JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin menyebut ada deep state sebagai musuh dalam selimut yang perlu diwaspadai. Apa itu deep state?
“Istilah deep state yang disampaikan bukan merujuk pada kelompok atau institusi tertentu, melainkan sebagai istilah konseptual untuk menggambarkan adanya pihak-pihak di dalam sistem yang dapat menghambat penguatan birokrasi, melemahkan disiplin, dan profesionalisme, dan semangat kebangsaan dari dalam,” kata Kepala Biro Informasi Pertahanan Kemhan RI, Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait, kepada Kompas.com, Rabu (3/6/2026).
Baca juga: Menhan: Waspada! Ada Deep State yang Jadi Musuh dalam Selimut
Menhan berbicara soal kewaspadaan terhadap deep state tersebut di depan Komponen Cadangan (Komcad) Aparatur Sipil Negara (ASN).
“Dalam konteks pengarahan tersebut, Menhan menekankan pentingnya kewaspadaan ASN terhadap ancaman internal maupun eksternal yang dapat mengganggu efektivitas pemerintahan dan ketahanan negara,” kata Rico.
Pancasila dan UUD 1945 harus selalu menjadi kompas ideologi Komcad ASN.
Para ASN tersebut perlu senantiasa berpegang pada konstitusi, ideologi, nasionalisme dan patriotisme untuk menghadapi musuh dalam selimut.
Apa itu musuh dalam selimut?
“Yang dimaksud musuh dalam selimut dalam konteks ini adalah segala bentuk perilaku, pengaruh, atau kepentingan yang dapat melemahkan integritas birokrasi, menggerus loyalitas kepada negara, atau menghambat terwujudnya birokrasi yang kuat, bersih, dan profesional,” kata Rico.
Baca juga: Menteri Dody Ungkap Deep State di Kementerian PU Libatkan Orang Besar
Menhan Sjafrie tidak mengarahkan para Komcad itu untuk mencari tahu identitas deep state atau musuh dalam selimut tersebut, namun mewaspadainya.
“Dengan demikian, pesan utama Menhan Sjafrie bukanlah mengidentifikasi pihak tertentu, melainkan mengingatkan ASN agar selalu waspada terhadap berbagai pengaruh yang dapat menjauhkan aparatur negara dari nilai-nilai dasar kebangsaan, disiplin, integritas, dan pengabdian kepada kepentingan nasional,” kata dia.
Terlepas dari penjelasan Kemhan RI di atas, dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember Andang Subaharianto pernah membahas soal deep state di kolom Kompas.com.
Kata Andang, “deep state” atau negara bayanga/negara dalam negara merujuk pada jaringan kekuasaan tersembunyi, terdiri atas elemen-elemen di dalam pemerintahan—seperti militer, kepolisian, intelijen, atau birokrat senior—yang beroperasi independen di luar otoritas politik resmi.
Baca juga: Deep State di Pemerintahan Prabowo
Mereka memiliki kekuatan besar untuk membentuk kebijakan dalam negeri maupun luar negeri. Mereka memiliki agenda sendiri. Bahkan, mereka mampu melawan atau menghambat kebijakan resmi, dan seringkali tidak akuntabel kepada publik.
Birokrasi dinilai sebagai bagian penting dari “deep state” karena birokrasi dibutuhkan dalam implementasi kebijakan pemerintah.
Kata Sjafrie sebelumnyaMenhan Sjafrie Sjamsoeddin menyebut ada musuh dalam selimut yang dia sebut sebagai deep state yang tidak menyukai birokrasi di Indonesia kuat.
“Orang-orang di luar Indonesia, bahkan juga ada orang-orang di dalam Indonesia yang kita sebut sebagai deep state. Saya pernah cerita dulu ada musuh dalam selimut, itu adalah tidak suka kalau birokrasi di Indonesia itu kuat. Padahal kamu adalah dilatih untuk supaya birokrasi kuat dan menjadi teladan,” kata Sjafrie, tadi.
Hal itu disampaikan Sjafrie saat memberikan pengarahan kepada 1.764 peserta Latsarmil Komcad ASN di Artha Hanggar Indonesia, Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur.
“Setelah kamu diberi bekal, kamu diberi dasar-dasar bela negara, ini adalah modal kamu untuk waspada. Kenapa harus waspada? Birokrat itu adalah milik negara. Orang-orang di luar tidak ingin birokrasi di Indonesia kuat,” kata Sjafrie.





