasi, dan dana darurat di tengah kondisi ekonomi yang tidak menentu.
Fenomena frugal living tidak muncul tanpa alasan. Perubahan kondisi ekonomi membuat masyarakat semakin berhati-hati dalam membelanjakan uang.
Dilansir dari CNA Indonesia, tren frugal living semakin berkembang karena banyak masyarakat mulai menyadari pentingnya memiliki ketahanan finansial. Kenaikan biaya hidup, ketidakpastian ekonomi global, meningkatnya biaya pendidikan, hingga kekhawatiran terhadap risiko pemutusan hubungan kerja membuat masyarakat lebih selektif dalam mengelola pengeluaran.
Fenomena ini bahkan mulai mempengaruhi pola konsumsi masyarakat. Wakil Ketua Komisi V DPR Syaiful Huda pernah menyoroti kecenderungan masyarakat yang lebih memilih menabung dan menunda pengeluaran besar karena menerapkan pola hidup hemat. Menurutnya, banyak masyarakat yang sebenarnya memiliki dana, tetapi memilih menyimpannya sebagai langkah antisipasi menghadapi kondisi ekonomi di masa depan.
Karena itu, cara jalani frugal living kini tidak lagi dipandang sekadar tren media sosial, melainkan strategi adaptasi terhadap perubahan ekonomi yang terjadi.
Menerapkan frugal living tidak harus dilakukan secara ekstrem. Gaya hidup ini dapat dimulai melalui langkah sederhana yang membantu menjaga kesehatan keuangan tanpa mengurangi kualitas hidup secara berlebihan.
1. Menentukan Tujuan Keuangan yang JelasLangkah pertama dalam cara jalani frugal living adalah menetapkan tujuan keuangan yang spesifik. Tujuan tersebut bisa berupa membangun dana darurat, membeli rumah, menyiapkan dana pendidikan, atau mencapai kebebasan finansial.
Ketika tujuan keuangan sudah jelas, setiap pengeluaran akan lebih mudah dievaluasi berdasarkan manfaatnya terhadap target tersebut. Cara ini juga membantu mengurangi kebiasaan membeli barang yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan.
2. Membuat Anggaran dan Mencatat PengeluaranPerencana keuangan Daya Uang, Lolita Setyawati, menyarankan masyarakat untuk mencatat seluruh pengeluaran selama satu bulan guna mengetahui pos mana yang paling banyak menyerap anggaran.
Melalui pencatatan yang detail, seseorang dapat mengidentifikasi kebiasaan konsumsi yang tidak efisien. Setelah itu, anggaran bulanan dapat disusun secara lebih realistis dan sesuai prioritas sehingga pengeluaran menjadi lebih terkendali.
3. Menerapkan Prinsip Menunda PembelianSalah satu teknik yang banyak digunakan adalah menunda pembelian barang yang tidak termasuk kebutuhan mendesak.
Sebelum membeli suatu barang, berikan jeda waktu beberapa hari atau bahkan hingga 30 hari untuk mempertimbangkan kembali manfaatnya. Cara ini efektif mengurangi pembelian impulsif yang sering dipicu promosi, diskon, atau tren media sosial.
Dalam banyak kasus, keinginan membeli suatu barang akan berkurang setelah masa tunggu tersebut sehingga pengeluaran yang tidak perlu dapat dihindari.
4. Mengutamakan Kualitas daripada KuantitasPrinsip ini banyak diterapkan oleh masyarakat Jepang yang dikenal memiliki budaya hidup hemat. Dilansir dari Universitas Stikubank (Unisbank), dalam artikel 5 Cara Frugal Living ala Orang Jepang yang Bisa Membantu Menjadi Kaya, masyarakat Jepang cenderung membeli barang berkualitas tinggi yang tahan lama dibandingkan membeli produk murah yang cepat rusak.
Kebiasaan tersebut membantu mengurangi frekuensi pembelian ulang sehingga pengeluaran menjadi lebih efisien dalam jangka panjang. Pendekatan ini menjadi salah satu strategi yang efektif dalam cara jalani frugal living.
5. Memasak Sendiri dan Mengurangi Makanan Siap SajiPengeluaran makanan sering menjadi salah satu pos terbesar dalam anggaran rumah tangga. Karena itu, memasak sendiri di rumah dapat menjadi solusi untuk mengurangi pengeluaran secara signifikan.
Selain lebih hemat, masak sendiri juga memungkinkan pengaturan kualitas bahan makanan dan asupan nutrisi yang lebih baik. Masyarakat Jepang dikenal menerapkan pola makan sederhana berbasis bahan lokal yang membantu menjaga keseimbangan antara kesehatan dan pengeluaran.
6. Memanfaatkan Transportasi UmumBiaya kepemilikan kendaraan pribadi tidak hanya mencakup bahan bakar, tetapi juga pajak, asuransi, perawatan, dan depresiasi kendaraan. Oleh karena itu, penggunaan transportasi umum dapat menjadi alternatif yang lebih ekonomis. Selain membantu menekan pengeluaran, langkah ini juga berkontribusi terhadap pengurangan kemacetan dan polusi lingkungan.
7. Menghindari Hutang KonsumtifKemudahan akses terhadap layanan paylater, kartu kredit, dan pinjaman digital membuat masyarakat perlu lebih berhati-hati dalam mengelola utang.
Dalam konsep frugal living, utang konsumtif sebaiknya dihindari karena berpotensi membebani kondisi keuangan di masa depan. Penggunaan fasilitas kredit idealnya hanya dilakukan untuk kebutuhan produktif atau keadaan darurat yang benar-benar diperlukan.
8. Menabung dan Berinvestasi Secara DisiplinTujuan utama frugal living bukan hanya mengurangi pengeluaran, tetapi juga meningkatkan kemampuan menabung dan berinvestasi.
Dana yang berhasil dihemat dapat dialokasikan untuk dana darurat, tabungan, maupun instrumen investasi sesuai profil risiko masing-masing. Kebiasaan menabung secara disiplin menjadi salah satu karakteristik masyarakat Jepang yang berhasil menjaga stabilitas keuangan dalam jangka panjang.
Apakah Frugal Living Berdampak pada Ekonomi?Meski memberikan manfaat bagi keuangan individu, tren frugal living juga memunculkan perdebatan dari sisi ekonomi makro.
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira, menilai kecenderungan masyarakat untuk menahan konsumsi dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi. Hal ini karena konsumsi rumah tangga merupakan salah satu penggerak utama perekonomian Indonesia.
Ketika masyarakat lebih banyak menabung dan mengurangi belanja, perputaran uang di sektor konsumsi berpotensi melambat. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat mempengaruhi aktivitas usaha dan minat investasi.
Meski demikian, Bhima menekankan bahwa hidup hemat tetap penting dilakukan selama tidak mengorbankan kebutuhan dasar maupun kesehatan. Dengan kata lain, frugal living perlu diterapkan secara seimbang dan tidak berlebihan.
Di tengah pelemahan rupiah dan meningkatnya biaya hidup, cara jalani frugal living menjadi salah satu strategi yang dapat membantu menjaga kesehatan keuangan. Konsep ini bukan tentang hidup serba kekurangan, melainkan memastikan setiap pengeluaran dilakukan secara bijak dan sesuai kebutuhan.
Dengan menetapkan tujuan keuangan yang jelas, mencatat pengeluaran, menghindari utang konsumtif, serta membangun kebiasaan menabung dan berinvestasi, masyarakat dapat menghadapi berbagai tantangan ekonomi dengan lebih siap.




