Jika mendengar kata merajut, di benak kita pasti terbayang nenek yang sedang membuat produk kain dari segulung benang. Namun, saat ini hobi merajut mulai digemari kaum muda, bahkan anak-anak. Alasan mereka tertarik merajut, antara lain, untuk mengisi waktu luang, tertantang menyelesaikan satu proyek rajutan, bahkan manjadikan hasil rajutan sebagai penghasilan. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa kegiatan merajut juga bermanfaat untuk kesehatan fisik dan mental.
Pada 1823, majalah Penelope dari Belanda menerbitkan pola pertama untuk tiga buah tas rajutan. Mademoiselle Reigo De la Branchardiere menulis pola rajutan pertama- nya dan pada usia 18 tahun (1846) menerbitkan buku pola rajutan yang berjudul Knitting, Crochet, and Netting, yang membuatnya dikenal sebagai pelopor rajutan.
Kegiatan merajut dibawa Belanda ke Indonesia pada masa kolonialisme.
Saat ini akses untuk mempelajari seni merajut sangat mudah didapatkan. Sebagian besar pemula belajar merajut dari media sosial. Selain itu, beberapa orang juga belajar dari komunitas rajut di kota-kota di seluruh Indonesia yang memfasilitasi kebutuhan para pegiat rajut.
Beberapa toko yang menjual alat dan bahan merajut juga membentuk komunitas merajut. Mereka juga mengadakan acara pelatihan merajut atau hanya sekadar pertemuan komunitas di dalam kelas bahkan di luar ruangan. Ada pertemuan yang berbayar, ada juga yang gratis dengan membawa makanan untuk bersama (potluck). Kegiatan tersebut biasa diunggah di media sosial komunitas.
Model rajutan terbaru beserta teknik pembuatannya banyak ditemukan di media sosial. Pola rajutan pun bisa didapatkan baik yang gratis ataupun berbayar.
Mencegah penurunan kognitif
Merajut menstimulasi berbagai bagian otak, termasuk korteks motorik dan lobus frontal, yang membantu menjaga ketajaman mental dan memperlambat demensia.
Melatih motorik halus
Aktivitas ini meningkatkan ketangkasan tangan dan koordinasi mata-tangan, yang baik untuk menjaga sendi jari tetap aktif.
Menurunkan tekanan darah
Menurut sebuah studi tahun 2007 yang dilakukan di Fakultas Kedokteran Harvard, merajut memicu respons relaksasi dan menurunkan detak jantung rata-rata 11 denyut per menit.
Mengatasi insomnia
Gerakan yang santai dan fokus dapat membantu menenangkan pikiran sebelum tidur, sehingga membantu mengatasi insomnia.
Mengelola stres dan kecemasan
Gerakan merajut yang repetitif (berulang) dan berirama dapat memberikan efek menenangkan, mirip dengan meditasi, yang membantu menurunkan detak jantung dan tekanan darah.
Meringankan depresi
Fokus pada pola rajutan mengalihkan pikiran dari kekhawatiran, merangsang pelepasan serotonin yang memperbaiki suasana hati.
Meningkatkan rasa percaya diri
Menyelesaikan proyek rajutan (seperti syal atau tas) memberikan rasa pencapaian yang meningkatkan rasa percaya diri. 57% perajut melaporkan bahwa merajut membuat mereka lebih percaya diri untuk mencoba keterampilan baru.
Terlalu lama merajut sering dapat berdampak:
• Carpal tunnel syndrome (CTS) kesemutan, mati rasa, atau nyeri pada pergelangan tangan dan jari akibat gerakan berulang.
• Nyeri leher dan bahu, otot kaku karena terlalu lama menunduk dan posisi tubuh yang statis.
• Ketegangan mata, mata lelah, kering, atau pandangan kabur akibat fokus pada detail kecil dalam pencahayaan kurang.
Upaya untuk mencegah dampak di atas lakukan jeda setiap 30 sampai 60 menit, lakukan peregangan ringan, dan pastikan pencahayaan ruangan optimal.
Geser untuk melihat jenis benang rajut
Berdasarkan jarum yang digunakan, teknik merajut dibedakan menjadi dua, yaitu knitting (merajut dengan dua jarum) dan crochet (merajut dengan satu jarum berkait). Berikut ini beberapa perbedaan keduanya:
Geser untuk melihat perbedaan knitting dan crochet





