PT Kereta Api Indonesia (KAI) menyiapkan program elektrifikasi lintas Cikarang-Cikampek serta pengembangan layanan KRL hingga Sukabumi sebagai bagian dari roadmap transformasi korporasi 2026-2030 untuk meningkatkan kapasitas angkutan penumpang Jabodetabek.
Direktur Utama KAI Bobby Rasyiddin mengatakan jumlah pengguna KRL Jabodetabek saat ini telah mencapai sekitar 1,3 juta penumpang per hari. Seiring meningkatnya kebutuhan mobilitas masyarakat, KAI menargetkan kapasitas layanan dapat meningkat menjadi 1,5 juta hingga 1,6 juta penumpang per hari pada 2030.
"Kami berharap pada tahun 2030 dapat menyiapkan kapasitas angkutan setidaknya 1,4 juta penumpang per hari," ujar Bobby dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi VI DPR RI, Rabu (3/6).
Berdasarkan rencana investasi yang disiapkan perseroan, program elektrifikasi lintas Cikarang-Cikampek membutuhkan anggaran sekitar Rp1,28 triliun. Sementara pengembangan layanan Bogor-Sukabumi menjadi jaringan KRL memerlukan investasi sekitar Rp1,28 triliun.
Renovasi Stasiun JakartaKAI juga mengalokasikan anggaran Rp8,7 triliun untuk pengadaan 30 trainset (TS) baru guna meningkatkan kapasitas layanan komuter di wilayah Jabodetabek.
Perseroan juga bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk mengoperasikan stasiun di kawasan Jakarta International Stadium (JIS) guna mengurangi kemacetan saat berlangsungnya kegiatan berskala besar.
Tak hanya itu, KAI akan melakukan revitalisasi kawasan heritage Stasiun Jakarta Kota serta menyiapkan renovasi total Stasiun Gambir. Menurut Bobby, Stasiun Gambir akan dikembangkan menjadi ikon transportasi nasional yang terintegrasi dengan kawasan Monumen Nasional dan Museum Nasional.
"Kami juga akan melakukan renovasi total Stasiun Gambir. Konsepnya menjadikan kawasan tersebut sebagai stasiun nasional," ujarnya.
Dalam dokumen roadmap transformasi korporasi, KAI juga mencatat bahwa program elektrifikasi Cikarang-Cikampek idealnya diikuti pembangunan jalur ganda (double track) sepanjang 58 kilometer dengan kebutuhan investasi tambahan sekitar Rp10,44 triliun guna mendukung peningkatan kapasitas layanan kereta di koridor timur Jabodetabek.




